
...***...
Eza merasa sangat terkejut dengan apa yang baru saja Lisa katakan. Gadis itu seolah membuat Eza terpaku di saat dia hendak menghindar pergi darinya. Eza mematung dan membalikkan badannya dan sedikit tersenyum dengan penuh kepura-puraan.
“Sebaiknya jangan cepat menyimpulkan sesuatu yang kamu nggak tau.” Lelaki itu lalu pergi tanpa memedulikan reaksi Lisa.
"Za, bagaimana aku nggak kepikiran kalau aku sudah beberapa kali melihat kalian berboncengan, apa itu wajar untuk seorang mahasiswa dan dosen?” Lisa sedikit meninggikan suaranya, dia begitu terusik dengan sesuatu yang dia tahu sebelum ini.
Gadis itu memang beberapa kali melihat Yasmin dan Eza berboncengan. Namun, beruntung wanita itu tidak ada kesempatan untuk mengikutinya, mengingat waktu itu dia sedang sibuk dan buru-buru. Kalau saja dia ada waktu, mungkin sudah pasti dia akan mengikuti mereka berdua ke mana akan pergi.
“Lisa, itu bukan urusan lo. Atau itu wajar atau nggak, nggak ada urusannya sama lo!”
“Jadi bener, kalian emang ada hubungan?” Lisa berusaha mengorek informasi yang baginya mencurigakan.
Yasmin dan Eza memang terlihat sangat dekat, pandangan lelaki itu begitu berbeda saat menatap wanita itu walau di depan umum sekali pun. Binar cinta yang dia punya untuk Yasmin bahkan bisa mengalahkan apa pun.
Eza tak melenggang begitu saja, kali ini dia langsung menuju ke belakang dan menghindari gadis menyebalkan itu. Dia sedikit berpikir tentang hal ini, meskipun Lisa seperti sudah mencium hubungan Eza dan Yasmin, tetapi lelaki itu tidak peduli. Sebenarnya, dia begitu ingin mengungkapkan semuanya, jika perlu tentang pernikahannya, agar wanita itu tidak terus mengusiknya. Namun, mengingat hubungannya dengan Yasmin memang harus dirahasiakan, dia menaik turunkan egonya. Toh, nanti jika sudah saatnya, semua juga akan mengetahui status mereka yang sebenarnya, hanya perlu bersabar.
Lisa merasa sangat geram atas penolakan Eza yang begitu terang-terangan. Bahkan, sedikit pun lelaki itu tidak menjaga perasaannya sedikit pun. Meski Lisa adalah gadis yang centil, tetapi dia juga merasakan sakit ketika cintanya ditolak berulang kali oleh Eza. Namun, hal itu sama sekali tidak membuat Lisa menyerah dan putus asa. Dia justru merasa tertantang untuk lebih giat lagi mendapatkan Eza bagaimanapun caranya. Jika dengan hal wajar Eza tidak bisa menerimanya, maka dia akan menghalalkan segala cara untuk memperjuangkan cintanya.
"Lisa, Lo masih ngebet aja ngejar Eza. Udah tau lo sering di tolak, kenapa nggak nyerah aja sih?" Aldo yang dari tadi diam dengan pertikaian Eza dan Lisa ikut angkat bisara.
"Diam Lo!" Lisa tiba-tiba membentak Aldo.
"Lah, malah ngamuk, gue kan cuma ngasih tau doang. Eza nggak suka Lo sama sekali. Kenapa masih Lo arepin?" Aldo tak terima di bentak.
__ADS_1
"Terserah gue dong. Gue mau kejar Eza sampai dia mau nerima gue!" Gadis itu mendengus lalu pergi begitu saja.
Aldo yang juga jengkel melihat kelakuan Lisa terlihat sangat kesal. Dia juga kasihan melihat Eza selalu dibuat kerepotan dengan gadis centil itu. Setiap kali datang, Eza ingin menghindar, tapi Lisa selalu menempel bak perangko. Andai dia bisa membantu.
***
Hari ini, selepas Yasmin dan Eza pulang dari kampus, mereka memutuskan untuk pergi melihat rumah baru. Kali ini, Yasmin hanya akan mengontrak di sebagai tempat tinggalnya setelah menikah. Dia memilih kawasan tengah kota yang jauh dari perkampungan. Dia menghindari pembicaraan dan gunjingan para tetangga. Setelah beberapa hari Yasmin mencari kontrakan melalui media sosial, akhirnya dia mendapatkan beberapa tempat untuk disurvei bersama calon suaminya.
Setelah keduanya singgah untuk makan siang, mereka melanjutkan perjalanannya ke lokasi pertama. Tepat di pinggir jalan raya, Yasmin dan Eza melihat kondisi rumah tersebut. Rumah yang nyaman, tetapi Eza tidak setuju.
“Langit, aku suka. Rumahnya bersih dan luas.”
