
...***...
Pukul 14.00, Yasmin masih sibuk mengatur persiapan acara. Catering makanan belum juga datang sementara acar sudah akan dimulai satu jam lagi. Beberapa warga sudah ada yang hadir, termasuk perangkat desa seperti RT dan RW. Yasmin juga mengundang Pak Kades, jika tidak ada halangan beliau juga akan hadir.
"Bu Dokter, kata tukang catering mereka hampir sampai. Tadi sempat salah arah, jadi mereka harus putar balik." Sari memberi laporannya.
"Syukurlah, Mbak. Acara kita bisa dilaksanakan sesuai jadwal." Yasmin mengelus dadanya.
Yasmin juga harus melayani warga yang datang. Mereka semua dipersilakan untuk duduk terlebih dahulu. Untung saja di saat Yasmin tinggal, Suci berinisiatif untuk meminjam tenda balai desa. Sehingga mereka tidak kepanasan karena cuaca sore itu. Yasmin lupa menyiapkan yang satu ini.
Ketika Yasin sedang berbincang dengan ketua RW dan RT. Tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya dari belakang.
“Bu, Yasmin.” Sapa seorang pria yang membuat Yasmin berbalik.
Yasmin meminta izin sebentar pada kedua pria yang tadi mengobrol bersamanya. “Saya permisi sebentar bapak-bapak,” ucap Yasmin kepada keduanya.
“Mereka siapa, Bu Dokter?” Tanya si ketua RT.
“Anak didik saya di kampus, Pak.”
“Oo, kalau begitu baiklah, kamu juga akan kembali duduk.”
Yasmin pun mempersilahkan mereka untuk pergi. Kemudian Yasmin pun berbalik. Eza dan Dion telah berdiri di belakangnya sambil tersenyum. “Kalian sudah disini?” Yasmin melirik pada Eza, dia menatap mata pria itu, seolah memberi isyarat agar menjaga kelakuannya.
__ADS_1
“Iya, Bu. Ada yang bisa kami bantu Bu Yasmin? sepertinya disana sedang kerepotan.” Eza menunjuk pada Suci dan beberapa orang Catering menata makanan.
Yasmin mengikuti arah tunjuk Eza. “Kalian mau bantu?” tanya Yasmin, Eza dan Dion mengangguk. Lalu Yasmin teringat akan sesuatu yang belum sempat dia pindahkan. “Ikut Ibu.” Dengan raut wajah datar dia meninggalkan Eza dan Dion.
Kedua mahasiswanya itu diajak untuk masuk ke dalam rumah. Yasmin berjalan sedikit jauh di depan mereka. Eza memandangi punggung Yasmin, lalu membatin, “Kamu memang luar biasa, Senja. Masih terlihat mempesona, meski sikap wibawa kamu tunjukkan”
Dion tiba-tiba menyenggol bahunya. “Lo yakin, kalian udah jadian? Kenapa sikapnya ke Lo biasa aja?” tanyanya berbisik.
“Senja maunya gitu, Yon. Gue kan udah kasih tau Lo kalu ini rahasia,” jawab Eza yang juga berbisik.
“Tapi beda dari biasanya.”
“Mungkin nggak tahan saat liat muka gue, pengen langsung peluk. Sudahlah, ikuti aja.”
Acara syukuran klinik baru Yasmin dilaksanakan tepat pukul tiga sore. Setelah menyampaikan kata sambutan dari beberapa pihak. Yasmin memberikan sedikit penyuluhan kepada warga yang hadir. Dia bersyukur, kehadirannya sebagai dokter di desa itu bisa diterima dengan baik oleh warga. Terbukti dengan banyaknya warga yang datang melihat peresmian kliniknya.
Acara pemotongan tumpeng dilakukan oleh Yasmin, Prof Arga serta Pak Kades. Para tamu undangan mengucapkan selamat selamat kepada Yasmin atas diresmikannya 'Klinik Mahesa' yang diambil dari nama belakangnya. Mereka juga mendapat satu kotak nasi kuning untuk makan di tempat. Setelah acara makan-makan selesai, Yasmin membagikan brosur kliniknya kepada semua warga yang hadir.
Sebagian besar warga sangat senang begitu membaca isi brosur yang Yasmin berikan. Jika mereka datang untuk berobat, Yasmin menggratiskan biaya pemeriksaan dan biaya konsultasi. Mereka hanya perlu membayar obat saja saat selesai diberikan resep. Tarif yang Yasmin berikan sangat murah, tentu saja mereka sangat senang. Dimana lagi ada klinik pribadi yang seperti ini.
"Bu Dokter!" Salah satu warga pria memanggil Yasmin.
"Iya, Pak … ada pertanyaan?" Yasmin pun menjawab.
__ADS_1
"Ini benar? Kami hanya perlu membayar obat aja? Dan obatnya juga murah, Dok?" tanya bapak itu.
"Iya, Pak. Sesuai dengan yang tertulis di brosur," jawab Yasmin tersenyum.
"Masha Allah … Bu Dokter Yasmin baik sekali. Kita semua sangat bersyukur Bu Dokter datang ke desa kami! Benar, kan, bapak-bapak, Ibu-ibu!" Serunya pada Yasmin dan semua warga.
"Bener, bener."
"Bener."
"Terima kasih Bu Dokter."
Beberapa warga mengucapkan terima kasih mereka bergantian. Eza yang memperhatikan dari jauh bagaimana berlangsungnya acara tersebut, terlihat sangat bangga dengan kekasihnya.
"Za, pacar Lo nggak salah? Dia mau buka klinik bukan buat berbisnis, dia mau jadi relawan?" tanya Dion yang berbisik ke Eza.
"Senja gue emang paling sempurna, gue nggak salah milih dia." Balas Eza.
"Za, Za … gue curiga, jangan-jangan Bu Yasmin sultan, dong," bisiknya lagi.
Ucapan Dion membuat Eza pun terdiam. Dia sempat melihat-lihat ke dalam klinik, peralatan dan obat-obatan yang Yasmin pakai adalah kualitas premium. Dilihat lagi dari acara yang Yasmin adakan, jika dihitung bisa menghabiskan modal yang banyak. Eza tak pernah berpikir, jika Yasmin sekaya ini.
...***...
__ADS_1