
...***...
Hari ini terasa sangat melelahkan, sekaligus juga menyenangkan. Pulang dari kafe Eza merebahkan tubuhnya di kamar yang tak terlalu besar. