Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Membujuk


__ADS_3

...***...


Saat kedua tangan Eza berada di genggaman Yasmin, Eza berpura-pura terus dingin karena menikmati sentuhan tangan wanita itu dan membiarkannya terus berusaha membujuknya. Lelaki itu tersenyum dalam hati melihat usaha Yasmin.


“Lalu, apa tadi maksudnya? Dia tinggal


bersamaku? Apa kamu tidak salah, Senja?” Eza memastikan perkataan Yasmin beberapa menit yang lalu.


“Itu ... aku hanya memberikan usul. Jika kamu tidak keberatan, mungkin untuk sementara Galang bisa tinggal di tempat kamu sambil mencari rumah kontrakan yang nyaman buat dia.” Tatapan matanya sedang mencari pembenaran. "Jadi kamu akan sekamar dengannya?"


“Ya ... daripada dia harus tinggal di sini bersamamu, lebih baik denganku. Lagi pula, aku tahu, lelaki itu tidak mungkin tinggal di sini berduaan denganmu di rumah ini. Apa kamu melupakan imej dokter yang susah payah kamu bangun, Senja?”


“Ya, kamu tahu kan, aku hanya menggertak supaya kamu mau menerima tawaranku.” Yasmin mengedipkan satu matanya sedikit menggoda.


Kali ini, usaha Yasmin berhasil membujuk Eza agar tak marah lagi dan mau membantunya perihal tempat tinggal Galang. Dia tidak pernah berpikir akan tinggal berdua dengan Galang, bukankah tadi dia sudah bilang akan membawa Suci ikut menginap? Eza sepertinya tidak mempermasalahkan ucapan Yasmin yang itu. Pria itu pasti fokus pada kalimat sebelumnya.

__ADS_1


“Tapi, aku masih marah sama kamu, Senja. Hati aku sakit melihat kalian saling melempar senyum, apalagi dia memanggilmu dengan panggilan ‘Mbak'. Sok akrab sekali lelaki itu.” Eza menghembuskan napas kesalnya dan terus berpura-pura marah terhadap Yasmin.


Suara derap sepatu terdengar nyaring di telinga Yasmin dan Eza, keduanya panik dan saling menatap satu sama lain. Galang sudah keluar dari kamar mandi dan segera menuju ruang tengah. Lelaki itu melihat sekeliling, tak ada siapa pun.


“Ke mana mereka pergi?” batinnya penasaran.


Eza dan Yasmin terjebak di ruangan tersebut, jika dua-duanya keluar sudah dipastikan galang akan melihat mereka dan memergokinya. Akan tetapi, jika tidak keluar, tidak mungkin berlama-lama di ruangan tersebut.


"Aku keluar dulu, nanti kamu menyusul setelah aku mengajak Galang ke ruang periksa pasien,” bisik Yasmin pada Eza. Wanita itu berjinjit dan mendekat ke telinga lelaki tersebut.


Dahi Yasmin berkerut, dia sedikit mencubit lengan Eza. Wanita itu kembali berjinjit dan dengan gerakan cepat, dia mencium pipi Eza. Lelaki itu begitu terkejut, baru kali ini Yasmin berinisiatif menciumnya. Eza memegangi pipinya. Namun, tangan Yasmin tak juga dilepasnya saat yasmin hendak berbalik dan keluar dari ruangan itu, Eza menariknya lagi hingga Yasmin berada di dekapan Eza.


Yasmin melotot, dia geram karena Eza menahannya untuk pergi. Wanita itu kini bersikap lebih berani agar Eza segera melepaskan genggamannya, Yasmin dengan cepat mengecup bibir Eza. Lelaki itu terkejut, matanya membola sempurna saat menerima kecupan singkat dari wanitanya. Dia langsung melepaskan Yasmin dan wanita itu berjalan tergesa-gesa keluar dari ruangan.


"Kamu mulai nakal, Senja," gumannya seraya tersenyum. Dia sedang memikirkan cara untuk bisa berduaan dengan Yasmin, agar dia bisa membalas.

__ADS_1


Saat Yasmin sampai di ruangan tengah. Galang telah duduk di tempatnya lagi. Pria itu tidak menyadari kedatangannya, karena sedang memainkan ponsel.


"Galang, sudah selesai?" tanyanya hanya sebagai basa-basi.


"Sudah, Mbak. Mbak Yasmin darimana?"


"Dari dapur sebentar, lihat apakah malam ini ada yang bisa dimasak." Yasmin mengulas senyumnya. "Oya, hari ini kamu dan Eza makan malam di sini aja, saya akan memasak sesuatu."


"Nggak usah repot-repot, Mbak. Saya bisa makan di luar aja."


"Anggap aja makan malam ini untuk menyambut kedatangan kamu dan rasa terima kasih saya pada Eza mau menerima kamu tinggal bersamanya."


Tanpa dia sadari, Eza sedang menguping pembicaraan mereka. Sedikit marah, tapi Eza senang mendengar Yasmin akan memasak makanan. Dia sudah lama ingin mencoba masakan Yasmin.


...***...

__ADS_1


__ADS_2