Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang

Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang
DSDKDSO BAB 93


__ADS_3

Melihat Yunda diam, hasrat kelaki-lakian Gandhi menjadi bangun dan meronta-ronta. Gandhi menurunkan pandangannya dari yang tadinya melihat mata Yunda, kini menjadi melihat bibir Yunda. Bibir yang sudah dua kali gagal dia vacum, mudah-mudahan kali ini keberuntungan berpihak pada Gandhi agar dia berhasil mem-vacum bibir Yunda.


Melihat wajah Gandhi semakin mendekat, mata Yunda ikut-ikutan salah fokus melihat bibir Gandhi. Entah kenapa mata itu terpejam begitu saja.


Cup. Bibir Gandhi akhirnya berhasil mendarat mulus di bibir Yunda. Gandhi melirik mata Yunda yang baru dia sadari sudah terpejam. Melihat mata Yunda sudah terpejam, Gandhi seperti mendapat lampu hijau dari Yunda untuk mem-vacum bibir Yunda.


Gandhi pun mulai melu.mat lembut bibir manis itu. Yunda yang awalnya diam saja tak perlu menunggu lama pun membalas lu.matan bibir Gandhi.


Lu.matan yang tadinya lembut semakin lama semakin kasar, penuh gairah dan menuntut lebih. Bukan hanya bibir yang saling mengunyah, lidah pun ikut saling membelit.


Merasa persediaan oksigen dalam dada semakin menipis, Gandhi pun melepas vacum-an bibirnya dari bibir Yunda dan beralih memberi sengatan-sengatan kenikmatan mulai dari telinga kemudian leher Yunda.


Entah karena gemas atau memang nepsong yang sudah di ubun-ubun, Gandhi sampai meninggalkan stempel bibir di leher Yunda, bukan hanya satu melainkan beberapa di leher kanan dan kiri.


Yunda yang sudah terbawa suasana tidak sadar kalau sekarang Gandhi sedang membuat stempel bibir di lehernya, dia hanya memejamkan matanya menikmati apa yang sedang Gandhi lakukan sambil tubuhnya menggeliat-geliat seperti ulat bulu tapi dengan mulut yang di tutup rapat-rapat agar suara ah ih uh eh oh tidak keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Tangan Gandhi juga sudah tidak bisa lagi di kontrol untuk tidak kelayapan kemana-mana. Tangan yang sudah begitu merindukan kekenyalan squishy langsung merayap ke balik hoodie yang Yunda pakai. Ternyata di balik hoodie itu masih ada piyama lagi.


Saat tangan Gandhi mulai merayap, seketika tubuh Yunda yang tadi menggeliat-geliat langsung mematung, matanya terbuka lebar, rahangnya mengeras dan tangannya mere.mas sprei.


Tiba-tiba saja Yunda teringat akan perlakuan kasar Rio disaat dirinya masih nifas hingga membuat jahitannya merembes dan infeksi.


Merasakan tubuh Yunda tak lagi menggeliat seperti orang yang sedang menikmati sengatan kenikmatan, sontak Gandhi pun berhenti memberi sengatan kenikmatan di leher Yunda dan melihat wajah Yunda yang pucat.


"Kenapa? Kamu belum siap?" tanya Gandhi. Meski hasrat kelaki-lakian Gandhi sudah di ubun-ubun tapi Gandhi harus tetap meminta persetujuan Yunda, karena berhubungan suami-istri itu harus ada persetujan dari keduanya, bukan hanya si istri atau si suami saja yang menginginkannya.


"Siap kok Mas. Teruskan saja." jawab Yunda yang tidak mau mengecewakan Gandhi walau harus bertarung dengan trauma-nya.


Bukannya melanjutkan cumbuannya, Gandhi malah menjauhkan tubuhnya dari Yunda.


"Aku tau kamu belum siap, jadi gak usah memaksakan diri." ucap Gandhi.

__ADS_1


"Aku siap Mas. Lakukan lah." ucap Yunda berusaha meyakinkan Gandhi.


Gandhi menggelengkan kepalanya.


"Masih ada hari esok Yun. Aku bisa nunggu kamu sampe bener-bener siap kok." ucap Gandhi lalu...


Cup. Mengecup kening Yunda kemudian beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi, tak lupa sebelum masuk ke kamar mandi Gandhi menurunkan suhu ruangan agar tidak panas lalu mengambil pakaian yang sudah disiapkan Yunda, setelah itu barulah Gandhi masuk ke dalam kamar mandi untuk mendinginkan mesinnya yang sudah panas bahkan sudah ngebul dan siap meledak.


Setelah Gandhi masuk kedalam kamar mandi, Yunda menghela nafasnya kasar. Dia kecewa dengan dirinya sendiri karena tidak bisa melayani suaminya dengan baik karena trauma-nya.


"Maafin aku Mas. Aku janji akan segera mengatasi trauma ku agar aku bisa melayani mu dengan baik." lirih Yunda.


Sedangkan di dalam kamar mandi, Gandhi sedang berusaha menenangkan Mas Gagah yang sedang tantrum karena tidak jadi jalan-jalan menyusuri lembah.


"Huh... lama banget lagi nih muntahnya!! Kalau tau begitu kemaren gue gak usah ganti oli dulu deh, jadi pegel kan tangan gue sekarang." dumel Gandhi sambil memijat Mas Gagah sampai Mas Gagah gumoh.

__ADS_1


💋💋💋


Bersambung...


__ADS_2