
...***...
Yasmin menatap mata Eza lekat-lekat. "Memangnya apa yang salah dengan ucapanku? Bukankah semua orang juga tidak akan tahu sampai kapan mereka hidup dan meninggal di umur berapa.”
“Ya, memang tidak ada yang salah, tapi tidak perlu dipertegas seperti itu, Senja, seolah kamu menyembunyikan penyakit mengerikan." Eza berpikir sejenak. "Sebentar, Senja ... aku penasaran, sebenarnya kenapa akhir-akhir ini kamu berbeda? Kamu terlihat aneh sejak pulang dari Kaliurang waktu itu, kamu seperti sehat, tapi terlihat sakit, dan sampai sekarang pun kamu sering muntah ... kamu sakit apa, Sayang? Jujurlah padaku, jangan ada yang disembunyikan. Bukankah kita sudah sepakat untuk saling terbuka?” Eza menatap Yasmin intens, dia mencurigai sesuatu yang dipendam oleh Yasmin, bahkan dari tingkah laku wanita itu sangat sulit ditebak oleh Eza.
“Langit, Sayang. Kamu kenapa, sih, terlalu berpikir jauh!” Yasmin lalu terkekeh, dia berusaha mengalihkan pembicaraan agar Eza tidak menghujaninya dengan banyak pertanyaan.
Yasmin mencubit hidung Eza, kemudian mencubit juga kedua pipinya dengan gemas. Wanita itu lalu mengecup bibir Eza yang bungkam karena melihat Yasmin dengan penuh teka teki.
Mendapat perlakuan tersebut, Eza lantas menggelitik Yasmin. Tawa keduanya seolah menggema di kamar tersebut, terdengar sangat bahagia. Yasmin terus berteriak meminta ampun. Selang beberapa saat, Yasmin berhasil lepas dari tangan Eza yang terus memainkannya, membuatnya kegelian saat digelitik. Wanita itu pun menjauh dan berlari kecil menuju ranjang, menghindari serangan gemas Eza.
Akan tetapi, Eza menyusulnya. Saat Eza hendak menyerang Yasmin, Eza tak sengaja mendorong tubuh Yasmin dan pada akhirnya, lelaki itu mengungkung tubuh wanita itu di bawahnya. Kedua pasang mata tersebut saling tatap, wajah mereka bahkan tak berjarak. Perlahan, Eza mendekat dan mempertemukan bibirnya dengan bibir ranum Yasmin yang begitu menggodanya.
Dikala rasa cinta kini bergejolak, di saat itulah kedua insan ini saling memberi kehangatan. Kerinduan yang telah lama terpendam ingin diluapkan disaat itu juga. Yasmin pun tak dapat menyangkal dia tak dapat menahan dirinya. Dia kini kembali menyerahkan dirinya pada Eza. Dia sangat mencintai lelaki itu. Begitupun sebaliknya.
Yasmin melenguh karena penyatuan kedua bibir mereka. Tangannya yang telah melingkar indah di leher Eza, merayapi bagian belakang rambut pria itu. Dia sadar, mereka akan melakukan kesalahan ini untuk yang kedua kalinya. Dia menikmati setiap sentuhan tangan Eza yang kini telah berada di tubuhnya.
Sesaat kemudian, Eza melepaskan penyatuan bibir mereka. "Senja, kamu mau melakukannya?" bisik pria itu dengan suara beratnya. Dia juga sudah tak kuat lagi menahan kerinduannya pada Yasmin.
Pertanyaan Eza dibalas anggukan kepala. "Tolong, pelan-pelan saja, Langit." Yasmin akan membuat Eza berhati-hati untuk menjaga janin di rahimnya. Eza pun menganggukan kepala.
__ADS_1
Bagaimana lagi Yasmin akan menolak. Dia wanita normal yang membutuhkan sentuhan lelaki. Dia tak ingin menjadi munafik, yang menolak, padahal sangat menginginkannya. Soal kehamilannya dia pasti akan jujur, walau nantinya Eza tak dapat menerimanya.
___
Pukul dua malam, mereka memutuskan untuk pulang. Sebenarnya mereka tak ada rencana untuk menginap. Jika bukan karena Yasmin sakit, mereka bisa melanjutkan liburan yang singkat ini. Meskipun begitu, ini sudah sangat menyenangkan bagi Yasmin maupun Eza. Hanya menghabiskan waktu dengan orang yang dicintai, itu sudah membahagiakan.
