Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Selamat tinggal


__ADS_3

...***...


Yasmin mengunci dirinya di dalam kamar. Dia membiarkan Hilman yang mengetuk pintu dengan keras.


"Yasmin! Buka pintunya!"


Untuk kesekian kalinya Yasmin menangis. Apakah dia masih sanggup untuk menghadapi proses yang akan panjang ini? Yasmin sendiri tak tahu apa yang akan dia hadapi besok. Benar tamparan Hilman masih terasa di pipinya, berdenyut dan perih.


Semula dia berpikir, menjadi yatim piatu tak terlalu buruk. Karena dia memiliki keluarga lain yang selalu ada untuknya. Suami yang sangat mencintainya. Ibu mertua yang perhatian dan mengerti keadaannya. Serta adik ipar yang selalu mengajaknya keluar bermain di saat dia merasa bosan. Namun, itu semua adalah bagian dari kemunafikan mereka. Yasmin telah ditipu mentah-mentah.


"Hahh, harta … aku nggak pernah berpikir mereka baik selama ini, karena harta? Cihhh, keluarga munafik!" Yasmin mengelus pipinya yang terasa perih. Tamparan pertama yang ia dapat dari Hilman. Dan ia akan memastikan ini adalah tamparan terakhir.


Akhirnya pintu kamarnya tak terdengar ketukan lagi. Mungkin Hilman lelah, hampir dua puluh menit dia berdiri di depan pintu. Meneriaki nama Yasmin dengan lantang. Membuat keributan di siang bolong, walau tak akan ada tetangga yang mendengar.


"Yasmin! Kalau kamu ingin bercerai! Tapi perusahaan akan menjadi milikku, aku yang memegang kendali selama ini!"


Suara Hilman terdengar sangat keras dari balik pintu. Untuk yang terakhir kalinya Yasmin mendengarkan. Setelah itu senyap, Hilman telah pergi entah kemana. Suara mobil pria itu terdengar meninggalkan rumah. Perkataan Hilman tadi, seperti ancaman besar bagi Yasmin.


"Perusahaan Ayah?" Lirih Yasmin teringat akan hal itu.

__ADS_1


Yasmin menyurutkan air matanya. Dia mulai berpikir apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan harta peninggalan Ayahnya. Yasmin tak ingin kehilangan semua ini begitu saja. Itu adalah amanah, dan Hilman tidak berhak untuk memiliki apa yang sudah diwariskan padanya.


Gito Wijaya. Satu nama yang terlintas di pikiran Yasmin. Pria yang telah menginjak usia 48 tahun itu, adalah salah satu anggota direksi Kimia Hesa. Perusahaan itu sudah berdiri hampir dua puluh tahun, dan Pak Gito adalah orang pertama yang bekerjasama dengan Ayah Yasmin–Anton Mahesa. Pak Gito adalah direktur utama sebuah rumah sakit swasta, dan pemegang saham terbesar nomor dua setelah dirinya.


Hanya ini satu-satunya cara. Yasmin mau tidak mau harus mengambil kesempatan ini. Karena ketidaksengajaan Pak Gito melihat kekacauan dalam rumah tangganya kemarin, diharapkan bisa menjadi penyelamat untuknya.


Yasmin terlihat sedikit kebingungan, apa yang harus ia lakukan terlebih dulu. Sejenak dia berpikir, tak lama Yasmin bergerak bangkit dan berjalan menuju lemari pakaiannya.


Satu persatu pintu lemari ia buka. Pertama, Yasmin mengambil koper besarnya. Lalu memasukkan berkas-berkas penting miliknya, surat kuasa, surat tanah, rumah, perusahaan, ke dalam koper. Kemudian Yasmin mengemasi pakaiannya, keperluan mengajar dan lain-lain. Tak cukup satu, Yasmin memenuhi dua koper besar.


Semua harus ia lakukan hari ini. Pergi dari rumah, tujuannya adalah kontrakan Santi. Kemudian mencari Pak Gito dan meminta bantuannya. Mencari pengacara untuk mengurus perceraian. Banyak yang harus Yasmin lakukan, mulai hari ini dia akan sibuk. Di sela-sela waktunya mengajar Yasmin akan memikirkan langkah demi langkah.


"Halo, San. Kamu pulang kerja jam berapa?"


"Sore, Yas. Kamu masih di rumahku atau ….?"


"Tidak, aku di rumah sekarang. Hari ini mau menginap lagi di rumahmu, bisa?"


"Tentu bisa lah, Yas. Kamu bebas keluar masuk."

__ADS_1


"Oke, tapi aku akan tinggal lama. Bisa?"


"Buat kamu apa sih yang nggak bisa. Makin cepat kamu meninggalkan laki-laki itu, makin baik. Aku akan selalu ada buat kamu. Datang aja, nanti kita ketemu di rumah ya."


"Baiklah, San. Terima kasih."


Yasmin merasa sangat lega. Santi tau maksud hatinya. Yasmin bergegas meninggalkan rumah. Sebelum Hilman kembali, sementara ia akan tinggal di rumah Santi. Makin menyakitkan jika terus di sini.


"Selamat tinggal kenangan." Lirih Yasmin memandang rumah peninggalan Ayahnya.


Suatu saat ia akan kembali dan mengambil alih, biarkan sementara Hilman di sana.


...***...


...Like dan komen karya ini jika kalian suka....


...Jangan lupa favorit dan baca bab-bab selanjutnya....


...❤️❤️❤️...

__ADS_1


...Terima kasih ☺️...


__ADS_2