Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang

Dicerai Suami, Dibuang Keluarga, Disayang Suami Orang
DSDKDSO BAB 94


__ADS_3

Keesokan harinya.


Masalah Ratna sudah diterima dengan baik oleh pihak kepolisian dan tinggal menunggu waktu persidangan.


Hari ini Bu Ambar juga sudah di perbolehkan pulang oleh dokter, tapi Bu Ambar dan Pak Yoto tidak di pulangkan ke kampung oleh Gandhi, melainkan ke sebuah ruko yang Gandhi beli dadakan kemaren. Karena mengurus surat balik nama ruko yang Gandhi beli untuk mertuanya itu, Bayu dan pengacara Batara mau tidak mau baru bisa pulang malam hari, padahal rencananya pagi ini mereka sudah balik ke Jakarta.


Bukan hanya tempat tinggal, bahkan sekolah kedua adik Yunda juga Gandhi pindahkan ke kota. Yunda belum tahu tentang ini.


Pukul 11.00


Kini Pak Yoto, Bu Ambar, Gandhi dan Yunda sudah dalam perjalanan menuju ruko yang Gandhi beli untuk kedua orangtua Yunda.


"Kita mau kemana, Mas?" tanya Yunda karena arah perjalanan menuju kampung Yunda bukan jalan yang mereka jalani sekarang.


"Pulang toh." jawab Gandhi santai.


"Tapi ini bukan jalan ke kampung Nak Gandhi." sahut Pak Yoto.


Gandhi tidak menjawab dan hanya tersenyum tipis. Yunda mengernyitkan keningnya dalam-dalam, berpikir apa lagi yang ingin Gandhi lalukan.

__ADS_1


Jarak dari rumah sakit ke ruko tempat tinggal baru orangtua Yunda tidak begitu jauh. Sengaja Gandhi memilihkan ruko yang tidak jauh dari rumah sakit, agar kalau ada apa-apa orangtua Yunda bisa langsung ke rumah sakit, bukan untuk menyumpahi mertuanya sakit-sakitan tapi untuk berjaga-jaga saja, selain itu tempat tinggal yang baru itu juga ada di dekat pasar, sangat cocok untuk membuka usaha kelontong.


Lima belas menit kemudian.


Sampai lah mereka di depan sebuah ruko dengan pintu berbentuk folding gate atau pintu geser lipat berwarna hijau tua.


"Kita ngapain kesini Mas?" tanya Yunda.


"Ya ini tempat tinggal Bapak dan Ibu yang baru." jawab Gandhi.


Mata Yunda, Pak Yoto dan Bu Ambar membulat lebar mendengar itu.


"Maksudnya Mas?" tanya Yunda.


Mereka pun memasuki ruko.


"Bapak, Ibu, mulai sekarang Bapak sekeluarga tinggal di ruko ini. Lantai bawah ini nanti akan di buka toko kelontong dan lantai dua untuk tempat tinggal Bapak sekeluarga." ucap Gandhi.


"Astaga Nak Gandhi, harusnya gak usah seperti ini." ucap Pak Yoto tidak enak hati.

__ADS_1


"Gak pa-pa Pak, kan Bapak dan Ibu sekarang bukan hanya orangtua Yunda tapi orangtua saya juga, jadi sudah kewajiban saya membahagiakan dan memberikan hidup yang layak untuk Bapak dan Ibu." balas Gandhi.


Yunda tak bisa berkata-kata mendengar ucapan Gandhi. Gandhi benar-benar jauh berbeda dari Rio. Uang lima ratus ribu saja yang di kirim Rio untuk Bapak-Ibunya, selalu Rio ungkit-ungkit. Tapi ini Gandhi, entah sudah berapa banyak uang yang dia keluarkan untuk biaya rumah sakit tapi Gandhi tidak memperhitungkannya dan malah menambahnya dengan membelikan tempat tinggal bahkan memberikan usaha untuk Bapak-Ibunya.


"Tapi ini terlalu berlebihan Nak Gandhi." ucap Pak Yoto.


"Gak berlebihan Pak. Tadinya saya mau membangun ulang rumah Bapak dan Ibu di kampung dan membeli sawah, tapi karena tanah yang Bapak tinggali ternyata bukan tanah pribadi Bapak, ya sudah lah saya beli ruko ini saja buat Bapak dan Ibu. Lagian kampung Bapak dan Ibu jauh dan orang-orangnya terlalu kolot, jadi lebih baik Bapak dan Ibu tinggal disini, biar pikiran Bapak dan Ibu juga bisa maju." jawab Gandhi.


"Udah yuk kita lihat-lihat ke atas." ajak Gandhi.


Gandhi dan Yunda naik lebih dulu ke lantai dua lalu disusul Pak Yoto dan Bu Ambar.


"Nah ini kamar Bapak dan Ibu, itu kamar Arfan dan Akmal dan itu kamar tidur saya dan Yunda kalau suatu saat nanti kami pulang kampung kesini." ucap Gandhi sambil menunjuk tiga kamar tidur di lantai dua.


"Barang-barang masih dalam perjalanan, mungkin nanti jam dua atau jam tiga dateng. Maklum aja, banyak barang. Kalau soal usaha, mungkin baru besok barang-barang untuk toko kelontong datang saya sudah kerja sama dengan beberapa distributor, jadi kalau barang ada yang habis Bapak bisa hubungi distributor itu nanti mereka yang antar." ucap Gandhi.


"Untuk sekolah Arfan dan Akmal juga sudang dalam pengurusan, mereka akan sekolah di dekat sini, mungkin lusa atau paling lama minggu depan lah mereka bisa bersekolah di tempat baru. Saya juga sudah menyuruh orang untuk menjemput Arfan dan Akmal." kata Gandhi lagi.


Mata Yunda, Bu Ambar dan Pak Yoto kembali membulat lebar saat Gandhi sedang menerangkan apa-apa saja yang sedang dia urus.

__ADS_1


💋💋💋


Bersambung...


__ADS_2