Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Tak akan melepaskan


__ADS_3

...***...


Menggoda Yasmin seperti ini semakin membuatnya ketagihan. Lagi-lagi Eza meraih dagu Yasmin. Melihat wajah wanita itu dari dekat sangat membuatnya candu.


“Kenapa, kamu berpikir itu hanyalah mimpi?”


“Kamu bisa membaca pikiranku?” Dia membiarkan Eza menyentuh dagunya.


“Tentu saja. Sekarang kamu pasti ingin kita melakukannya lagi. Aku sudah siap, bagaimana jika kita tidur bersama?” Suara pria itu terdengar begitu lembut, dia membelai perlahan wajah Yasmin. Bertingkah seperti laki-laki penggoda.


“Jangan mengada-ngada!” Yasmin memukul lengan pria itu, sedikit kesal. Bagaimana bisa dia begitu mudah mengatakan hal seperti itu. “Dasar mesum!”


“Heii, kita sudah berpacaran sekarang. Mana mungkin berkata seperti itu termasuk mesum? Kita tidak benar-benar melakukannya, bukan?” Eza menajamkan matanya, melihat wajah Yasmin yang telah memerah. Dan dia menyukai itu.


“Pacaran? Kapan aku menerimamu?” Yasmin mendongak. Dia berusaha menutupi rasa malunya. dia sadar keduanya pipinya sudah terasa panas sekarang.


Eza mendekatkan lagi wajah mereka. “Jadi kamu tidak mau menjadi kekasihku? Apakah aku harus memanggilmu tante sekarang? Aku tidak mau memanggil nama Senja lagi kalau kamu bukan kekasihku?” Eza menekankan kalimat terakhir. Sebenarnya hatinya tengah tergelitik sekarang, dia ingin meledakkan tawanya.


“kamu mempermainkanku?” Yasmin mendorong tubuh Eza sedikit kasar. Dan hal itu membuat Eza kaget.

__ADS_1


"Heiii, Senja. Kamu hampir membuatku jatuh." Jika saja dia tidak seimbang, mungkin saja dia benar-benar jatuh.


"Salahmu sendiri yang bermain-main!" Yasmin bersedekap dan membuang muka. "Lagipula aku belum bilang 'iya'!"


"Baiklah, aku minta maaf, Senjaku …!" Eza memeluk Yasmin. "Aku bersalah, maafkan aku. Kamu bukan Tante-tante," ucapnya santai.


"Heii … kamu mulai lagi." Yasmin berusaha mendorong.


"Hehehe, iya … aku hanya bercanda." Pelukan itu dia pererat. "Kamu mau menjadi kekasihku?" Eza mengulang pertanyaan untuk yang kesekian kalinya.


Yasmin mengangguk, dan bergumam. "Emm."


"Terima kasih, Senja. Aku sangat bahagia." Eza menyematkan kecupan hangat pada puncak kepala Yasmin. Kemudian menghirup aroma wangi rambut Yasmin dari balik kerudung yang dikenakan.


Begitupun juga Eza, dia tak peduli dengan apa yang akan menghalangi jalannya kelak. Dia sudah bertekad akan menikahi Yasmin suatu saat nanti. Bagaimanapun caranya. Tidak mudah membuat Yasmin yakin akan perasaannya. Eza tak akan melepaskan kebahagian yang dirasakan sekarang.


"Langit, sudah. Malu kalau dilihat orang." Yasmin mendorong tubuh mereka menjauh.


"Baiklah, Senjaku." Eza mengecup punggung tangan Yasmin dan tersenyum.

__ADS_1


Di saat bersamaan, ada pelanggan datang. Eza pun kembali bekerja. Biasanya di jam seperti ini yang akan ada pembeli yang datang silih berganti. Ada yang minta langsung di lukis, berupa sketsa hitam putih, dan biasanya untuk wisatawan yang hanya sehari berkunjung di Malioboro. Ada juga yang meninggalkan foto untuk dibuat lukisan berwarna, mereka bisa mengambil seminggu kemudian, untuk hasil yang memuaskan.


Eza terlihat sangat sibuk. Yasmin pun ikut membantu membungkus lukisan yang langsung dibeli. Setelah pengunjung mulai sepi, barulah mereka bisa mengobrol lagi.


"Maaf, Senja. Membuatmu sibuk hari ini." Eza sedikit merasa bersalah.


"Nggak apa-apa, aku suka melakukannya," balas Yasmin dengan senyuman. Dia melihat Eza sedang merapikan alat melukisnya. Lalu teringat akan sesuatu. "Oya, besok adalah hari pertama klinikku dibuka."


Eza menolah. "Kamu buka klinik apa? Dimana?"


"Klinik umum biasa, hanya untuk membantu warga di kampung sana. Kebetulan tidak ada satupun klinik disana."


"Kekasihku sangat hebat! Kenapa kamu nggak bilang sebelumnya, jadi ini yang kamu sibukkan beberapa hari ini? Aku bisa saja datang membantu."


"Aku tidak ingin merepotkanmu. Lagipula tidak banyak yang perlu dilakukan." Yasmin mengulas senyuman.


Eza pun mendekat, dia menggenggam tangan Yasmin. "Senja, bagaimana kalau mulai sekarang kita saling terbuka. Jangan merahasiakan apapun agar hubungan kita semakin dekat. Aku nggak mau kejadian di Bali terulang lagi!" tutur Eza sangat berharap.


"Baiklah, aku akan memberikan apapun padamu, mulai sekarang."

__ADS_1


Mereka mengulas senyuman termanis mereka. Eza mengecup punggung tangan Yasmin, kemudian keningnya. Yasmin sangat bahagia diperlakukan sangat baik seperti ini. Mencintai Eza membuat dirinya menjadi orang yang berbeda.


...***...


__ADS_2