
The Ritz Residence.
Kini Gandhi sudah sampai di apartemennya yang ditempati Yunda. Setelah mengantar Gandhi, Bayu kembali ke kantor.
Tanpa menekan bel, Gandhi langsung saja membuka pintu apartemen lalu berjalan menuju ruang tengah.
Sesampainya di ruang tengah, hanya ada Reesha dan dua pengasuhnya, tidak ada Yunda disana.
"Selamat siang Pak Gandhi." sapa Sus Nur.
"Siang juga Sus." jawab Gandhi sambil mendekati Reesha yang sedang main sendiri di bouncer-nya.
"Halo cantik." Gandhi menyapa Reesha dulu sebelum mencari Mamanya Reesha.
"Reesha baik kan hari ini, Sus?" tanya Gandhi.
"Baik banget Pak." jawab Sus Indah.
"Bagus deh." balas Gandhi.
"Oh iya Ibu-nya Reesha mana?" tanya Gandhi.
"Bu Yunda ada di kamar, Pak." jawab Sus Nur.
"Dari pulang tadi?" tanya Gandhi.
"Iya Pak. Kayaknya Bu Yunda sakit. Tadi pas nyampe langsung masuk kamar, terus minta diambilkan paracetamol, habis itu belum keluar-keluar dari dalam kamar." jawab Sus Nur.
"Dia gak ada cerita apa-apa sama Sus berdua?" tanya Gandhi.
"Gak ada Pak. Cuma saya lihat tangannya Bu Yunda kayak gemetaran gitu. Menggigil kali yah Pak." jawab Sus Nur.
"Ya mungkin." jawab Gandhi. Padahal dalam hatinya Gandhi yakin tangan Yunda yang gemetaran itu bukan karena menggigil melainkan karena ketakutan.
"Ya uda saya lihat Ibu-nya Reesha dulu yah." ucap Gandhi.
__ADS_1
Sus Nur dan Sus Indah mengganggukkan kepalanya. Setahu mereka Yunda dan Gandhi itu adalah saudara.
Gandhi pun meninggalkan Reesha dan dua pengasuhnya dan berjalan menuju kamar Yunda.
Tok... Tok...
Sebelum membuka pintu, Gandhi mengetuk pintu terlebih dulu. Karena tak ada jawaban dari dalam, Gandhi pun mencoba memutar handle pintu dan ternyata pintu terbuka.
Gandhi membuka pintu perlahan dan mengintip sedang apa Yunda di dalam. Ternyata Yunda sedang tidur dengan posisi membelakangi pintu kamar.
Entah sopan atau tidak, Gandhi tidak peduli, ia tetap masuk ke dalam kamar untuk melihat kondisi Yunda. Tak lupa Gandhi menutup lagi pintu kamar.
Sesampainya di samping tempat tidur, Gandhi sengaja tidak membangunkan Yunda. Ia memilih untuk duduk dan menunggu Yunda sampai bangun sendiri. Dari raut wajah Yunda sekalipun Yunda sedang tidur, Gandhi bisa melihat kalau Yunda sedang tidak baik-baik saja.
Sepuluh menit kemudian.
Kriiing...
Tiba-tiba ponsel Gandhi berdering. Suara dering yang sangat keras berhasil membangunkan Yunda dari tidurnya.
"Mas Gandhi." lirih Yunda dengan suara serak khas bangun tidur.
"Gimana badan kamu, udah enakan?" tanya Gandhi.
Yunda menganggukkan kepalanya sambil berusaha mendudukkan badannya.
"Mas Gandhi dari tadi disini?" tanya Yunda.
"Baru aja sih." jawab Gandhi.
"Oh. Oh iya gimana meeting dengan Tuan Maliq, lancar?" tanya Yunda.
"Lancar." jawab Gandhi.
"Oh... baguslah." balas Yunda.
__ADS_1
"Yun.."
"Iya Mas."
"Gak ada yang mau kamu ceritain sama aku?" tanya Gandhi.
"Tentang apa?" tanya Yunda balik.
"Gak tau. Aku cuma nunggu kejujuran mu aja. Kalau kamu gak jujur sama aku, itu berarti kamu belum percaya sama aku." jawab Gandhi.
Yunda tersenyum kecut. Dia paham arah pembicaraan Gandhi.
"Maksud Mas Gandhi apaan sih?" tanya Yunda masih pura-pura tidak mengerti.
"Ya udah kalau gak mau jujur. Aku pulang aja kalau gitu. Ternyata selama ini sebegitu gak berarti apa-apanya aku buat kamu." ucap Gandhi sambil berdiri dari duduknya.
"Mas, tunggu." Yunda langsung menarik tangan Gandhi saat Gandhi baru memutar tubuhnya.
"Apa?" tanya Gandhi dengan wajah datar.
"Maaf, Mas bukan aku gak percaya sama Mas Gandhi hanya saja, aku gak mau terus-terusan merepotkan Mas Gandhi." ucap Yunda.
Gandhi tersenyum sinis.
"Merepotkan kamu bilang? Harus berapa kali sih aku bilang sama kamu, Yun, aku sama sekali gak pernah merasa kamu repotkan. Bagi aku, kamu dan Reesha itu prioritas aku." ucap Gandhi.
"Mas..."
"Aku harus gimana sih Yun ngasih tau kamu kalau melakukan ini semua ke kamu dan Reesha itu tulus karena aku sayang sama kalian berdua." kata Gandhi lagi.
"Kamu tau waktu Pak Qodir bilang kamu singgah kerumah sakit, aku tuh khawatir banget kalau sakit kamu itu serius, tapi setelah Pak Qodir bilang rumah sakitnya dimana, aku langsung tau apa tujuan kamu kesana. Dan setelah Pak Qodir bilang gestur tubuh kamu kayak orang ketakutan, aku yakin ada yang gak beres sama kamu, makanya aku langsung kesini. Aku sebegitu khawatirnya sama kamu, Yun, tapi kamu malah mau sembunyiin masalah ini dari aku. Apa segitu gak percayanya kamu sama aku? Atau jangan-jangan kamu nyembunyiin masalah ini dari aku karena kamu masih cinta sama mantan suami kamu itu, iya?" Sangking kesalnya, Gandhi meluapkan isi hatinya.
Sebenarnya Gandhi bukan kesal dengan Yunda yang tidak mau jujur, dia malah kesal dengan dirinya sendiri karena tidak peka saat Yunda minta izin pulang hingga Yunda menghadapi mantan suaminya yang toxic itu sendirian. Sebagai laki-laki yang sangat ingin menjadi pelindung untuk Yunda dan Reesha, Gandhi sudah merasa gagal.
💋💋💋
__ADS_1
Bersambung...