
"Kamu kenapa? Kok muka kamu cemberut gitu? Reesha sakit?" tanya Gandhi.
Yunda menggeleng.
"Gak kok Pak, anak saya baik-baik saja." jawab Yunda.
"Lalu kenapa muka mu kayak gitu?" tanya Gandhi penasaran. Gandhi sama sekali belum mendengar gosip yang berseliweran di perusahaannya.
"Gak ada apa-apa Pak. Mungkin karena saya sedikit lelah." Jawab Yunda.
"Oh..." Gandhi percaya-percaya saja. Karena selama satu Minggu ini, Gandhi memang melatih Yunda dengan sangat disiplin dan sat set sat set. Gandhi tak segan memarahi Yunda kalau Yunda bekerja dengan lambat.
"Ya sudah, kalau begitu hari ini kamu pulang saja lebih awal, lagi pula sudah tidak ada lagi tugas yang harus kamu kerjakan. Jadi besok kamu bisa lebih segar karena besok kamu akan mulai pekerjaan kamu yang sesungguhnya." ucap Gandhi.
Yunda menghela nafasnya kasar.
"Pak! Bapak bisa gak sih memperlakukan saya seperti karyawan lain! Karena Bapak memperlakukan saya istimewa dan Bapak juga selalu menengok anak saya, sekarang saya dan anak saya jadi kena fitnah! Kalau saya saja yang di fitnah tidak masalah Pak, tapi ini anak saya juga kena hujat! Di bilang anak saya anak haram lah yang tidak jelas siapa bapaknya, dibilang anak saya anak haram hasil hubungan gelap kita! Bapak denger gak semua gosip itu!" teriak Yunda.
"Yunda... Ayunda..." panggil Gandhi.
"Hah iya Pak." Jawab Yunda.
Ternyata tadi itu hanya khayalan Yunda yang ingin meluapkan kekesalannya.
__ADS_1
"Kayaknya kamu beneran capek deh. Udan sana kamu pulang. Istirahat yang banyak dan minum air putih yang banyak biar gak plonga plongo lagi seperti sekarang." ucap Gandhi.
"Gak usah Pak, saya bisa kok melanjutkan pekerjaan saya." tolak Yunda.
"Jangan ngeyel kamu! Udah sana pulang, besok kamu saya bawa meeting dengan klien di luar, jadi kamu persiapkan saja fisik mu. Kan gak enak kalau klien ngeliat muka kamu yang cemberut kayak gini." paksa Gandhi.
"Tapi Pak-"
"Udah gak ada tapi-tapian! Sana pulang!" potong Gandhi.
"Baik Pak." mau tidak mau Yunda menuruti perkataan Gandhi.
Yunda pun keluar dari ruang kerja Gandhi lalu membereskan meja kerjanya kemudian turun ke lantai paling bawah ke tempat penitipan berada.
💋💋💋
Tibalah jam makan siang.
Gandhi dan Bayu pun turun ke lobi dan berniat ingin makan siang di luar. Sesampainya di lobi, Gandhi memberikan kunci mobilnya pada Bayu sedangkan Gandhi menunggu Bayu di teras lobi.
Saat sedang berjalan menuju lobi, tak sengaja Gandhi mendengar karyawannya yang sedang bergosip tentang Yunda.
Tau gak, tadi aku lihat sekretarisnya Pak Gandhi itu jam sebelas udah pulang loh.
__ADS_1
Enak banget yah dia, mentang-mentang jadi gundiknya Pak Gandhi jadi bisa sesuka hatinya kerja.
Paling juga lagi mau mempersiapkan diri untuk nanti malam, nanti malam kan malam Jumat.
Kasihan istrinya Pak Gandhi, padahal istrinya Pak Gandhi cantiknya spek bidadari, tapi masih aja Pak Gandhi berpaling ke perempuan model orang-orangan sawah kayak si Yunda.
Mungkin karena istrinya Pak Gandhi gak bisa hamil kali yah makanya Pak Gandhi berpaling ke Yunda.
Tapi belum tentu juga anaknya si Yunda itu anaknya Pak Gandhi, siapa tau aja Pak Gandhi cuma kena getahnya doang. Hamilnya sama siapa, minta tanggung jawabnya sama siapa.
Ho'oh, apalagi katanya Yunda kan suka tidur sama para bos-bos, bisa aja bapaknya anaknya si Yunda itu salah satu bos yang udah tudurin dia.
Itulah percakapan karyawan yang sedang menggosipi dirinya dan Yunda. Akhirnya Gandhi mendengar gosip tentang Yunda.
Gandhi yang geram langsung mendatangi karyawannya itu.
"Sudah puas bergosipnya?" tanya Gandhi dengan suara berat dan tegas dan dengan tatapan tajamnya.
Sontak karyawan yang tadi bergosip pun langsung membalikkan tubuh mereka.
Wajah mereka langsung pucat seketika begitu melihat Gandhi.
💋💋💋
__ADS_1
Bersambung...