
Setelah melihat-lihat tempat tinggal orangtua Yunda, Gandhi dan Yunda pamit pulang ke Jakarta. Sebenarnya Gandhi dan Yunda ingin pulang besok, tapi Bayu memberi kabar ada klien dari luar negri yang ingin bertemu dengan Gandhi malam ini. Mau tidak mau Gandhi dan Yunda pun ikut pulang dengan Bayu dan pengacara Batara.
"Mas Gandhi kebiasaan deh kalau mau beli apa-apa gak bilang-bilang dulu sama aku. Waktu itu beliin perlengkapan untuk Reesha sampai jutaan sekarang beliin orangtua aku tempat tinggal juga gak bilang apa-apa. Padahal ruko itu kan gak murah Mas." omel Yunda.
Kini Gandhi dan Yunda sedanf dalam perjalanan menuju bandara.
"Kenapa sih Yun kamu suka perhitungan gitu, kan aku udah bilang uang aku banyak, sangking banyaknya aku bingung gimana cara ngabisinnya. Sekalipun aku mengeluarkan uang banyak untuk beli orangtua kamu tempat tinggal, paling dua tiga hari lagi keganti. Udahlah gak usah mempermasalahkan hal yang gak penting." balas Gandhi.
"Lagian aku beliin orangtua kamu ruko disitu sekaligus usaha biar orangtua kamu pergi dari kampung toxic itu, biar orangtua kamu bisa berpikir maju. Kadang yang menghambat pikiran seseorang untuk maju yah karena takut dengan asumsi orang sekitar." ucap Gandhi.
"Kalau soal toko kelontong itu, sengaja memamg aku buatkan karena aku gak mau orangtua kamu bergantung sama kita, aku gak mau sampe orangtua kamu mikir karena udah punya menantu kaya, terus jadi ngandelin kiriman bulanan. Ya, walaupun pasti bakal aku kirim, tapi aku mau mereka harus tetap berusaha, jadi aku akan kirim paling tiga bulan sekali." kata Gandhi lagi.
"Makasih yah Mas sudah begitu perhatian dengan keluarga ku." hanya itu yang bisa Yunda katakan pada Gandhi.
__ADS_1
"Udah seharusnya Yun. Jadi mulai sekarang gaji kamu, simpan baik-baik. Uang bulanan yang aku kasih ke kamu juga kamu pakai untuk kamu sendiri, gak usah pake kirim ke orangtua kamu atau untuk Reesha. Sekarang kamu dan Reesha adalah tanggung jawab kamu. Dan satu lagi, fokus saja menghilangkan trauma mu." balas Gandhi dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Yunda.
💋💋💋
Jakarta.
Sesampainya di Jakarta, Gandhi langsung pergi ke kantor, sedangkan Yunda lanjut ke apartemen karena Gandhi meminta Yunda untuk mengemasi barang-barangnya, niatnya Gandhi ingin membawa Yunda dan Reesha tinggal di rumahnya bukan di apartemen lagi.
Bagitu Yunda sampai di apartemen, Salsa dan Zola pun pulang.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Gandhi belum pulang, sedangkan Reesha sudah tidur.
"Mas Gandhi mana sih? Udah jam segini kok belum pulang?" gumam Yunda sambil bolak-balik melihat jam di ponselnya.
__ADS_1
Saat sedang gelisah memikirkan Gandhi yang belum pulang juga, tiba-tiba saja Yunda teringat kembali akan semua pengorbanan Gandhi untuknya selama ini.
"Mas Gandhi udah banyak berkorban buat aku, Reesha, dan keluarga aku, rasanya gak adil kalau aku harus membuat Mas Gandhi menunggu lebih lama. Aku harus memberikan hak-nya Mas Gandhi." gumam Yunda.
Yunda pun berdiri dari duduknya di ruang tengah lalu berjalan menuju kamarnya lalu mengobrak-abrik lemarinya untuk mencari pakaian yang seksi yang bisa membangkitkan gairah kelaki-lakian Gandhi.
Setelah mengubek-ubek lemari, di dapatlah satu daster berbahan satin dengan tali yang berukuran jari telunjuk, satu-satunya daster yang cukup seksi yang dia miliki sebelum menikah dengan Rio. Setelah menikah dengan Rio, Yunda tidak pernah memakai daster itu karena malu tapi malam ini demi Gandhi, Yunda rela mamakai daster yang jika dibandingkan dengan lingerie, jelas masih kalah jauh seksi.
"Pake ini aja kali yah." gumam Yunda.
Tak perlu berpikir lama, Yunda pun mengganti pakaiannya dengan daster yang dia temukan lalu keluar dari kamarnya dan pindah ke kamar atas. Maklum saja di sebelah kamar Yunda, kamar pengasuh Reesha.
💋💋💋
__ADS_1
Bersambung...