
***
Yasmin terlihat sangat gugup. Dia menghela napas berat. Tak ingin ada kesalahpahaman lagi. Kedatangan Fabian sungguh mengejutkan, Eza pasti akan menangani banyak hal. Dia tidak menduga, Fabian bersikap seperti ini!
Tangan Fabian yang menggamit bahunya segera Yasmin turunkan, lagi. "Fab, maaf." Yasmin meraih tangan Eza dan menggenggamnya. "Ini calon suamiku," kata Yasmin jujur.
Fabian lantas terpaku. Santi yang ingin membuka suara pun ikut terdiam. Biarlah Yasmin yang mengendalikan sendiri. Sedangkan penonton yang tengah duduk santai tersenyum geli. Galang merasa lucu dengan sebutan adik angkat untuk Eza. Perbedaan umur Eza dan Yasmin sangat jelas walau keduanya terlihat berbeda dari umur mereka. Wajar saja kalau Fabian akan berpikir seperti itu.
"Ca … lon suami?" tanya Fabian serta kerutan alisnya seakan tidak percaya.
"Iya," Angguk Yasmin tersenyum senang. Ya, tentu saja dia sangat bersemangat memperkenalkan Eza sebagai calon suaminya. Cinta di dirinya telah mengalahkan rasa canggung pada orang terdekat.
Yasmin menggamit mesra lengan Eza dan mengelusnya manja. Mereka saling pandang dan melempar senyum kebahagiaan. Melihat itu Fabian sedikit merasa percaya, tapi belum sepenuhnya yakin. Apa Yasmin sedang mengerjainya sekarang?
"San, Yasmin nggak ngerjain aku, kan?" Bisiknya pada Santi.
"Nggak lah. Lo liat aja sendiri tingkah mereka."
Fabian mengangguk membenarkan. Dalan sudut hatinya yang terdalam. Masih tidak menerima kenyataan ini. Wanita yang telah lama dia idamkan, kenapa bisa tertarik dengan pria jauh lebih muda?
Tatapan mata Fabian bertemu dengan Eza yang tersenyum masam padanya. Mau tidak mau Fabian menarik sudut bibirnya. Senyuman tanpa rasa ikhlas sama sekali. Lebih tepatnya tidak terima kalau Yasmin jatuh cinta kepada pria di hadapannya ini.
"Ya, udah duduk lagi gih." Yasmin mengajak mereka duduk bersama. Sementara tangannya tak lepas dari genggaman Eza. "Kapan kalian sampai?" tanya Yasmin kemudian.
"Baru aja kok. Belum ada satu jam," jawab Santi.
"Banyak yang mau gue cerita sama lo, Yas. Gue udah lama pengen ketemu lo. Tapi gue nggak pernah punya kesempatan. Andai waktu bisa diputar lagi, gue nggak akan melewatkan kesempatan." Perkataan Fabian terdengar dramatis. Terlihat harapan yang tenggelam dari tatapan matanya.
Yasmin sadar akan hal itu. Dia tau Fabian ingin mengungkit masa lalu mereka. Tapi ada Eza di sini, tidak mungkin Yasmin terpancing untuk menanggapi. Genangan tangan Eza terasa mengencang. Yasmin menoleh, kilat kemarahan terlihat dari mata pria itu.
Santi yang mengenali situasi ini. Menepuk tangan Fabian. Mengingatkan kembali kesepakatan mereka sebelum berangkat ke Jogja. Tatapannya tajam begitu Fabian menoleh. Situasi tiba-tiba hening, tegang. Galang sampai bergidik berada di antara mereka, dia sudah bisa membaca keadaan.
__ADS_1
"Eemm, tiga puluh menit lagi klinik buka nih. Aku ada beberapa pasien yang mendaftar." Galang menyelamatkan situasi. Keempat pasang mata itu beralih pada Galang yang meringis, lucu. "So, bisakah kalian temu kangen di lantai dua aja?" tanyanya kemudian.
Eza menghela napas berat. "Senja, aku ke atas dulu." Genggamannya dilepas, lalu berdiri tanpa pamit. Yasmin memandang dengan rasa bersalah.
"San, Fab. Kalau kalian mau istirahat, di ruang santai lantai dua aja dulu ya. Atau mau di kamar pasien. Sebentar lagi aku antar ke hotel. Aku …."
"Kamu naik aja, Yas." Potong Santi. "Aku sama Fabian gampang lah, dimana aja." Dia tau Yasmin sedang mengkhawatirkan Eza. Pria itu pasti sedang marah sekarang.
Yasmin tersenyum kaku pada kedua sahabatnya. "Oke, aku naik dulu ya."
Setelah Yasmin menghilang dari pandangan mata. Santi memberikan cubitan maunya pada Fabian. Pria itu mengaduh kesakitan.
"Aaww, San. Sakit tau. Lo apa-apaan?" Protes Fabian. Lengan kekarnya tiba-tiba menjadi sasaran amukan Santi.
