
"Ma-maksud Ibu?" tanya Yunda.
"Kamu ini gak tau atau pura-pura gak tau sih? Gandhi itu kan suka sama kamu." jawab Salsa.
"Ibu salah paham, gak mungkin Pak Gandhi suka sama saya." balas Yunda.
"Kenapa gak mungkin? Wajar kan kalau laki-laki suka sama perempuan?" tanya Salsa balik.
"Sekali lihat saja, saya bisa tau kalau Gandhi suka sama kamu, dari cara dia natap kamu aja itu kelihatan banget." kata Salsa lagi.
"Dan saya juga tau kalau kamu juga suka sama Gandhi, tapi karena status Gandhi makanya kamu mencoba memendam perasaan kamu, iya kan?" ucap Salsa lagi.
Yunda menundukkan kepalanya.
"Pernikahan saya dan Gandhi pernikahan yang salah. Kalau kamu suka sama dia, lanjutkan saja, saya merestui hubungan kalian." ucap Salsa.
"Maksud Ibu gimana yah? Saya baru pertama kali denger ada istri yang merestui suaminya menjalin hubungan dengan perempuan lain." tanya Yunda.
"Sini.." Salsa menyuruh Yunda mendekatinya dengan jari telunjuknya.
Yunda pun mendekatkan wajahnya ke wajah Salsa.
__ADS_1
"Saya gak suka laki-laki." Ucap Salsa pelan.
Yunda mengernyitkan keningnya.
"Gak suka laki-laki? Kalau gak suka laki-laki, berarti...." Yunda menggantung kata-katanya.
Salsa menganggukkan kepalanya.
Mata Yunda membulat lalu perlahan menjauhkan wajahnya dari Salsa.
Yunda menelan salivanya kasar. Wajahnya langsung ketakutan saat melihat Salsa tersenyum padanya. Takut-takut Salsa juga menyukai dirinya.
"Tenang aja, saya gak suka sama perempuan yang normal. Saya suka sama perempuan dari kaum saya juga." ucap Salsa yang mengetahui ketakutan Yunda.
"Saya tahu Gandhi sangat tersiksa dengan pernikahan kami ini, tapi dia tidak bisa apa-apa, dia sudah bicara pada orangtuanya agar kami bercerai, tapi orangtuanya tidak mau kami bercerai, padahal orangtuanya tau fakta tentang saya. Malahan orangtuanya meminta Gandhi untuk berusaha punya anak dengan saya." ucap Salsa.
"Saya juga sudah berusaha membicarakan ini dengan orangtua saya, hasilnya sama, orangtua saya juga meminta saya untuk punya sepasang anak dulu baru boleh bercerai dengan Gandhi. Sungguh kami tidak bisa apa-apa selain menjalani pernikahan yang menyakitkan ini, terlebih untuk Gandhi." kata Salsa lagi.
"Gandhi pernah menawarkan agar kami melakukan program bayi tabung atau inseminasi buatan agar kami bisa punya anak tanpa harus berhubungan badan, tapi pasangan saya tidak mengizinkannya." kata Salsa lagi.
Salsa menggenggam tangan Yunda.
__ADS_1
"Makanya saya mau kamu bisa memberi kebahagiaan untuk Gandhi. Kalaupun kalian berdua mau menikah, saya lebih senang lagi dan tidak akan pernah menghalangi hubungan kalian." ucap Salsa.
Yunda terdiam. Walau ucapan Salsa terdengar sangat indah, tapi entah kenapa Yunda masih merasa ini salah.
"Tolong kamu pikirkan baik-baik yah." ucap Salsa lalu berdiri dari duduknya.
"Saya pergi dulu." pamit Salsa lalu meninggalkan Yunda dan keluar dari coffee shop.
Tak lama setelah Salsa keluar, barulah Yunda beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari coffee shop dan berjalan menuju gedung Pradana Utama sambil otaknya terus memikirkan kata-kata Salsa.
TRING...
Tiba-tiba saja ponsel Yunda berdering. Notifikasi pesan masuk dari m-banking.
Yunda pun membuka pesan itu. Mata Yunda membulat lebar saat melihat gaji pertamanya masuk.
Semua karyawan Pradana Group di buatkan rekening khusus untuk penerimaan gaji.
"Hah? Beneran ini segini? Apa gak salah transfer?" pekik Yunda.
Bolak-balik Yunda menghitung jumlah nol di belakang angka 2, hasil nya tetap sama ada tujuh 0 di belakang angka dua, alias dua puluh juta.
__ADS_1
💋💋💋
Bersambung...