
...***...
Yasmin yang melihat Eza pun tersenyum, tetapi lelaki itu justru membuang wajahnya ke arah lain. Yasmin pun dengan tiba-tiba menjauhkan ponselnya dan menatap layar saat memantulkan wajahnya di sana. Kamera menyala, memperlihatkan Eza yang ada di belakangnya.
Satu jepretan berhasil dia ambil. Lalu, Yasmin memanggil, “Langit!”
Lelaki itu pun menoleh, sadar akan perbuatan Yasmin yang hendak berfoto, Eza pun mendekat dan langsung mengulas senyum termanis. Matanya bukan mengarah pada kamera, melainkan menatap wajah Yasmin dari samping. Seolah terlihat dia memperhatikan wajah Yasmin dari dekat.
“Satu lagi!” perintah Eza. Yasmin pun menurut.
Namun, saat Yasmin meng-klik tombolnya, dengan cepat Eza mencubit dagu Yasmin, sehingga wanita itu pun menoleh ke arahnya. Wajah mereka sangat berdekatan saling bertatapan. Foto terakhir begitu tampak sempurna, apalagi dibelakangnya terdapat pemandangan yang begitu indah.
“Sempurna! Kirim kepadaku sekarang, Senja. Aku akan menjadikannya wallpaper depan.” Eza tertawa dan gemas melihat ekspresi Yasmin yang berhasil dijebaknya. Lelaki itu pun memencet pelan hidung Yasmin.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, Yasmin mau begitu saja diajak berselfi oleh Eza. Perlakuan Eza malah membuatnya diam-diam tersenyum.
Perlahan, matahari pun mulai tertutup awan. Bukan karena hari sudah petang, melainkan awan gelap tersebut begitu tebal pertanda akan segera turun hujan. Keduanya kini memutuskan untuk menyudahi jalan-jalannya. Saat baru melajukan motornya. Tiba-tiba saja rintik hujan mulai membasahi bumi.
“Senja, kita berteduh dulu, ya!” ajak Eza saat motornya melaju pelan.
“Nggak usah, terus aja. Ini cuma gerimis, bukan hujan deras. Kalau berteduh kita nggak akan sampai rumah nanti.”
Belum lama Yasmin berucap, hujan malah semakin deras. Mau tidak mau, Yasmin dan Eza terpaksa membelokkan motornya di sebuah emperan ruko kecil yang sudah tutup.
“Langit, kamu mau ngapain belok ke sini? Jangan macam-macam, ya!” ancam Yasmin yang tampak mulai curiga dengan sikap Eza yang tiba-tiba membelokkan motornya tepat di halaman penginapan.
“Lihat, bajumu basah! Nanti masuk angin! Kamu harus mengeringkannya, sambil kita tunggu hujannya reda. Apa aku bodoh membiarkanmu kedinginan seperti ini?”
__ADS_1
Yasmin terdiam, dia teringat akan kejadian di Bali waktu. Wanita itu begitu takut sesuatu itu akan terulang kembali. Menautkan rasa cinta mereka di atas ranjang. Namun, Yasmin segera menepis pikiran kotor tersebut, mengingat dirinya kini sudah menggigil menahan dinginnya air hujan bercampur udara pegunungan, begitu menusuk hingga ke tulang. Membuat sarafnya sedikit kaku.
Setelah Eza memesan kamar, dia langsung menemui Yasmin yang tengah duduk di sudut ruang. Dia lalu menggandeng Yasmin, wanita itu hanya pasrah. Berbicara pun rasanya sudah tak sanggup karena bibirnya bergetar karena kedinginan.
Sesampainya di depan kamar, Eza lalu membuka pintu tersebut dan menyerahkan kuncinya pada Yasmin, “Ini kunci kamarnya, masuklah! Aku di kamar sebelah. Hangatkan tubuhmu, jangan lupa kunci pintunya, jangan dibuka jika ada yang mengetuk selain aku.”
Penginapan sederhana dan terdekat itu minim keamanan. Tidak seperti hotel berbintang pada umumnya. Namun, untuk tempat tidur dan kamar mandi semuanya bersih dan tertata rapi.
Setelah meletakkan barang-barangnya, Yasmin pun segera mandi air hangat. Paling tidak bisa menghilangkan rasa dingin di sekujur tubuhnya. Karena tempat itu hanya berupa penginapan sederhana. Yasmin hanya bisa menemukan handuk saja. Setelah selesai, Yasmin menggantung pakaiannya agar bisa kering, dia tidak tahu apakah ada layanan laundry kilat di penginapan itu.
Yasmin memakai tiga handuk ditubuhnya. Satu dililitkan ke badan, satu untuk menutupi bahunya yang terbuka dan satu handuk kecil melilit di kepalanya. Handuk itu lebarnya hanya sebatas lututnya, jadi kakinya putih dan jenjang pun jelas terlihat.
Walaupun sudah mandi air hangat, tapi tubuhnya masih terasa dingin. Kepalanya juga sedikit terasa pusing. Yasmin pun segera berbaring dan menyelimuti dirinya dengan selimut.
__ADS_1
...***...