
Kantor polisi.
Sebelum Gandhi datang, polisi pun mengutarakan alasan kenapa Rio dibawa ke kantor polisi.
Polisi juga menginterogasi Rio terkait penelantaran Bu Marni. Saat polisi menginterogasi Rio, Rio hanya diam saja. Karena Rio diam saja, polisi pun jadi kesal karena ulah Rio.
"Boleh saya hubungi Kakak saya dulu?" tanya Rio.
"Untuk apa?" tanya penyidik.
"Saya ingin menyuruh kakak saya menyiapkan pengacara. Saya gak akan memberikan keterangan apapun tanpa pengacara saya disamping saya. Bukankah setiap terdakwa atau tersangka punya hak didampingi penasehat hukum sebelum memberi keterangan? Jadi saya mau menggunakan hak saya itu." jawab Rio.
Dua penyidik saling pandang kemudian seorang penyidik menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, nih pakai telepon ini." ucap salah seorang penyidik.
"Tapi saya gak inget nomor ponsel Kakak saya. Saya mau nelpon kakak saya dengan ponsel saya." jawab Rio.
Salah seorang penyidik berdiri dari duduknya lalu keluar dari ruang penyidik dan menghampiri tiga orang intel yang meringkus Rio untuk menanyakan apa mereka membawa barang pribadi Rio.
Ternyata salah seorang intel yang meringkus Rio membawa tas ransel dan ponsel Rio sebelum meninggalkan penginapan.
Intel itupun memberikan barang pribadi Rio pada penyidik. Dengan tas ransel dan ponsel ditangan penyidik, penyidik itupun kembali ke ruang penyidikan lalu memberikan ponsel dan tas pada Rio.
Rio pun menghubungi Mbak Ratna. Awalnya Rio menghubungi Mbak Ratna untuk meminta Mbak Ratna datang ke Jakarta dan mencari pengacara untuknya. Tapi setelah panggilan berakhir, cepat-cepat Rio mengirim foto-foto Yunda dan Gandhi dan meminta Mbak Ratna untuk menyebar foto-foto itu di kampung Yunda dengan menyertai sebuah gosip kalau di Jakarta Yunda menjadi simpanan pria kaya.
Setelah mengirim pesan pada Mbak Ratna, cepat-cepat Rio menghapus pesan itu sebelum ponselnya disita pihak penyidik.
Tak lama Gandhi pun datang.
Sesampainya Gandhi di kantor polisi, Gandhi meluapkan emosinya pada Rio bahkan sangking kesalnya Gandhi pada Rio, Gandhi sampai melayangkan bogem mentahnya ke wajah Rio. Untung saja mereka ada di kantor polisi sekarang, jadi Rio tidak sampai babak belur dibuat Gandhi karena banyak polisi yang menahan Gandhi.
Untuk menghindari amukan Gandhi, Rio pun di masukkan ke ruangan lain sedangkan Gandhi tetap di ruang penyidik dan berbicara dengan penyidik dengan di dampingi pengacara-nya. Tidak ada kata damai untuk Rio, mewakili Yunda, Gandhi tetap melanjutkan kasus ini dan meminta polisi untuk secepatnya memproses Rio.
__ADS_1
💋💋💋
Dua jam kemudian.
Setelah dua jam di kantor polisi Gandhi pun kembali ke rumah sakit untuk menjemput Yunda. Yunda bilang Bu Marni sudah keluar dari ruang operasi.
Rumah sakit.
Sampailah Gandhi di rumah sakit.
"Dokter bilang apa soal mantan mertua kamu?" tanya Gandhi.
"Dokter bilang dalam tiga hari ini Bu Marni sengaja di tidurkan dulu untuk mengistirahatkan otaknya, nanti setelah tiga hari baru dilihat apa operasinya berhasil atau gak." jawab Yunda.
"Oh." balas Gandhi.
"Kamu sendiri gimana Mas? Apa kamu ketemu Mas Rio? Dia bilang apa?" tanya Yunda.
Yunda diam.
"Sekarang kamu pulang, mantan mertua kamu bukan lagi urusan kamu. Reesha lebih butuh kamu dibanding mantan mertua kamu." ucap Gandhi.
"Iya Mas." jawab Yunda.
Mereka pun pulang tapi sebelum pulang, Gandhi berpesan pada perawat untuk menghubungi nomor Gandhi saja kalau terjadi apa-apa pada Bu Marni dan jangan pernah menghubungi Yunda.
💋💋💋
The Ritz Residence.
Sekarang Gandhi dan Yunda sudah sampai apartemen.
Sesampainya di apartemen, sudah pasti mereka langsung mencari Reesha.
__ADS_1
"Aku laper Yun, bikinin aku makanan dong." pinta Gandhi saat Yunda sedang bermain dengan Reesha.
"Mas Gandhi mau makan apa?" tanya Yunda.
"Terserah apapun yang kamu masak pasti aku makan." jawab Gandhi.
"Ya udah, aku masak dulu kalau gitu." jawab Yunda lalu membaringkan Reesha di bounchernya.
Sus Indah yang ada disana pun ikut berdiri dari duduknya.
"Saya bantu Bu." ucap Sus Indah.
"Gak usah kamu disini aja temenin Reesha main." tolak Yunda.
Walaupun sebenarnya Yunda sangat ingin di bantu menyiapkan perbumbu-an, tapi Yunda menolak tawaran Sus Indah karena kasihan melihat raut wajah lelah Gandhi kalau harus menemani Reesha main juga. Sedangkan Sus Nur sedang mandi.
Tak lama Sus Nur masuk ke ruang tengah. Sus Indah pun berdiri dari duduknya.
"Kamu temenin Reesha main yah, biar aku bantu Ibu dulu nyiapin makan malam." ucap Sus Indah.
"Gak usah Sus, biar saya aja yang bantu Ibu." cegah Gandhi.
"Tapi Pak-"
"Gak pa-pa. Kalian bawa aja Reesha ke kamar, main di kamar aja." potong Gandhi.
Tanpa banyak tanya, Sus Indah dan Sus Nur pun mengiyakan perintah Gandhi.
Gandhi pun beranjak dari ruang tengah dan menyusul Yunda yang sedang kucluk-kucluk sendirian di dapur.
💋💋💋
Bersambung...
__ADS_1