"Gue udah ingetin Lo buat jaga sikap. Tapi Lo ingkar, liat kan? Yasmin jadi berantem sama Eza," seram Santi. Tidak seharusnya dia membawa Fabian ke Jogja.
"Ya, maaf. Gue kebawa perasaan," ucapnya masih mengusap lengannya.
"Lo harus tanggung jawab. Yakinin Eza kalau kalian nggak pernah ada apa-apa."
"Terserah Yasmin lah, mau suka sama siapa aja. Dari dulu kan udah jelas, Yasmin nggak mungkin ada hati sama lo."
Fabian terdiam. Benar, Yasmin dari dulu tak pernah menganggap dirinya lebih dari sahabat. Entah dimana letak salahnya momen perkenalan mereka. Bagaimanapun Fabian mencoba membuka mata Yasmin, tidak pernah terlihat cinta di mata wanita itu.
***
Di lantai dua rumah itu. Yasmin mendatangi Eza di kamar. Entah apa pandangan Eza dengan ucapan Fabian tadi. Yang pasti Eza telah salah paham.
Pintu kamar dibuka secara perlahan. Kepala Yasmin menyembul dan mendapati Eza sedang duduk menunduk tepi tempat tidur.
"Langit." Yasmin menempati sisi kosong sebelah kanan Eza. "Kamu marah?"
__ADS_1
Eza hanya diam. Entah dia harus marah atau tidak. Hingga sekarang masih banyak yang dia belum tau tentang Yasmin. Kapan semua hal akan dia ketahui.
"Langit? Jangan diam, Sayang. Kalau kamu marah boleh, tapi jangan diam kaya gini. Aku bisa jelasin semuanya." Yasmin memohon.
Kecemburuan Eza membuat Yasmin serba salah. Dia tak pernah menghadapi rasa cemburu Eza yang seperti ini. Mungkin Eza sudah melihat sesuatu yang beda dari Fabian.
Eza menghela napas. "Aku semakin merasa kecil di hadapanmu, Senja. Aku cemburu, marah, takut, kecewa kamu belum sepenuhnya mau terbuka. Kamu juga punya masa lalu dengan pria selain mantan suamimu." Pandangannya lurus kedepan. Eza tak sanggup menatap wajah kekasihnya itu.
Kedua tangannya ditangkupkan ke wajah Eza. Menarik agar mereka saling berhadapan. "Langit, jangan salah paham. Aku, Santi dan Fabian itu sahabatan dari lama. Tapi kita memang lost contacts udah lama. Nggak pernah ada hubungan lain selain itu. Percaya, ya!" ucap Yasmin lembut.
"Liat matanya aja udah beda, Senja. Nggak mungkin dia cuma anggap kamu sahabat aja." Wajah Eza terlihat muram, tangan Yasmin diturunkan perlahan.
"Langit, dengar. Aku yang banyak kekurangan, tiba-tiba kenal sama kamu. Kalau boleh jujur, aku baru mengenal apa itu cinta dari kamu, Langit. Aku nggak pernah yakin cinta itu seperti apa. Setelah ketemu kamu, apa yang aku rasakan ke Hilman dulu bukanlah cinta." Punggung tangan Eza dielus penuh cinta, meyakinkan sang pujaan hati.
Kening Eza mengkerut. "Emm, lalu apa?"
"Hanya rasa membutuhkan, mungkin. Aku membutuhkan seseorang dalam hidup aku waktu itu. Hilman datang, aku seperti membutuhkannya. Aku nggak pernah merasakan perasaan yang menggebu-gebu waktu ketemu kamu. Ketika jauh dari kamu, aku rasanya sakit banget. Saat itu aku sadar, cinta yang aku rasakan ke Hilman hanya kebutuhan, bukan keinginan untuk bertahan. Buktinya aku dengan mudah melepaskan dia. Cinta aku sama kamu, selain aku butuhkan juga sangat aku inginkan. Aku benar-benar nggak bisa lepasin kamu."
"Kamu tau dia cinta sama kamu?" tanya Eza.
"Aku tau. Tapi aku nggak tau sedalam apa perasaan Fabian. Gimanapun, cinta nggak bisa dipaksakan. Perasaanku nggak bisa lebih ke dia." Yasmin mengelus lembut wajah Eza. "Jadi, jangan marah lagi, ya? Aku cuma cinta dan sayang sama kamu.
Senyum Eza terbit. "Mau bukti."
"Bukti apa?" Yasmin bingung.
"Bukti kalau kamu sayang dan cinta sama aku." Eza mendekatkan wajahnya perlahan.
Dengan cepat Yasmin menahan. "Nggak, nggak ada ya … nanti keterusan." Yasmin pun bangkit.
Eza berdecak. "Yahhh … kamu mau kemana?"
__ADS_1
"Mau ke kamar mandi."
***