“Senja, nanti kita ke lokasi satunya lagi, ini tidak cocok. Aku nggak suka kalau nggak ada pagarnya, bisa bahaya nanti kalau aku kerja pulang malam, kamu sendirian di rumah.”
Seorang wanita pemilik rumah yang berdiri di depannya pun merasa Eza sangat berlebihan. Hanya karena gara-gara tidak ada pagar, lelaki itu membatalkan rumah tersebut.
“Maaf Bu, tapi sepertinya cancel aja. Saya ingin cari yang terbaik buat istri saya.”
Meski Yasmin menyukai rumah tersebut, tetapi dia memilih untuk menuruti Eza. Lelaki itu memang tidak bisa dibantah. Ditambah lagi, baru saja Yasmin mendengar kalimat yang lagi-lagi membuat hatinya meleleh. Menjadi seorang wanita yang dianggap ratu tentu saja membuat dia sangat bahagia.
Setelah mereka berpamitan, keduanya lalu menuju lokasi kedua. Dari jalan raya memasuki satu gang. Lokasinya cukup ramai, dikelilingi para pedagang. Membuat Yasmin semakin mengulas senyumannya. Seolah mendapat angin segar karena akhir-akhir ini, dia sangat suka membeli makanan pinggir jalan, tetapi tetap memilih mana yang sehat untuk ibu hamil.
Eza dan Yasmin dipersilakan masuk oleh seorang lelaki muda sebagai anak pemilik rumah tersebut. Dia tampak memandangi Yasmin dari atas sampai bawah begitu wanita itu keluar dari mobilnya. Eza yang membukakan pintu untuk calon istrinya itu pun diperhatikan oleh lelaki yang menyambutnya.
“Ehem!” Eza pun berdehem, menggugah lamunan pria di depannya seolah tak terima dengan tatapan intens yang mengarah ke Yasmin.
__ADS_1
“Silakan masuk, Mas, Mbak!”
Lelaki itu terkesiap, lalu dengan cepat mempersilakan Yasmin dan Eza untuk memasuki rumahnya. Eza mengitari garasi depan yang cukup luas dan mampu untuk menampung mobil Yasmin, juga berpagar. Bangunan yang cukup baru itu begitu menarik perhatian Eza, dia merasa sangat cocok.
Saat masuk ke dalam, ruang tamu di rumah itu cukup luas. Terdapat dua kamar tidur dengan kamar mandi dalam, dapur yang bersih, ruang makan yang menjadi satu dengan ruang santai. Juga terdapat pekarangan belakang yang tidak begitu besar dengan rerumputan hijau yang sangat terawat. Teras di belakang juga bisa untuk bersantai pagi atau sore hari. Tentu saja Yasmin akan sangat betah duduk di sana, menghirup udara segar yang bebas.
“Gimana, Sayang? Kamu suka nggak?” tanya Eza pada Yasmin yang tengah digandengnya.
“Aku suka, apalagi pekarangan ini nantinya mau aku taruh bunga-bunga, pasti segar di mata. Kamar mandi di luar sana juga lebih mudah untuk nanti mencuci pakaian.” Pandangan Yasmin mengarah pada sudut teras belakang dengan kamar mandi yang memang didesain untuk tempat mencuci baju yang juga ada pintu akses masuk ke dalam rumah, sehingga memudahkan jika ada tamu yang hendak ke kamar mandi.
Selesai melihat-lihat dan mengelilingi rumah tersebut, Yasmin dan Eza memutuskan untuk menyetujui untuk dikontrak dan membayar DP untuk tanda jadi.
“Sayang, nanti kedepannya kamu harus hati-hati, ya. Kamu lihat nggak tatapan dia tadi. Aku nggak suka cara dia menatapmu.”
“Langit, jangan berpikiran negatif terus. Nanti kamu yang nggak tenang sendiri. Kelihatannya dia juga baik kok.”
“Baru juga bertemu dalam hitungan menit, kamu sudah menyimpulkannya kalau dia baik.” Eza tampak tidak suka dengan pembelaan Yasmin terhadap lelaki tadi.
“Pokoknya aku nggak suka, Senja. Bisa nggak kamu bilang aja ‘iya’ kalau aku lagi ada kekhawatiran?”
“Iyaaa, Langit,” jawab Yasmin lembut seraya bergelayut manja di lengan Eza yang tengah fokus mengemudi.
"Senja, nanti kita masukin barang-barang aja dulu. Setelah nikah jadi nggak repot lagi. Persiapan buat nikah kan udah selesai." Eza mengulas senyuman pada Yasmin.
"Oke, nanti aku siapin barang apa aja yang mau dipindah, kamu juga ya. Jadi tinggal angkut aja."
__ADS_1
Kedua insan manusia itu sangat senang, sebentar lagi keinginan mereka untuk hidup bersama akan terlaksana.
...***...