Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang

Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang
DSDKDSO BAB 136


__ADS_3

Kini Gandhi dan Yunda sudah sampai di kamar tipe president suite yang Gandhi booking sejak dua hari yang lalu. Gandhi juga meminta pihak hotel untuk mendekor kamar itu dengan dekor seperti pengantin baru.


Begitu masuk ke dalam kamar, mata Yunda melongo dengan dekor kamar, mulai dari dari ruang tamu sampai ruang tidur bahkan kamar mandi pun juga di dekor.


Jujur Yunda sangat suka dengan dekor itu dan rasanya sayang kalau kamar ini tidak jadi di pakai malam ini. Tapi karena Yunda masih kesal dengan Gandhi, dia ogah menginap di kamar ini.


"Gimana, kamu suka gak sama dekornya?" tanya Gandhi.


"Biasa aja." jawab Yunda berbohong.


"Masa sih biasa aja? Biasanya dimana coba? Bunga-nya aja pake bunga hidup loh bukan bunga imitasi. Terus itu balon-balon di tiupnya pake nafas manusia loh bukan pake alat, terus ini lagi handuk yang di bentuk seperti angsa, ini langsung angsa-nya loh yang jadi model." ucap Gandhi hiperbola.


Lalu Gandhi menarik Yunda masuk ke kamar mandi.


"Nah terus ini aroma terapi bukan dari bahan kimia, tapi dari bahan alami dari bunga lavender yang di peras hingga mengeluarkan sari-sari'nya dan cara merasnya juga masih manual." lanjut Gandhi.


Lalu Gandhi berjalan menuju shower dan membuka keran shower.


"Terus ini air shower ini, bukan diambil dari air pam atau sumur bor tapi diambil dari mata air di pegunungan, jadi airnya murni dan segar, seperti cinta aku ke kamu Yun. Masa dengan semua yang alami ini kamu bilang biasa aja sih?" ucap Gandhi.


Yunda memutar bola matanya malas.


"Ya udah bagus. Puas." jawab Yunda terpaksa.


Gandhi menggelengkan kepalanya, tanda dia belum puas dengan jawaban Yunda karena tau Yunda menjawab dengan terpaksa.

__ADS_1


"Sini, masih ada yang lebih bagus lagi." Gandhi menarik Yunda keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju balkon.


Kamar mereka yang letaknya di paling atas membuat semua jalan yang ada dibawah seperti miniatur. Lampu yang berjajar di jalanan terlihat seperti kunang-kunang yang sedang baris. Indah sekali.


"Gimana bagus kan?" tanya Gandhi.


Yunda tak menjawab, dia sedang terpukau melihat keindahan kota Jakarta dimalam hari.


Karena Yunda tidak menjawab, Gandhi menggunakan kesempatan ini memeluk Yunda dari belakang.


"I love you." bisik Gandhi ditelinga Yunda.


Sontak Yunda kaget dan langsung mendorong tubuh Gandhi agar menjauh tapi dengan sigap Gandhi mengeratkan lingkaran tangannya di perut Yunda.


"Mas!!! Aku lagi marah, gak usah peluk-peluk deh! Peluk aja sana mantan kamu!" omel Yunda.


"Nara memang mantan aku, dia pernah menempati tempat spesial dihati aku di masa lalu. Tapi di masa sekarang dan di masa depan sampai masa tua aku, yang menempati tempat spesial di hati aku cuma kamu Yun, gak ada yang lain dan gak akan pernah ada yang lain yang bisa menyingkirkan kamu dari hati aku. Kita udah berjuang bersama melewati masa-masa sulit hubungan kita, masa iya kepercayaan kamu hilang hanya karena aku bertemu mantan aku?" kata Gandhi lagi.


Mendengar ucapan manis Gandhi, hati Yunda pun luluh.


"Tapi aku gak suka cara kamu ngeliatin dia Mas." jawab Yunda, nadanya sudah mulai lembut.


"Ya udah, nanti kalau aku ketemu lagi sama dia, aku langsung pake kaca mata hitam biar kamu gak bisa lihat gimana aku natap Nara." jawab Gandhi seloro.


"Iiih Mas Gandhi!!!" teriak Yunda manja sambil memukul lengan Gandhi.

__ADS_1


"Becanda Sayang, becanda." ucap Gandhi.


"Nanti kalau ketemu sama dia lagi, aku cuma sekedar say hello aja." kata Gandhi lagi sambil meletakkan dagunya di bahu Yunda.


"Kalau bisa gak usah ketemu lagi." timpal Yunda.


"Ya kalau gak sengaja kayak tadi gimana? Masa iya gak disapa?"


"Pura-pura gak ngeliat aja." jawab Yunda.


"Kamu kenapa sih kok cemburu banget, gak biasanya? Kok kalau sama Salsa kamu gak cemburu? Padahal aku sama Salsa statusnya mantan suami-istri." tanya Gandhi heran.


"Kan cara kamu natap Salsa gak kayak kamu natap Nara, Mas." jawab Yunda.


"Biasa aja loh Yun, suwer! Kamu aja yang terlalu over thinking." balas Gandhi.


"Pokoknya kamu percaya aja sama aku, aku udah gak punya perasaan apa-apa sama Nara. Hati dan pikiran aku cuma untuk kamu dan Reesha." kata Gandhi lagi sambil bibirnya mengecupi ceruk leher Yunda.


"Iiih Mas geli ah." Yunda berusaha menjauhkan kepala Gandhi dari lehernya, tapi bukannya menjauh, tangan Gandhi malah ikut mengge.rayangi bagian depan Yunda.


"Iih Mas Gandhi, berhenti Mas!" ronta Yunda.


Gandhi tetap tidak memperdulikan Yunda dan makin gila mengge.rayangi tubuh Yunda dengan tangan dan bibirnya, sampai akhirnya keluarlah desa.han manja dari mulut Yunda.


Mendengar desa.han Yunda, Mas Gagah pun bersorak sorai.

__ADS_1


💋💋💋


Bersambung...


__ADS_2