Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Membutuhkan pertolongan


__ADS_3

...***...


Menjadi janda adalah pilihan yang sulit sebenarnya. Banyak hal yang harus dipertimbangkan ketika hubungan pernikahan tak berjalan dengan baik. Kebanyakan dari wanita yang terpaksa menerima pilihan ini adalah karena orang ketiga. Perpisahan harus terjadi, jika si wanita tidak sanggup lagi hidup dikhianati.


“Mbak Yasmin, sebaiknya kalau Mbak mau ke warung atau ke angkringan, ajak saya aja nggak apa-apa. Biar para mata lelaki nggak begitu jelalatan. Jangan sampai nasib Mbak Yasmin kaya saya, dikucilkan sama ibu-ibu sini.” Sambung suci menasehati Yasmin. Sebagai orang baru di kampung itu, bisa mengenal orang yang peduli adalah suatu keberuntungan.


Yasmin yang mendengar semua cerita Suci pun bergidik ngeri. Dia tak menyangka jika ternyata desa tersebut banyak yang suka ikut campur dengan urusan orang lain. Berbeda dengan di kota yang hidup acuh dan kebanyakan tidak suka mencampuri ranah pribadi masing-masing orang. Keramahan seseorang kadang hanya terlihat di depan saja, berbeda jika di belakangnya.


Sudah jadi rahasia umum, wanita yang suka berkumpul dan bergerombol, bisa jadi sedang membicarakan orang lain. Kehidupan di manapun di pelosok negeri ini, sama. Hanya bagaimana cara seseorang bisa menempatkan diri di lingkungannya berada. 


“Maaf Mbak Yasmin ini belum nikah atau …?” Suci bertanya penasaran, tetapi masih dengan nada sungkan. 


Yasmin tersenyum tipis. “Saya juga janda Mbak, baru aja bercerai beberapa bulan yang lalu. Makanya saya pindah kesini buat menghindari mantan suami, dia terus mengusik dan membuat risih.” ungkap Yasmin berterus terang.

__ADS_1


Sedikit banyak Yasmin paham, berada di lingkungan baru juga ada saatnya untuk tertutup dan terbuka. Tak ada yang perlu disembunyikan soal statusnya sebagai janda. Selagi apa yang dia ungkapkan tak merugikan orang lain, Yasmin tidak keberatan. Terlebih lagi, dari obrolannya dengan Suci, Yasmin bisa menilai wanita itu mungkin bisa dipercaya.


"Kalau pekerjaan, Mbak Yasmin mau kerja apa di kota ini?" tanya Suci kemudian.


"Saya bekerja sebagai dosen di UGM, Mbak. Mungkin besok saya sudah mulai mengajar." 


"Waaahhh, Mbak Yasmin wanita hebat, ternyata. Saya jadi nggak enak udah terlalu banyak menggurui Mbak Yasmin barusan." Suci tak menyangka, dia memberi nasehat pada orang yang lebih berpendidikan darinya. 


Suci menutup mulutnya dengan tangan. "Hehehe, saya jadi malu."


Tak terasa obrolan mereka telah berlanjut hingga dua jam lamanya. Rencana Yasmin untuk keluar membeli peralatan dapur pun tertunda. Tadinya dia berencana untuk berjalan-jalan sebentar, menikmati suasana kota Jogja yang indah. Kota yang memiliki banyak tempat wisata. Namun, itu tidak masalah, dia masih punya banyak waktu, toh dia akan tinggal lama di kota itu.


___

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 07.20 pagi. Jadwal kuliah pagi akan dimulai empat puluh menit lagi. Yasmin yang telah berpakaian rapi dengan kerudung coklat senada dengan bajunya. Dia masih berada di jalan pada jam ini. Sedangkan dia harus melapor kepada atasan terlebih dahulu sebelum mulai bekerja. Yasmin mendorong motor matic miliknya yang tiba-tiba mati. Sial sekali dia pagi ini, jarak kampus dari lokasinya sekarang masih lima kilometer lagi.


Yasmin telah tampak kelelahan, tidak ada satupun bengkel yang buka. Tentu saja, ini masih terlalu pagi. Kendaraan yang lalu lalang pun tak ada yang peduli dengan kesulitannya. Mereka lebih memilih mengabaikan dan mengurus urusan mereka masing-masing.


Dia menghentikan langkahnya dan membiarkan motor terparkir di pinggir jalan. Membiarkan helm masih melekat di kepala. Lalu dia mengeluarkan ponsel dari kantong kemeja kerja. Lalu dia teringat, tak ada yang bisa dimintai bantuan, karena Yasmin masih belum mengenal siapapun. Wanita itu terus mengumpat, karena tak ada orang yang mau berhenti dan menolongnya.


Kemudian seorang pemuda di atas motor melihat ke arahnya. Pemuda itu memperlambat laju motornya, melirik dirinya sesaat. Yasmin menyadari itu, lalu melambaikan tangannya, mengisyaratkan sedang membutuhkan pertolongan. Namun, pemuda itu malah pergi begitu saja, melaju dengan kencang tanpa memperdulikannya.


"Hiiihhh … dasar, orang tidak berperasaan. Pergilah! aku tidak butuh bantuanmu!" Umpatnya penuh emosi.


...***...


  

__ADS_1


__ADS_2