Eza terus memandangi Yasmin yang sejak tadi terus terdiam tanpa kata. “Sayang, kenapa dari tadi diam? Apa yang kamu pikirkan?” tanya Eza, lelaki itu melihat Yasmin seolah terbebani dengan suatu masalah besar. "Apakah Senja menyesal dengan apa yang baru saja kami lakukan?" batin Eza.
“Nggak apa-apa, Langit. Aku hanya sedikit capek.” Yasmin berpikir, kapankah saat yang tepat untuk jujur.
“Kamu pikir aku akan mempercayainya, Sayang? Nggak. Aku nggak akan percaya saat kamu bilang ‘nggak apa-apa.' Katakanlah, aku akan bersedia mendengarkannya. Jika ada masalah, berbagilah denganku. Aku akan siap menjadi pendengar setia, siapa tau aku bisa memecahkan masalahmu, kan?” Eza berkata tanpa rasa bersalah. Padahal dialah sumber masalahnya sekarang, kalau saja Yasmin punya keberanian untuk mengatakannya, sudah pasti saat ini dia sudah siap akan jawaban Eza.
“Kamu yakin mau mendengarnya?”
“Kalau begitu, bisa kita menepi sebentar? Aku akan mengatakannya sesuatu.”
“Baiklah.” Eza pun memberhentikan mobilnya tepat di bahu jalan yang cukup sepi kendaraan, sehingga kendaraannya tidak menghalangi kendaraan lain yang lalu lalang.
“Langit, aku akan bertanya satu hal, dengarkan baik-baik dan aku tidak akan mengulangi pertanyaanku. Paham?”
“Ya, ayolah, Senja. Jangan membuatku penasaran."
__ADS_1
Wajah Yasmin menegang, jantungnya berdegup kencang, napasnya pun berusaha diatur agar bisa mengimbangi oksigen yang masuk. Pikirannya kini berusaha merangkai kalimat agar pertanyaannya kali ini tika membuat kesalahpahaman.
“Langit, jika ... hem, misalnya kamu akan punya anak dalam waktu dekat, apa kamu siap?”
Eza tertawa mendengar pertanyaan Yasmin yang baginya sangat konyol. “Senja, pertanyaan apa itu? Aku pikir kamu akan bertanya sesuatu yang penting.”
“Langit, aku serius. Aku hanya ingin mendengar jawaban kamu. Jawaban kamu akan menentukan apakah aku harus melanjutkan ceritaku atau tidak.”
Eza semakin bingung dibuatnya. “Anak ... bahkan aku sama sekali tak memikirkan hal itu untuk sekarang ini, Senja. Kamu kenapa menanyakannya? Sebenarnya, kemana arah pembicaraan kamu ini? Jangan membuatku semakin bingung, Sayang.” Eza mengelus pucuk rambut Yasmin.
Yasmin yang mendengar jawaban Eza, dia seperti kecewa. Dari kemarin—saat berada di kamar, dia memang sudah bisa membaca pikiran Eza jika lelaki itu memang tidak bisa menikahinya untuk waktu dekat. Namun, untuk kali ini, dia hanya berharap respons positif dari Eza jika mengetahui kehamilan itu.
“Oke, sekarang aku akan menjawab kecurigaanmu akhir-akhir ini, kenapa aku berubah, kenapa aku aneh, kenapa aku sering muntah. Itu semua karena aku sedang hamil, Langit!" Yasmin berucap sembari memejamkan matanya, bersiap menerima kemungkinan terburuk respons yang didengarnya dari mulut Eza.
Eza seketika terdiam dan meremas setirnya kuat. Matanya terus menatap Yasmin yang tengah menunduk, menahan buliran hangat yang seakan sudah berkumpul di pelupuk mata. Lelaki itu, dia bingung harus berkata apa. “Senja, kamu ... apa kamu serius?”
“Buat apa aku main-main dengan hal sensitif seperti ini, Langit?" Yasmin menoleh, menangkap tatapan Eza.
“Lalu, itu anak siapa? apa ... itu anak mantan suami kamu? Kenapa kamu tidak bilang dari awal, Senja?”
“Langit! Kamu pikir aku wanita apa? Aku hanya melakukannya denganmu setelah bercerai. Kamu berpikir aku wanita murahan yang mau melakukan hubungan itu dengan siapa pun? Tega ya, kamu!”
__ADS_1
Buliran hangat itu mulai menetes deras seiring dengan emosinya yang memuncak Yasmin menatap lekat mata Eza, sedangkan lelaki itu masih diambang kebingungan diam seribu bahasa, tanpa mengatakan sepatah kata pun.
...***...