
***
Permainan truth or dare kerap disukai untuk menguji seseorang. Kejujuran atau tantangan. Memang hanya sebuah permainan, tapi terkadang bisa menjadi alat untuk mengungkapkan perasaan. Begitu botol diputar berhenti, peserta yang mendapat giliran harus menjawab pertanyaan dengan jujur atau memilih tantangan jika tak ingin jujur.
"Nahhh, giliran lo Al!" Seru Rizal begitu ujung botol berhenti di depan Aldo. "Truth or dare?" tanyanya kemudian.
"Truth aja deh." Tanpa berpikir, Aldo menjawab dengan mantap.
"Yakin Lo?" Rizal memastikan sekali lagi jawaban laki-laki yang duduk di sampingnya itu.
"Iya."
"Oke, siapa yang mau nanya?"
"Gue aja," jawab Dion. "Kapan pertama kali lo ML?" Pertanyaan Dion sontak membuat beberapa pasang mata tertuju padanya.
Sudah menjadi hal wajar jika lelaki berkumpul, maka pembahasan pun akan mengarah ke topik dewasa. Meskipun hal tersebut hanya permainan dan untuk seru-seruan, tetapi tetap saja harus ada kejujuran yang dipertaruhkan.
"Gila Lo! Gue nunggu nikah dulu lah baru ML." Aldo berseru sembari melirik ke arah Dion.
"Bohong lo, Nyet! Gue tau lo udah ML, jujur aja lo, kalau nggak kita hukum." Terdengar suara Dion penuh penekanan pada Aldo.
"Sumpah beneran, gue nggak pernah! Gue bukan Eza, Bro." Aldo mengarahkan tunjuk pada Eza.
"Gila Lo, kenapa bawa-bawa gue!" Eza yang mendengar namanya disebut pun sontak menatap tajam Aldo.
"Ya emang lo udah, kan? Buktinya calon bini Lo sampai melendung. Gila! Sekali doang langsung jadi, tokcer juga kecebong lo, Bro." Aldo tertawa terbahak-bahak dengan ucapannya. Membuat Dion dan Rizal juga ikut tertawa.
__ADS_1
Eza mendengus kesal. "Hehh, Lo makin nggak bisa dibiarin. Kasih hukuman aja." Eza tak terima dengan ucapan salah satu temannya itu.
"Ente kadang-kadang ente ...." Dion mengeleng, menepuk lengan Aldo. "Gitu juga Eza bertanggung jawab, Bro."
Eza mengambil bedak yang telah dicampur air sebagai media hukuman, lalu meraupkan ke wajah Aldo dengan gerakan memutar hingga penuh. Gerakannya terlihat sedikit kasar, membuat Aldo gelagapan karena bedak itu masuk ke mulutnya. Semua orang tertawa melihat hal itu. Aldo menyemburkan sisa bedak basah itu dari mulutnya.
"Hoii … kena gue nih!" seru Rizal yang duduk di depan Aldo.
"Ya, sorry. Lagian si Eza nggak kira-kira narok bedaknya. Sampe masuk mulut gue, nih." Aldo membela diri.
Suara perdebatan empat orang lelaki itu tampak terdengar seru. Permainan yang memecah suasana hening itu berhasil membuat Fabian dan Galang ikut terkekeh geli.
Detik kemudian, pandangan Fabian terlihat hanya berfokus pada Eza. Tatapan itu disadari oleh Eza yang melirik sekilas ke arahnya. Namun, dia langsung membuang muka ke arah lain, berpura-pura tidak melihatnya.
Obrolan tentang kehamilan Yasmin di yang sempat disebut-sebut tadi, tentu saja membuat telinga Fabian terganggu. Dia juga terus menelisik sisi demi sisi yang ada pada Eza. Dia beranggapan bahwa Eza memang cukup hebat, bisa semudah itu mendapatkan hati Yasmin. Dalam benaknya dia terus bertanya, apa yang membuat Yasmin tertarik padanya. Sedangkan, dia yang dulu berjuang dan dekat dengan Yasmin saja, sangat susah untuk dia dapatkan.
Permainan pun dilanjutkan. "Udah, giliran gue yang muter." Aldo mengambil alir botol di meja, lalu memutarnya.
Setelah beberapa kali putaran, ujung botol itu berhenti dan mengarah kepada Fabian. Sontak semua mata melirik ke arah pria itu, mereka berseru.
