Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Tak dapat menyangkal


__ADS_3

...***...


Sebuah bukti yang diperlihatkan Eza, membuatnya tak dapat menyangkal lagi. Yasmin tak berpikir jika Eza bisa keras kepala seperti ini.


"Bagaimana?"


"Sebaiknya kita bicara lain kali saja. Aku ada urusan penting." Yasmin berlalu pergi.


"Jadi kamu sudah mengakuinya?” tanya Eza dengan tatapan penuh harap agar Yasmin mengakui dirinya sebagai Senja. Namun, Yasmin malah melangkah dengan tergesa-gesa dan meninggalkannya begitu saja. “Senja tunggu!"


Tanpa mempedulikan pria itu, Yasmin terus berjalan ke halte. Menunggu taksi, ojek atau apa pun yang bisa ditumpangi karena motornya masih berada di bengkel. Dengan cepat Eza menyimpan buku gambarnya dan mengikuti Yasmin lagi.


“Hey! Senjaku. Ikutlah bersamaku, aku akan mengantarmu!” teriak Eza tanpa rasa malu saat melihat Yasmin tengah menyeberang.

__ADS_1


Yasmin masih tetap diam mengabaikan Eza, dia bahkan menganggap pria itu tak ada dan tengah mengejarnya. Padahal, dalam hati Yasmin begitu berkecamuk. Ingatannya akan semua yang ada di Bali terputar di kepalanya. Apalagi tentang hari yang mereka habiskan di ranjang. Yasmin pun bergidik ngeri mengingatnya. Betapa malunya dia jika harus mengakui sebagai Senja yang bahkan perilakunya saja tak pantas jika mengingat dirinya sekarang adalah dosen.


"Kau tahu, aku sangat merindukanmu,” gumam Eza ketika dia menaiki motornya. Kemudian bergegas menyusul Yasmin yang tengah berdiri di tepi jalan. Eza mulai tidak sabar, dia pun turun, lalu mengangkat tubuh Yasmin dan menaikkannya ke atas motor, tanpa persetujuan wanita itu.


Hampir saja Yasmin menjerit dan mencuri perhatian beberapa orang yang ada di dekat mereka. “Kamu apa-apaan sih?” Lepasin! Aku akan teriak biar semua orang dengar dan menghajarmu. Dasar nggak tau aturan!”


“Teriaklah! Teriak sepuasmu, aku akan mendengarnya, Bidadariku.” Eza terkekeh, semakin Yasmin marah, semakin dia ketagihan untuk menggodanya. Rasa rindu yang dipendamnya kini terbayar saat melihat Yasmin di depan matanya. Omelan ataupun kemarahan Yasmin tak berpengaruh apa pun.


Eza langsung menaiki motornya, Yasmin tak sempat turun karena cukup tinggi. Dia bisa saja jatuh jika dia harus turun tanpa hati-hati dan melompat. Apalagi kini dia sedang memakai rok panjang. Tidak lucu jika dia terjerembab di depan umum. Kali ini Yasmin terpaksa menurut dan mengikuti kemauan Eza, meskipun sebenarnya dia enggan untuk mengenang kembali rasa itu bersama.


Yasmin berpegangan pada jok bagian belakang, dia takut akan jatuh. "Aku tidak mau, aku mau turun!"


“Aku tidak akan menurunkan atau bahkan melepaskanmu, Senja," ucap Eza tak mau mengalah. Saat Yasmin diam tak lagi membantah, dia tersenyum kecil. "Kamu bilang ada urusan penting, aku akan mengantarmu. Kamu mau ke mana?"

__ADS_1


“Bengkel,” jawab Yasmin singkat.


“Bengkel mana?”


“Dekat perempatan depan sana." Yasmin terlihat sangat kesal. Terdengar dari nada bicaranya yang datar. Dia menghindari tatapan mata Eza yang masih menoleh melihat ke arahnya.


Eza mengalihkan pandangan ke depan. Membiarkan Yasmin dengan wajah masamnya, dia justru merasa itu sangat lucu. Sekian detik kemudian, Eza masih belum menyalakan mesin dan masih diam di tempatnya.


"Kenapa nggak jalan?"


"Kamu belum pegangan, bagaimana aku bisa jalan. Kalau kamu jatuh gimana, aku nggak mau kamu terluka, Senjaku …." Eza membuat alasan, yang mungkin bagi Yasmin itu terdengar mengada-ada. Kedua tangannya telah siap pada kemudi.


Yasmin memutar bola matanya. Meskipun itu sedikit kesal, tetapi hatinya merasakan sesuatu yang berbeda ketika pria itu menggoda. Dengan terpaksa Yasmin meletakkan tangannya ke baju Eza bagian samping dan meremas jaket jeans yang dikenakan Eza. Namun, Eza menarik tangan Yasmin dan dibawa ke perutnya. Satu tangan Eza menepuk pelan punggung tangan Yasmin, sekejap menggenggamnya erat dan kemudian segera melajukan motornya.

__ADS_1


Ada desiran hebat menyerang tubuh Yasmin, gejolak dirinya bereaksi ketika tangannya digenggam oleh Eza—lelaki yang pernah singgah di hatinya. Wanita mana yang tak akan luluh hatinya, jika menerima perlakuan manis dari seorang pria.


...***...


__ADS_2