
...***...
Setelah membantu Eza menyiapkan bahan makanan di dapur. Yasmin meninggalkan pria itu dan naik ke lantai dua. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya sejak tadi, Yasmin harus memastikannya dengan seseorang. Kedatangan Hilman telah membuatnya syok. Apalagi dengan ancaman tersebut. Jika bukan karena sudah muak melihat wajah pria itu, Yasmin tak akan menuruti kemauannya. Segala kemungkinan bisa saja terjadi, Yasmin akan membuat Hilman tak berani lag menganggu hidupnya.
Hanya satu orang yang bisa Yasmin mintai bantuan. Pak Gito Dirgantara yang kini menjabat sebagai direktur penanggung jawab di Kimia Hesa. Sebenarnya Yasmin merasa sungkan harus merepotkan Pak Gito lagi. Mengelola perusahaan ayahnya bukanlah kewajiban pria itu. Pak Gito punya perusahaan sendiri yang harus dijalankan. Jika bukan mengingat hubungan masa lalu ayah yasmin dengan Pak Gito, berapapun pembagian hasilnya tak akan pria itu terima.
“Hilman datang ke Jogja? Mau apa lagi dia nyari kamu?” Suara berat seorang pria—Pak Gito terdengar dari seberang panggilan.
“Hilman minta kembali ke perusahaan, Om. Dia bahkan berani mengancam, aku terpaksa menyetujuinya. Bukan karena takut akan ancamannya, Om. Tapi aku sudah cukup benci melihat wajahnya di hadapanku. Yang aku belum tau, dari mana dia mendapatkan alamatku di sini.” Yasmin menghela napas berat. Jika ini tidak segera dia selesaikan, Hilman akan terus mengganggunya.
“Yasmin, Om mengerti akan perasaanmu. Lalu ancaman seperti apa yang dia katakan hingga kamu setuju?”
Pertanyaan Gito membuat Yasmin berpikir harus menjawab apa. Tidak mungkin dia mengatakan masalah kehamilannya secara blak-blakan.
“Hilman … ingin mencampuri kehidupan pribadiku, Om,” jawab Yasmin lemah.
“Pria itu memang sudah keterlaluan. Jadi, apa yang bisa Om bantu, Yasmin?” Nada bicara Gito terdengar emosi. Dia yang membantu Yasmin mengusir Hilman dari perusahaan, kini Yasmin masih harus berurusan lagi dengan mantan suaminya itu.
“Aku rasa dia sangat butuh pekerjaan. Aku menjanjikannya sebuah posisi, tapi tak akan memberinya hak apapun dengan jabatannya. Bisa Om membantuku?” Yasmin sangat berharap.
“Om sempat mendengar, dia kesulitan mencari pekerjaan di tempat lain. Mengingat sebelumnya dia mempunyai posisi yang tinggi di Kimia Hesa, tentu saja hal itu bisa terjadi.” Gito terdiam berpikir sejenak. “Untuk posisi yang pas, Om rasa ada satu tempat yang cocok untuknya. Dia harus ditempatkan di bagian lapangan. Jika dia ada di dalam perusahaan, ada kemungkinan dia akan melakukan sesuatu.”
Ternyata seperti itu. Pantas saja Hilman ngotot ingin kembali ke perusahaan. “Pekerjaan apa yang cocok untuknya, Om?’
“Sales atau kurir barang. Tapi dia tetap harus berada dalam pengawasan seseorang. Dimanapun tempatnya, kecurangan bisa saja terjadi.”
“Maaf Om, sekali lagi aku akan merepotkan, Om Gito.”
Selagi masalah ini tidak selesai. Yasmin masih akan merasakan ketegangan. Untuk duduk saja dia tak tenang.
“Yasmin, jangan pikirkan hal itu. Kamu sudah Om anggap sebagai anak sendiri. Jika bukan karena kamu sudah menikah dengan Hilman dulu, Oma dan ayah kamu akan menjodohkan kamu dengan anak Om.”
“Om ….” Yasmin tak ingin lagi mengingat apapun tentang masa lalu dengan pria brengsek itu.
__ADS_1
“Baiklah, Om minta maaf sudah mengungkit hal itu.” Gito diam sesaat. “Yasmin, Om mau bilang sesuatu.”
“Iya, Om, ada apa?”
“Om hanya bisa mengurus perusahaan kamu selama setahun ini, mungkin paling lama Om bisa bantu dua tahun. Om harap kamu sudah kamu mempersiapkan diri untuk kembali.”
“Iya, Om … aku mengerti.”