"Wahh, Mas Fabian kena. Truth or dare?" tanya Galang pada Fabian.
Fabian memandangi wajah kelima pemuda yang menanti jawabannya. Otaknya tiba-tiba berpikir sesuatu saat melihat pada Eza. "Truth aja. Tanyakan, apa saja yang kalian mau tau," ujarnya kemudian.
"Gue aja yang nanya." Galang mengajukan diri, lalu dianggukkan oleh yang lain. "Mas Fabian punya pengalaman dengan cinta?"
"Tentu saja. Boleh saya cerita?" Mereka pun mengangguk. Fabian berdehem sesaat. "Jadi, dulu aku dekat dengan seorang wanita yang sangat cantik, dia begitu baik, bahkan hampir tak ada celah kurang sedikit pun. Kita sering menghabiskan waktu berdua dulu, ke mana-mana selalu berdua, orang mengira kita menjalin hubungan karena saking dekatnya. Pada akhirnya, aku menyatakan perasaan padanya."
__ADS_1
"Terus, terus gimana selanjutnya? Diterima nggak?"
"Sayangnya, nasib cintaku tak seberuntung jack di film titanic. Dia menolakku, tapi nggak pa-pa sih. Setidaknya aku bisa memberikan pelukan dan ciuman perpisahan untuk terakhir kalinya sebelum kita berpisah jarak. Dan sampai saat ini kita kita masih berhubungan baik. Walaupun dia sudah mempunyai pasangan."
"Waah keren ...." Dion merespons cerita Fabian. "Ada fotonya nggak, Bang? Kasih lihat dong!"
"Foto? Banyak foto kita berdua yang masih kusimpan rapat-rapat. Ya, tentu saja hal itu akan menjadi kenangan terindah di hidupku. Dia wanita satu-satunya yang berhasil mengubah hidupku."
"Mana fotonya, Bang?" timpal Dion lagi karena begitu penasaran.
"Aku nggak akan kasih lihat ke kalian karena itu privasi. Tapi, aku akan menggambarkan sosoknya. Jadi, wanita itu berambut panjang, berkulit putih, senyumnya manis, lembut, tidak terlalu tinggi, dan dia mempunyai lesung pipi sebelah kanan. Sudah terbayangkan cantiknya seperti apa?"
Mendengar kalimat panjang yang diucapkan Fabian, Eza merasa sosok wanita itu adalah Yasmin. Hatinya bergemuruh panas seolah ada api membara yang membakarnya. Tatapan matanya tajam tertuju pada Fabian. Fabian hanya menanggapinya dengan santai, tetapi bisa membaca raut wajah Eza yang terlihat menahan amarah.
“Yah, kenapa pas cerai nggak lo sikat aja, Bang!” sahut Rizal, dia tampak begitu antusias mendengar cerita Fabian.
Eza memutar bola matanya ke arah Galang, dia seolah memberi isyarat bahwa Fabian adalah orang yang menyebalkan. Hanya mereka bertiga yang tahu apa yang terjadi. Hanya saja, Eza masih mengontrol kesabarannya. Dia tidak mau gegabah malam ini. Jika Eza mau, dia bisa saja berhadapan dengan Fabian langsung. Namun, jika itu terjadi, maka tentu saja dia akan jelek di mata lelaki itu—menganggapnya kekanak-kanakan.
Sementara itu, di kamar lain Yasmin dan Santi tengah berada di kamar mandi, tepatnya duduk di sandaran bath up, sedangkan Yasmin duduk di depannya. Santi membantu mengoleskan lulur di punggung Yasmin dengan telaten dan sesekali juga memijatnya. Meski pekerjaan ini biasa dilakukan di salon, tetapi Santi juga tak kalah hebat memberi pelayanan pada sahabatnya itu.
“Yas, malam ini kamu harus total membersihkan diri. Biar berasa legit nanti pas malam pertama. Ya, meskipun bukan yang pertama lagi, sih!” Santi tertawa lepas karena menggoda Yasmin.
“Apaan sih, San. Nyebelin banget! Kamu kira kue lapis pakai legit-legit segala!”
Obrolan keduanya juga tak kalah seru meskipun hanya berdua. Santi tak ada habisnya menanyai Yasmin tentang Eza.
***
__ADS_1