
...***...
"Ibunya Yasmin berasal dari Jogja, dulu dia pernah cerita." Tiba-tiba suara Yati menyaut. Dia mendengar semua percakapan kedua anaknya.
Hubungan antara mertua dan menantu yang lumayan dekat dulunya. Yasmin menceritakan semua tentang keluarga pada Yati. Sebagai mertua yang membutuhkan menantu seperti Yasmin, sudah seharusnya dia bersikap baik, bukan? Walau itu hanya di depan Yasmin saja.
"Jogja dimana, Ma?" tanya Hilman yang langsung menoleh ke belakang.
"Mama sudah lupa di mananya, yang mama ingat nggak jauh dari pusat kota. Lagipula keluarnganya ibu Yasmin sudah nggak ada di sana." Yati ikut duduk bersama kedua anaknya.
"Kalau Mama sudah ingat, kasih tau Hilman. Dia nggak akan bisa lari gitu aja."
Hilman punya beribu cara untuk mendapatkan apa yang di mau. Gagal sekali bukan berarti dia akan menyerah. Sifat serakahnya telah mendarah daging. Dia tak mampu berdiri sendiri, masih perlu Yasmin untuk menopang hidupnya. Padahal dia yang selalu ada di depan Yasmin selama ini. Karena wanita itu selalu memberikan kesempatan.
"Mas, cari cara agar dia mau kasih uang. Atau kerja lagi di perusahaannya, paksa aja, Mas, sampai dia mau!" Astrid mulai memberi ide-ide liciknya.
"Nanti, Mas pikirin caranya."
Apa yang mereka dapatkan dari Yasmin sepertinya belum cukup. Ambisi keluarga ini benar-benar di luar batasan. Kenapa mereka tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki?
__ADS_1
Yasmin bukanlah konglomerat yang miliarder dan punya harta yang melimpah. Wanita itu hanya seorang yang mapan dan tau bagaimana mengatur keuangan. Mendapatkan saham dari perusahaan ayahnya adalah nilai plus baginya. Warisan yang dia miliki masih ada sampai saat ini, karena dia menjaganya dengan baik. Suatu saat jika Yasmin harus diminta untuk turun tangan di perusahaan, dia harus bisa melakukan. Karena itu sudah perjanjiannya dengan Pak Gito sewaktu dia minta bantuan.
___
Hari ini di kampus, tak ada kelas yang harus Yasmin hadiri. Untuk satu bulan kedepan dia masih bisa sedikit santai. Hingga masa kerja Pak Arga atau Profesor Arga selesai. Kehadirannya di kampus hanya untuk menjadwalkan ulang kegiatannya untuk satu bulan ini. Yasmin bisa lebih fokus berada di kliniknya.
Memilih untuk menjadi dosen adalah pilihan yang tepat. Dia jadi bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus. Tidak sama sewaktu dia menjadi guru. Waktunya lebih banyak berada di sekolah.
"Selamat siang, Bu Yasmin." Sapa beberapa orang mahasiswi saat bertemu di pintu masuk fakultas.
"Siang …." Yasmin tersenyum dengan ramah. Dua orang dari fakultas kedokteran dan satu lagi entah fakultas mana, Yasmin belum pernah bertemu sebelumnya.
"Loh, kamu tau dari mana?" Selain Eza dan beberapa orang teman kerjanya, tak ada lagi yang tau.
"Nggak sengaja dengar di kantin. Bu … kami boleh ikut ya, Bu, ya, ya …," bujuk Nita sedikit merengek."
"Iya, kami kan penggemar Bu Yasmin. Boleh ya, Bu …," renggek Adel juga–seorang lagi mahasiswi kedokteran.
"Emm, sebenarnya nggak ada acara besar, hanya syukuran biasa. Yang hadir juga hanya beberapa dosen dan warga setempat," ucap Yasmin menolak secara halus.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Buk. Kami nggak kebagian makanan juga nggak apa-apa, hehehe," sengir Nita yang di anggukan Adel.
"Baiklah, kalian boleh datang. Tadinya Eza dan Dion juga mau datang, tapi ibu tolak. Tapi kalau kalian ikut, mereka berdua juga boleh ikut." Yasmin akhirnya setuju.
Mereka berdua bersorak kegirangan. Namun, berbeda dari relasi satu lagi mahasiswi yang tak Yasmin kenal. Mendengar nama Eza tadi di sebut, dia sedikit bereaksi.
"Makasih, Buk," kata mereka serentak.
"Iya … nanti Ibu berikan alamatnya, sekalian ibu akan kabarkan pada Eza dan Dion juga. Ibu permisi dulu …." Yasmin meninggalkan ketiga mahasiswi tersebut.
"Oke, Bu Yasmin." Mereka menjawab dengan kompak, lalu bersorak sekali lagi.
Sepasang mata sedang memandangi kepergian Yasmin. "Itu Dosen baru yang kalian ceritakan?" tanyanya pada Nita dan Adel. Mahasiswi itu berasal dari fakultas farmasi–Lisa.
"Iya," Jawab Nita.
"Gue ikut boleh, nggak? Tadi katanya Eza juga ikut, Lo tau kan gue suka sama Eza."
Nita dan Adel yang paham maksud Lisa pun mengiyakan. Mereka yakin Yasmin tidak akan keberatan. Sebagai teman dekat, mereka tentu akan memberikan Lisa kesempatan untuk mendekati Eza. Lisa bisa mengenal Eza juga berkat Rizal–sahabat Eza, yang satu fakultas dengannya. Dia sudah melakukan banyak cara agar Eza sedikit meliriknya, tapi belum berhasil sampai sekarang.
__ADS_1
...***...