
Satu hari berlalu setelah Ratna menyebar fitnah tentang Yunda hasil dari fitnah yang Ratna sebar di pasar, Yunda menjadi bahan gosip di kampung halamannya. Dan imbasnya para tetangga menatap sinis Bu Ambar dan Pak Yoto.
Kalau Pak Yoto tidak terlalu merasakan tatapan sinis para tetangga, karena dia sibuk di kebun, tapi tidak dengan Bu Ambar yang merasakan sekali tatapan sinis para tetangga. Saat Bu Ambar belanja di warung, ibu-ibu yang juga sedang berbelanja di warung berbisik-bisik sambil menatap Bu Ambar. Meski mereka berbisik, tapi Bu Ambar bisa sedikit mendengar kalau ibu-ibu julid itu sedang menggosipi Yunda.
Pukul 19.30
Bu Ambar, Pak Yoto, Arfan dan Akmal baru selesai makan malam. Arfan dan Akmal langsung masuk kamar untuk belajar sedangkan Bu Ambar dan Pak Yoto bersantai di ruang tamu sekaligus ruang televisi.
"Pak, Bapak merasa gak kalau para tetangga ngeliat kita aneh?" tanya Bu Ambar.
"Aneh kenapa? Bapak gak ngerasa apa-apa kok." jawab Pak Yoto.
"Ya iyalah kan Bapak di kebun udah gitu di kebun semuanya bapak-bapak, kalau bapak-bapak kan mereka gak terlalu ambil pusing makanya Bapak gak ngerasa apa-apa. Nah Ibu, Ibu merasa banget Pak orang-orang di kampung ini ngeliat Ibu sinis banget. Tadi waktu Ibu ke warung, ibu-ibu yang ada di warung pada bisik-bisik, yang Ibu denger mereka lagi bicarain Yunda. Terus waktu Ibu jalan dari rumah mau ke kebun Pak Haidar, semua mata natap Ibu sinis." ucap Bu Ambar.
"Kira-kira mereka gosipin Yunda apa yah Pak?" tanya Bu Ambar.
"Paling juga tentang kerjaannya Yunda. Kan sejak Yunda pergi ke Jakarta, orang-orang di kampung ini udah gosipin Yunda yang aneh-aneh. Tapi kan Yunda sudah bilang bahkan sudah sampai bersumpah kalau dia disana kerja halal, jadi Ibu gak usah lah ambil pusing soal omongan tetangga. Kita harus percaya sama Yunda." jawab Pak Yoto.
"Iya sih Pak, tapi-"
Tok... Tok... Tok...
__ADS_1
Tiba-tiba pintu rumah terketuk.
Bu Ambar langsung berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu lalu membuka pintu.
"Eh Pak Kades." sapa Bu Ambar.
Pak Yoto yang melihat Pak Kades dan lima orang warga, terdiri dari tiga ibu-ibu dan dua bapak-bapak pun berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati pintu.
"Selamat malam Bu Ambar, Pak Yoto." sapa Pak Kades.
"Selamat malam juga Pak Kades. Mari masuk Pak." balas Pak Yoto.
Bu Ambar pun membuka pintu lebar-lebar untuk memberi jalan agar Pak Kades dan lima warga itu bis masuk kedalam rumah mereka yang kecil.
Pak Kades dan lima warga itupun duduk.
"Tunggu sebentar yah Pak, saya buatkan minum dulu." ucap Bu Ambar.
"Jangan Bu, jangan. Gak usah repot-repot, kami juga gak lama kok." tolak Pak Kades.
"Sini Bu duduk, ada yang mau kami tanyakan dengan Ibu dan Bapak." kata Pak Kades lagi.
__ADS_1
Pak Yoto dan Bu Ambar saling pandang. Perasaan Bu Ambar sudah mulai tidak enak. Mau tidak mau Bu Ambar duduk di sebelah Pak Yoto.
"Sebelumnya kami minta maaf kalau kedatangan kami mengganggu Pak Yoto dan Bu Ambar." ucap Pak Kades membuka pembicaraan.
"Gak pa-pa Pak, kami juga belum tidur kok." jawab Pak Yoto.
"Jadi begini Pak Yoto, Bu Ambar, kedatangan saya dan bapak-bapak dan ibu-ibu ini karena bapak-bapak dan ibu-ibu ini mendapat berita kalau di Jakarta anak Bapak dan Ibu, Yunda kerja gak bener di Jakarta. Beritanya kalau Yunda jadi simpanan bos-bos disana." ucap Pak Kades.
"Apa Yunda ada pernah ngomong sama Bapak dan Ibu tentang pekerjaannya disana?" tanya Pak Kades.
"Yunda tidak pernah bilang apa-apa, tapi kami pernah bertanya sama dia waktu dia kirim uang sama kami, Yunda bilang dia kerja halal kok Pak disana bukan seperti gosip yang beredar." jawab Pak Yoto.
"Iya Pak, bahkan saya sampe menyuruh Yunda bersumpah kalau memang dia kerja halal disana dan dia mau kok bahkan dia bersumpah demi anaknya." sahut Bu Ambar.
"Masalahnya ini bukan sekedar gosip Bu, kami punya buktinya!" ucap salah satu warga.
"Bukti? Bukti apa?" tanya Bu Ambar.
Salah seorang warga itu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Yunda dan Gandhi pada Bu Ambar dan Pak Yoto.
💋💋💋
__ADS_1
Bersambung...