Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Langit adalah Eza


__ADS_3

...***...


Tangan Yasmin terus ditariknya. Membuat wanita itu terpaksa melangkahkan kakinya. Mengikuti entah kemana Eza membawanya.


Saat mereka sampai di suatu tempat yang cukup aman, Eza langsung mengungkung wanita itu ke tembok. Menumpukan tangannya di sisi kiri dan kanan wanita itu sehingga kini wajah Yasmin tepat di depan matanya. Keduanya saling berdekatan, saling pandang. Yasmin menatap dengan ekspresi marah. Sedangkan Eza masih terus menelisik setiap inci wajah wanita itu.


"Mau apa kamu? Jangan kurang ajar dengan saya!" Jantung Yasmin kini telah berdebar lebih kencang, tatapan itu sangat menusuk hatinya. Tak dapat dipungkiri rasa rindu itu kini kembali menyeruak menggerogoti keduanya.


"Masih belum mau mengaku? Aku sangat yakin, kamu adalah Senjaku."


"Saya sudah bilang, kamu salah orang. Lepaskan saya! Atau saya teriak sekarang!" Yasmin mengancam.


“Tidak! Katakan dulu, kamu adalah Senja yang aku temui di Bali?” Eza masih bersikeras ingin Yasmin mangaku.


Akan tetapi, wanita itu tidak mau mengalah. Dia meninggikan suaranya. “Bukan! Aku bilang bukan! Tolo—”


Ketika Yasmin akan berteriak minta tolong, Eza langsung membekap mulutnya. Dia meronta minta dilepaskan. Kemudian dia menarik tangan Eza, lalu membuka mulutnya dan menggigit tangan pria itu.


“Aaauuu, Hiiisss ….” Eza pun terpaksa melepaskan Yasmin.

__ADS_1


Wanita itu pun pergi meninggalkan Eza yang berdiri mematung. Dia terpaku di tempat, memandangi punggung Yasmin yang semakin menjauh dan menghilang.


“Ganas sekali,” gumam Eza seraya mengibaskan tangannya yang digigit Yasmin. Dia terus teringat semua kejadian di Bali sebulan yang lalu dan tersenyum. “Yasmin memang ganas, tapi aku ingat itu hanya di ranjang saja.”


Dia tidak menyangka, wanita yang dia kenal ketika liburan adalah dosennya saat ini. Bagaimana bisa? Apakah takdir mempermainkannya. Mereka berkencan selama satu minggu, bahkan sampai berhubungan badan. Eza sangat yakin, Yasmin adalah takdirnya.


“Aku sangat yakin, kamu adalah Senjaku. Mulai sekarang, aku akan terus berusaha mendekatimu,” batin Eza.


Eza pun kembali ke kelas, dia masih harus mengambil barangnya yang tertinggal. Namun, saat dia ingin masuk dari pintu belakang. Dion sudah di sana dan bersandar ke dinding dengan bersedekap.


Eza sudah menebak, sahabatnya itu pasti akan mengikutinya. "Lo disini, Yon?"


Eza pun merangkul pundak Dion. Dengan bangga dia mengatakan rasa senangnya. "Iya, gue nggak perlu nyari dia lagi. Jodoh gue udah datang, brow!"


"Yah, gue batal dong ngejar Bu Yasmin?"


"Jangan mimpi Lo … mau ngejar Senja. Lo bakal berhadapan sama gue!" Eza memperingatkan dan menoyor kening Dion.


Dion pun membalas dengan cara yang sama. "Iya … gue tau!" Dion mengambil tas Eza yang diletakkan di bawah kakinya. "Nih tas Lo!"

__ADS_1


_____


Jadwal kelas Eza sudah berakhir dari pukul 02.00 tadi. Karena ada sesuatu yang harus dia lakukan, Eza masih berada di kampus. Dia sengaja menunggu hingga jam kerja Yasmin selesai. Dengan sabar dia menunggu di tempat yang mungkin akan Yasmin lalui. Saat wanita itu lewat di hadapannya, Eza buru-buru menyusul.


"Senja! Tunggu!" Panggilannya tidak di gubris sama sekali. Yasmin menuju ke arah jalan raya.


Yasmin mempercepat langkahnya, ketika dia sadar, Eza sedang mengikutinya. Eza pun berbalik mengambil motornya, lalu menyalakan dan mendekat pada Yasmin. Dia berhenti tepat di depan, Eza menghalanginya.


"Kenapa kamu terus mengganggu saya?"


Eza tersenyum. "Sebentar, aku mau menunjukkan sesuatu, bukti kalau kamu memang adalah Senjaku." Eza pun gegas membuka tasnya. Dia lalu mengambil buku gambar yang semua isinya adalah sketsa wajah Yasmin.


Yasmin tersentak saat Eza membuka buku gambar itu. Pada lembar terakhir, Eza mulai menggambar pada sketsa wajah Yasmin yang tanpa hijab. Dia menambahkan kerudung, persis dengan yang Yasmin kenakan saat ini.


"Lihat! Inilah Senjaku yang cantik dan sangat memesona. Sama bukan?" Eza menunjukkan hasil sketsanya.


Yasmin terpejam sejenak, dia tidak dapat menghindar lagi. Langit adalah Eza, salah seorang anak didiknya sekarang. Hal ini yang membuatnya terus menghindar. Dia sulit menerima kenyataan bahwa, pria yang beberapa bulan lalu dia kenal, adalah seorang mahasiswa di universitas ini.


...***...

__ADS_1


__ADS_2