Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Bu Dokter


__ADS_3

...***...


Yasmin akan sangat sibuk hari ini. Sebagai seorang dokter dia sudah yakin bahwa gejala yang dialami saat ini adalah karena hamil. Hanya saja Yasmin tidak bisa memprediksi, sampai dimana perkembangannya. Dia harus memeriksakan diri ke dokter kandungan. Namun, kesibukan hari ini tak bisa ditunda. Untung saja di klinik ada tersedia obat penghilang rasa mual kerena kehamilan. Yasmin akan meminum itu untuk sementara.


Sebelum berangkat ke kampus, Yasmin harus menyerahkan beberapa hal kepada Sari terlebih dahulu. Dia juga sedang menunggu seorang dokter baru untuk membantunya selama di klinik. Profesor Ali yang merekomendasikannya, dokter itu datang langsung dari Jakarta. Yasmin harus bisa membagi waktu antara di kampus dan klinik. Untuk itu dia memerlukan bantuan dokter lain.


Yasmin sudah pernah berhadapan langsung dengan pasien sebelumnya. Saat masih menjadi dokter magang dia bekerja di rumah sakit, lalu selama satu tahun setelah gelar dokter dia dapatkan. Sekarang dia hanya perlu membiasakan diri kembali.


“Mbak Suci, tolong urus yang ada di sini dulu ya. Saya mau ke kampus setelah itu ke Dinas Kesehatan. Siang saya udah balik, kok.” Yasmin menyerahkan daftar apa saja yang harus selesai sebelum jam makan siang.


Kertas di tangan Yasmin dia terima. “Iya Bu Dokter, saya atur sesuai arahan Bu Dokter.”


“Apaan sih Mbak, panggil seperti biasa aja.” Yasmin terkekeh.


“Loh, sekarang kan memang mau ngobatin orang. Jadi panggilnya juga harus beda,” ucap Suci tertawa kecil.


“Ya udah … terserah Mbak Suci aja.”

__ADS_1


Hanya dalam waktu dua minggu, mereka semakin akrab seperti saudara. Suci satu-satunya yang enak diajak ngobrol. Yasmin pun sudah percaya pada ibu dua anak itu. Dia juga sangat prihatin dengan kehidupan Suci yang hanya mengandalkan pekerjaan serabutan dari berbagai tempat. Menjadi buruh cuci, borongan jahitan, kadang dapat pekerjaan membersihkan rumah orang. Untung saja untuk kebutuhan anak-anaknya, sang mantan suami masih bertanggung jawab. Walau tidak banyak, cukup untuk menambah uang sekolah.


Yasmin berdiri di halaman rumahnya dan memandang dari kejauhan. Rumah tipe lama yang dibeli secara dadakan, akhirnya berguna juga untuk warga sekitar. Sebuah banner sederhana terpasang di depan rumahnya. Yasmin memesannya tiga hari yang lalu, hanya untuk sementara. Plakat yang lebih bagus masih dalam proses pengerjaan.


Deretan kursi yang dipinjam dari balai desa, juga telah disusun oleh warga yang datang membantu. Untuk makanan para tamu akan datang setelah jam makan siang. Dekorasinya juga hanya sederhana. Setelah acara peresmian ini, klinik resmi dibuka keesokan harinya. Yasmin berharap semuanya akan berjalan lancar.


___


Jakarta, di kediaman Hilman dan keluarganya.


"Mas, masih punya uang nggak? Aku mau bayar arisan." Dengan tak tau malunya Astrid menadahkan tangan.


Hilman yang sedang memegang koran, seketika emosi. Membaut Astrid tersentak. "Kamu selain minta uang, nggak ada urusan lain? Nggak liat kondisi kita sekarang? Cari kerjaan! Jangan taunya buang-buang waktu!" Tatapan matanya tajam pada Astrid.


"Mas! Kamu bisanya cuma marah!" Astrid membalas.


Hilman memijat kepalanya, pusing memikirkan kelakuan adiknya. "Kamu pikir aja sendiri, Astrid! Darimana uang untuk muasin kebiasaan kamu itu?"

__ADS_1


"Kenapa nggak kerja di rumah sakit lagi sih, Mas?" Dengan bersidekap dia duduk secara kasar.


"Aku sudah coba. Belum ada yang mau menerimaku." Pria itu menghela napas.


"Hiss, wanita itu pasti enak-enakan sekarang. Kamu nggak mau balikan lagi sama dia, Mas?"


"Mama mau cucu, kalau aku menikahinya lagi, keinginan Mama nggak akan terujud. Lagipula aku nggak tau dia dimana sekarang, Yasmin sudah pindah."


Pria itu sedih kehilangan akal. Dia sudah mencari Yasmin di rumah lama, bahkan datangi sekolah tempatnya mengajar. Namun, dia tak ada di sana. Hilman pergi mencari Santi, tapi hanya makian yang dia dapat.


Setalah kejadian di hotel itu pun. Yuni tak mau lagi berhubungan dengannya. Sehingga rencananya untuk menikah lagi, batal. Sekarang Hilman masih harus menepati janjinya pada sang ibu.


"Mas, kamu sudah coba cari di kampung halamannya?"


Ucapan Astrid membuatnya berpikir. Ibu Yasmin bukan berasal dari Jakarta.


...***...

__ADS_1


__ADS_2