
"Oh iya Mas, soal biaya rumah sakit Bu Marni, biar aku saja yang bayar, Mas Gandhi bisa memotongnya dari gaji ku." ucap Yunda.
"Gak usah Yun, pakai uang aku aja. Uang segitu banyak buat kamu, kalau di potong dari gaji kamu, terus buat tabungan Reesha apa nanti? Sedangkan uang segitu, aku bisa menghasilkannya dengan sekali menjentikkan jari. Anggap saja aku lagi beramal untuk orang tidak mampu." tolak Gandhi.
"Tapi Mas, membayar rumah sakit Bu Marni kan keputusan aku, jadi tolong biarkan aku bertanggung jawab atas keputusan aku." paksa Yunda.
"Ya udah kalau kamu maksa, nanti aku suruh bagian keuangan motong sepuluh persen dari gaji kamu tiap bulannya sampai lunas." jawab Gandhi.
"Makasih yah Mas." balas Yunda.
KRIIING. Tiba-tiba saja ponsel Gandhi berdering.
Cepat-cepat Gandhi mengeluarkan ponselnya berharap itu telepon dari Bayu.
Dan benar saja ternyata memang itu telepon dari Bayu.
"Halo Bay." jawab Gandhi.
"Target sudah di ringkus Pak dan sekarang sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi." ucap Bayu.
"Baik. Aku segera kesana." jawab Gandhi lalu menutup teleponnya.
"Siapa Mas?" tanya Yunda.
__ADS_1
"Bayu. Dia bilang mantan suami kamu sudah ketemu dan sekarang sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi." jawab Gandhi.
"Aku pergi dulu yah. Kalau mantan mertua kamu udah keluar dari ruang operasi, kamu langsung pulang aja, inget Reesha juga butuh perhatian kamu." pamit Gandhi.
"Iya Mas, hati-hati." balas Yunda.
Gandhi pun berdiri dari duduknya lalu pergi meninggalkan Yunda.
💋💋💋
Lima belas menit sebelum Bayu menghubungi Gandhi.
Penginapan.
Saat Rio sedang terlelap, tiba-tiba saja pintu kamar-nya terketuk. Perlahan Rio mengerjapkan matanya.
Dengan kesadaran yang masih tiga puluh persen, tanpa bertanya siapa yang mengetuk pintu, Rio langsung beranjak dari ranjang dan membukakan pintu.
Ada tiga orang yang berdiri di depan pintu saat Rio membuka pintu.
"Saudara Rio?" tanya seorang pria bertubuh tinggi besar. Bukan bodyguard atau pun depkolektor melainkan intel dari satuan kepolisian.
"Ya saya." jawab Rio.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara lagi intel itu langsung menyergap Rio.
Sontak kesadaran Rio terkumpul seratus persen.
"Ada apa ini? Siapa kalian?" teriak Rio.
"Kenalannya di kantor polisi saja." jawab salah satu intel itu sambil menarik Rio keluar dari bangunan penginapan.
Penjaga penginapan yang sebelumnya sudah diberi tahu oleh ketiga intel itu kalau mereka akan menyergap salah satu penghuni penginapan sudah tidak kaget lagi.
Mata Rio membulat lebar.
Polisi? Mati aku! Aku harus kabur! gumam Rio dalam hati.
Saat sampai di depan, saat dua orang yang memegang Rio terlihat sedang lengah karena menunggu satu intel lainnya membawa mobil kedepan lobi, Rio pun memanfaatkan momen itu untuk melarikan diri.
Sayangnya baru beberapa meter Rio berlari, Rio bisa kembali ditangkap oleh dua intel itu tanpa perlu timah panas bersarang di betis Rio. Karena ada usaha Rio untuk melarikan diri, yang tadinya Rio tidak di ikat dengan kabel ties, dengan terpaksa intel mengikat tangan Rio dengan kabel ties layaknya seorang tersangka pidana kelas berat.
Rio pun pasrah, mau tidak mau dia ikut dengan ketiga intel itu ke kantor polisi.
💋💋💋
Bersambung...
__ADS_1