Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang

Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang
DSDKDSO BAB 128


__ADS_3

Pukul 23.00


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam waktu Belanda. Disaat teman-teman Salsa yang menemani Salsa dalam kamar sudah pada tidur, Salsa masih belum bisa memejamkan matanya.


Entah kenapa pikirannya melayang kemana-mana. Apalagi, tadi sore tepatnya pukul lima sore, Gandhi menghubunginya. Gandhi menceritakan kalau di Jakarta dirinya dan Yunda sudah melegalkan pernikahan mereka dan saat Gandhi menelpon tadi, mereka baru selesai resepsi. Mendengar itu, Salsa turut bahagia dan lega karena akhirnya mantan suaminya mendapatkan kebahagiaannya.


Bukan hanya menceritakan soal pernikahan mereka. Tapi Gandhi juga menceritakan tentang masalah di perusahaan dimana Papa Alan membatalkan kerja samanya dengan perusahaan papa-nya yang berimbas pada banyak investor yang ikut-ikutan batal berinvestasi pada proyek baru Papa Ghafar.


Mendengar itu, Salsa pun jadi berspekulasi kalau itu adalah ulah Papa-nya, karena itulah Salsa jadi kepikiran dengan nasib Gandhi dan Yunda kedepannya, terlebih lagi nasib Reesha. Kasihan anak sekecil itu harus merasakan penderitaan dari lahir, sudah tidak dianggap oleh ayah kandungnya, dihina sebagai anak pembawa sial, tapi baru juga mendapatkan kebahagiaannya, eh... sudah harus di terpa banyak masalah lagi yang membuat orangtuanya harus berjuang lagi dari nol.


Karena pikiran yang mengganggu itu, Salsa pun keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar Papa-nya. Hanya malam ini lah kesempatannya memohon pada sang Papa untuk tidak mencampuri urusan bisnis dengan urusan pribadi, karena setelah acara pernikahan besok, Papa-nya akan langsung pergi ke Swiss dan mungkin akan tinggal lama disana.


Salsa menekan bel pintu kamar hotel Papa Alan.


Tak perlu menunggu lama pintu pun terbuka.


"Papa sudah tidur?" tanya Salsa pada bodyguard yang membukakan pintu.


"Sepertinya belum Nona, karena Tuan Alan baru saja masuk ke dalam kamar." jawab bodyguard itu.


Salsa pun masuk kedalam kamar dan langsung berjalan menuju ruang tidur Papa Alan, melewati asisten Papa Alan dan dua bodyguard yang nampaknya juga baru mau tidur di ruang tamu.

__ADS_1


Ceklek. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Salsa membuka pintu ruang tidur.


Begitu Salsa membuka pintu, Salsa melihat Papa-nya sudah berbaring diatas tempat tidur.


"Sedang apa kamu disini?" tanya Papa Alan yang baru mau memejamkan matanya.


"Salsa gak bisa tidur, makanya Salsa kesini." jawab Salsa sambil berjalan mendekati tempat tidur.


Melihat Salsa mendekat, Papa Alan pun cepat-cepat mengubah posisinya menjadi duduk dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dan Salsa pun duduk di pinggir tempat tidur.


"Ada apa? Apa ada yang kamu pikirkan?" tanya Papa Alan.


"Tadi sore Gandhi nelpon Salsa. Dia bilang, dia sudah melagalkan pernikahannya dengan Yunda." jawab Salsa.


"Gandhi juga cerita kalau Papa batal bekerja sama dengan Papa Ghafar di proyek terbaru Papa Ghafar. Apa Papa membatalkannya karena Salsa dan Gandhi sudah bercerai?" tanya Salsa.


"Kamu mau Papa jawab jujur?" tanya Papa Alan balik dan di jawab dengan anggukkan kepala oleh Salsa.


"Iya. Karena dari awal Papa menikahkan mu dengan Gandhi, orangtua Gandhi lah yang menjanjikan kalian akan sehidup semati, mereka memastikan kalau Gandhi akan menjaga dan melindungi kamu. Nyatanya mana? Mereka tidak bisa menepati janji mereka. Menepati janji seperti ini saja mereka tidak bisa apalagi menepati janji dimana banyak orang akan mengorbankan tenaga dan pikiran mereka untuk proyek baru mereka." jawab Papa Alan.


"Kan beda Pa. Yang salah juga bukan Gandhi, yang salah kan Salsa. Seandainya Salsa gak aneh, Salsa yakin Gandhi akan bertahan dengan pernikahan ini. Dan lagi pula perceraian ini kan keputusan kami berdua." jawab Salsa.

__ADS_1


"Ini bukan tentang perceraian kamu dan Gandhi. Setelah kamu menikah dengan Gandhi, Papa juga sudah bisa memprediksi kapan bom waktu ini akan meledak. Yang Papa permasalahkan adalah omongan orangtua Gandhi yang begitu meyakinkan, seolah-olah Gandhi itu adalah robot yang bisa mereka kendalikan seumur hidup mereka. Ya, walaupun Papa juga mendapat keuntungannya, yaitu dengan tertutupnya aib mu." jawab Papa Alan.


"Bukan hanya itu yang membuat Papa membatalkan kerjasama dengan perusahaan orangtua Gandhi. Orangtua Gandhi terlalu arogan. Terhadap anaknya sendiri saja mereka memperlakukannya seperti robot, apalagi dengan para karyawannya. Pernah suatu hari Papa ikut ke lokasi proyek Tuan Ghafar, dengan mata kepala Papa sendiri Papa melihat Tuan Ghafar memperlakukan pekerjanya seperti budak. Sungguh sangat tidak manusiawi." jawab Papa Alan.


"Lalu kenapa para investor juga banyak yang membatalkan menanam modal disana?" tanya Salsa.


"Salsa, Salsa, para investor itu bukan orang bodoh dan gampang untuk di pengaruhi. Mereka menarik investasi mereka yah karena mereka juga tahu siapa Tuan Ghafar. Apalagi mereka juga sudah tahu kalau Gandhi di keluarkan dari perusahaan. Padahal perusahaan itu berkembang pesat sejak Gandhi yang memegangnya, setelah perusahaan di Jerman berkembang pesat, barulah Gandhi dikirim untuk mengembangkan perusahaan di Jakarta. Bagaimana para investor mau percaya kalau satu pondasi yang paling kuat sudah tidak ada lagi?" jawab Papa Alan.


"Oh." Salsa membulatkan mulutnya.


"Sudah, tidak usah terlalu di pikirkan masalah perusahaan itu, kita juga sudah punya hubungan lagi dengan mereka. Kita urus hidup kita, mereka urus hidup mereka." ucap Papa Alan.


Salsa hanya diam.


"Oh iya Pa, ada lagi yang membuat Salsa penasaran." ucap Salsa.


"Apalagi?" tanya Papa Alan.


"Kenapa Papa tiba-tiba menyetujui Salsa menikah dengan Zola?" tanya Salsa.


💋💋💋

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2