
"Jangan ngambek dong Mas, aku kan udah minta maaf." ucap Yunda sambil mengelus bulu-bulu halus yang tumbuh di rahang Gandhi.
"Gak ada yang ngambek ah! Udah sana tidur." balas Gandhi.
"Masa gak ngambek gini. Mas, jangan ngambek." rayu Yunda.
Gandhi diam. Tiba-tiba saja otaknya menemukan ide yang cemerlang.
"Mas... jangan ngambek yah. Percaya dong Mas, di hati dan pikiran aku cuma ada kamu dan Reesha." rayu Yunda lagi.
"Cium dulu, baru aku percaya." jawab Gandhi.
Tak perlu pikir panjang, Yunda langsung mengangkat kepalanya dari dada Gandhi kemudian mengecup bibir Gandhi.
"Kok gitu? Itu namanya bukan cium tapi kecup! Ketauan banget sih gak ikhlasnya!" protes Gandhi.
"Astaga Mas, ikhlas kok! Ya udah aku ulang." balas Yunda.
Yunda pun mengulang mencium bibir Gandhi, tapi kali ini bukan hanya mengecup melainkan mencium dan melu.mat lembut bibir Gandhi.
Tak usah ditanya apakah Gandhi membalas luma.tan-luma.tan lembut bibir Yunda, sudah pasti Gandhi membalasnya.
Setelah beberapa menit, ciuman pun semakin panas dan bergairah.
Gandhi melepas sejenak tautan bibirnya dengan bibir Yunda.
"Aku pengen Yun." ucap Gandhi dengan suara yang berat dan serak.
"Aku juga Mas." jawab Yunda.
Mendengar jawaban Yunda, cepat-cepat Gandhi mengubah posisinya yang berbaring menjadi duduk lalu dengan gerakan cepat juga Gandhi membuka pakaiannya.
__ADS_1
"Kamu diatas!" ucap Gandhi sambil menarik Yunda naik kepangkuannya.
Setelah Yunda berada di pangkuan Gandhi, mereka kembali berciuman panas. Jari jemari Gandhi juga tidak diam begitu saja, jari jemari itu menyelinap di balik baju tidur yang Yunda pakai dan menyusuri punggung Yunda untuk membuka pengait tali b.ra Yunda.
Begitu pengait tali b.ra itu terbuka, dengan gerakan cepat Gandhi melepaskan baju tidur beserta b.ra yang Yunda pakai.
Setelah bagian atas Yunda sudah polos, Gandhi menurunkan ciumannya ke leher lalu semakin turun dan turun hingga mendapati pabrik susu Yunda.
Bagai bayi yang kelaparan, Gandhi menyedot pabrik susu Yunda seperti sedotan jetpam. Sangking kuatnya sedotan Gandhi, pabrik sebelah mengalami kebocoran.
"Mas... Mas... stop Mas." Yunda menepuk bahu Gandhi untuk menghentikan Gandhi yang sedang asyik menyusu.
Gandhi pun berhenti menyusu.
"Kenapa?" tanya Gandhi dengan ekspresi kesal karena Yunda mengganggu kesenangannya.
"ASI-nya netes Mas. Aku pompa bentar yah." jawab Yunda.
"Gak usah! Biar aku sedot aja." tolak Gandhi yang sudah kelaparan. Maklum saja sudah dua minggu tidak merasakan susu murni dari pegunangan.
"Memangnya Reesha aja yang butuh nutrisi, aku juga Yun butuh nutrisi berkali-kali lipat!" jawab Gandhi.
"Tapi Mas-"
"Sst...! Anggap aja kamu punya bayi kembar, aku dan Reesha. Reesha dapet ASI-nya pagi, siang dan sore dan aku cukup malam aja. Kurang mengalah apa coba aku jadi kembarannya Reesha." potong Gandhi lalu lanjut menyusu.
Yunda pun pasrah dan akhirnya menikmati cara Gandhi menyusu. Cara menyusu yang jauh berbeda dengan Reesha. Cara menyusu Gandhi, malah membuat hasrat Yunda meronta-ronta.
Dan malam itu akhirnya Mas Gagah pun di cas. Dengan berhasilnya Mas Gagah di cas, semua masalah pun selesai. Gandhi tidak ngambek lagi dengan Yunda.
💋💋💋
__ADS_1
Keesokan harinya.
Karena Gandhi sudah memberi izin Reesha boleh di pertemukan dengan Bu Marni, maka hari ini dengan ditemani dua pengasuh, satu bodyguard dan satu supir, Reesha pergi ke tempat Bu Marni dan Rosa berada sekarang, di sebuah kos-an sederhana di pinggiran kota Jakarta.
Karena keluarga-nya sudah bangkrut, Rosa terpaksa berhenti kuliah padahal saat ini Rosa sudah semester akhir. Tapi apa boleh buat, karena tidak ada dana dan ibu-nya juga tidak ada yang menjaga, mau tidak mau Rosa berhenti kuliah dan bekerja untuk menghidupi dirinya dan sang ibu.
Sampailah Reesha dan kedua pengasuhnya di kos-an Rosa.
"I-ini anaknya Mbak Yunda?" tanya Rosa.
"Iya Mbak." jawab Sus Indah.
"Mbak Yunda-nya mana?" tanya Rosa.
"Bu Yunda gak bisa ikut, ada kerjaan sama Bapak." jawab Sus Indah.
"Oh." Rosa membulatkan mulutnya dengan nada kecewa. Padahal Rosa ingin sekali bertemu dengan mantan kakak iparnya itu dan meminta maaf secara langsung pada mantan kakak iparnya itu atas semua perlakuan keluarganya.
"Tapi Bu Yunda titip ini buat Mbak dan Ibu." ucap Sus Nur sambil menunjukkan sembako yang sedang dibawa oleh bodyguard dan supir.
Tiga karung beras, enam liter minyak goreng, tiga piring telur, lima kilo gula, dan dua dus mie instan.
"Astaga banyak banget." kaget Rosa.
"Terus Bu Yunda dan Pak Gandhi juga titipin ini buat Mbak." kata Sus Nur lagi sambil memberikan amplop putih ke tangan Rosa.
Rosa membuka amplop yang cukup tebal itu, melihat isi amplop uang merah semua, Rosa yakin kalau jumlah uang itu diatas lima juta.
Rosa meneteskan air matanya.
Seumur-umur baru ini keluarganya dikasihani seperti ini, apalagi yang mengasihani adalah perempuan yang dulu sering di dzolimi oleh keluarganya.
__ADS_1
💋💋💋
Bersambung...