
"Kamu mau masak apa?" tanya Gandhi.
Yunda menoleh sejenak ke belakang lalu kembali sibuk menyiapkan bahan masakan.
"Masak ayam goreng bawang putih, Mas." jawab Yunda.
"Pasti enak nih." balas Gandhi.
"Aku gak yakin bakalan cocok di lidah Mas Gandhi." jawab Yunda.
"Pasti cocok lah, masa gak cocok sih. Aku ini bukan tipe orang yang pemilih makanan kok. Kamu bikinin nugget tempe aja aku pasti makan." jawab Gandhi.
Yunda memanyunkan bibirnya mendengar jawaban Gandhi.
"Jadi apa nih yang bisa aku bantu?" tanya Gandhi.
"Gak usah, Mas Gandhi duduk aja, aku bisa sendiri kok." jawab Yunda.
"Tapi aku pengen bantu kamu biar cepet Yun." ucap Gandhi.
"Kalau gitu Mas Gandhi potong ayamnya aja dulu." jawab Yunda.
Gandhi pun mengambil daging ayam yang sebenarnya sudah di potong tapi masih dalam ukuran besar.
"Ini kan udah di potong Yun." ucap Gandhi.
"Bagi dua lagi itu Mas." jawab Yunda.
"Oh." balas Gandhi lalu membagi dua daging ayam yang sudah di potong itu.
__ADS_1
Ayam sudah di marinasi dan siap untuk di goreng.
"Sini biar aku yang goreng." ucap Gandhi.
"Gak usah Mas, biar aku aja." tolak Yunda.
"Aku aja." balas Gandhi.
"Aku aja Mas." balas Yunda.
"Sini, biar aku aja. Kamu bikin sambel-nya aja." balas Gandhi sambil mengambil mangkok berisi ayam yang sudah di marinasi.
Karena Gandhi memaksa, Yunda pun mengalah. Dia membiarkan Gandhi menggoreng ayam sedangkan Yunda membuat sambel.
Saat ayam di masukkan ke dalam wajan berisi minyak panas, minyak pun meletup-letup hingga mengenai tangan Gandhi.
"Arrrgh..." Pekik Gandhi kesakitan karena kecipratan minyak panas.
"Kenapa Mas?" tanya Yunda sambil berjalan mendekati Gandhi.
"Tangan aku kecipratan minyak." jawab Gandhi.
"Tuh kan udah aku bilang aku aja yang goreng, Mas ngeyel sih." omel Yunda.
"Duduk dulu sini." Yunda pun menggiring Gandhi duduk di kursi makan.
Sebelum mengambil obat Yunda mengecilkan api kompor terlebih dulu setelah itu berjalan menuju kamarnya untuk mengambil odol yang ada dalam kamar mandi didalam kamar Yunda lalu kembali ke ruang makan.
"Itu odol untuk apa?" tanya Gandhi heran.
__ADS_1
"Yah buat ngoles tangan Mas Gandhi yang kecipratan minyak lah." jawab Yunda lalu menarik tangan Gandhi.
"Kok pake odol? Itu loh Yun di kotak P3K lengkap obat-obatan." tanya Gandhi.
"Di kampung aku kalau kena minyak yah obatnya di olesin odol aja." jawab Yunda.
"Masa sih? Baru tau aku." tanya Gandhi sangsi.
"Udah gak usah banyak protes, di jamin gak bakal melepuh deh." jawab Yunda.
Gandhi pun diam tak berani banyak tanya lagi dan mempercayakan tangannya di obati Yunda dengan cara-nya.
Saat Yunda sedang mengolesi minyak di tangan Gandhi, mata Gandhi tak henti-hentinya menatap wajah Yunda yang sedang serius mengobati tangannya.
"Udah." ucap Yunda.
Gandhi masih diam sambil menatap wajah Yunda. Karena tidak mendapat respon dari Gandhi, Yunda pun melihat wajah Gandhi yang sedang menatapnya.
Mereka pun saling menatap. Tak lama mata Gandhi turun menatap bibir Yunda. Bibir yang sejak tadi siang memanggil-manggil minta di vacum oleh bibir Gandhi.
Perlahan Gandhi mendekatkan wajahnya ke wajah Yunda. Seperti sedang terhipnotis, Yunda juga diam saja saat Gandhi mendekatkan wajahnya ke wajah Yunda.
Saat bibir hanya berjarak lima centi lagi tiba-tiba kesadaran Yunda kembali.
"Astaga ayamnya!" ucap Yunda sambil berdiri dari duduknya lalu cepat-cepat berjalan mendekati kompor.
Gandhi memejamkan matanya sambil menghela nafasnya kasar.
Shiiiit! Gagal lagi! umpat Gandhi dalam hati.
__ADS_1
💋💋💋
Bersambung...