Panggilan itu pun berakhir. Kini Yasmin bisa sedikit merasa lega. Pak Gito bisa membantunya mengatasi segala hal yang berhubungan dengan perusahaan. Untuk dua tahun ke depan dia bisa tenang. Setelah itu Yasmin akan memikirkan cara agar bisa kembali. Dua tahun, mungkin waktunya tidak banyak. Dia pikir mungkin akan kembali dalam waktu lima tahun lagi. Tapi dia berjanji pada Gito, suatu saat dia dibutuhkan untuk kembali, Yasmin sudah harus siap.
Yasmin menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Menghilangkan sejenak rasa lelah karena pikirannya yang kacau. Pusing di kepalanya masih belum hilang. Kini Yasmin bertanya-tanya. Kapan nasi gorengnya selesai dimasak?"
Selang beberapa menit, seseorang mengetuk pintu kamarnya. Yasmin tersentak dan bergegas membuka pintu. Indra penciumannya mulai menghirup sesuatu yang menggugah seleranya. Yasmin lantas tersenyum dengan sumringah.
"Nasi gorengnya!" seru Yasmin begitu membuka pintu. Eza berdiri di hadapannya dengan nampan yang berisi sepiring nasi goreng dan segelas air.
"Senja." Senyum Eza menaikkan sedikit nampan di tangannya.
Mata Yasmin membelalak ketika melihat apa yang ada di dalam piring. "Astaga, Langit. Kamu mau memberiku makan, atau mau membuatku mati kekenyangan?"
"Ini terlalu banyak. Bisa untuk tiga orang makan." Yasmin menggeleng tak percaya Eza akan masak sebanyak itu.
"Yang mau makan memang tiga orang, kan?"
"Tiga orang?"
"Iya. Kamu, aku dan anak kita."
"Anak yang belum lahir juga masuk hitungan?" Eza mangangguk padanya dengan senyuman. " Ya sudah, taruh di sana saja." Yasmin menunjuk meja dan sofa kecil di ruangan lepas depan kamarnya. Tempat itu biasa Yasmin gunakan untuk bersantai atau mengerjakan pekerjaannya.
Eza pun meletakkan makanan di atas meja. Dengan santainya Yasmin duduk di bawah, padahal ada tempat duduk di sana. Dia lebih nyaman duduk di bawah dengan karpet yang lembut.
"Senja, kenapa kamu duduk di bawah?"
__ADS_1
"Nggak apa-apa, aku nyaman seperti ini. Sini duduklah." Yasmin menepuk tepat di sampingnya.
Tanpa ragu Eza duduk di sebelah kekasihnya itu. Dia bisa melihat suasana hati Yasmin mulai membaik. Eza merasa sedikit lega, tadinya Yasmin terlihat murung walau senang saat akan dibuatkan makanan.
"Senja, sini aku suapin." Eza mengambil alih piring yang ada di depan Yasmin.
"Aku bisa makan sendiri, Langit."
"Sayangku, bisa tidak, jangan menolak segala perhatian yang aku lakukan. Kamu menyakiti hatiku." Eza pura-pura cemberut.
"Iya, iya deh … kamu yang suapin."
"Good."
Saat makan, Yasmin tak henti-hentinya minta terus disuapi Eza. Bahkan Yasmin minta suapan Eza lebih dipercepat. Sedangkan Eza belum makan sesuap pun.
"Sayang, pelan-pelan, kamu bisa tersedak kalau cepat begini. Nasinya nggak kamu kunyah?" Eza menggeleng kepala.
"Aku kunyah kok. Nasi gorengnya enak!" Ucapan Yasmin sedikit tidak jelas, karena mulutnya yang penuh dengan makanan.
"Kamu suka? Ini sudah habis separonya."
"Kamu kasih bumbu apa, rasanya beda dengan nasi goreng biasa. Padahal bentuknya terlihat sangat biasa," ucapnya seraya memberi isyarat pada Eza untuk terus menyuapinya.
Eza mengangkat satu sendok nasi lagi, lalu memasukkan pada mulut Yasmin yang telah terbuka. "Tentu saja bumbu Cinta."
Yasmin terdiam sejenak. "Baiklah, aku percaya," ucapnya seraya mengulang senyuman.
Pria itu pun tersenyum melihat wajah wanita yang dia kasihi itu. Yasmin bertingkah seperti anak kecil saat ini. Mungkin karena pengaruh dari calon bayi yang dikandung Yasmin.
"Sayang, setelah ini aku mau membicarakan sesuatu." Eza akan mengatakan kepada Yasmin, tentang niatnya untuk bertanggung jawab.
Pernyataan Eza dibalas dengan anggukan kepala. Dia telah menyiapkan dirinya sejak awal. Apapun yang akan Eza katakan, Yasmin bisa menerimanya.
__ADS_1
...***...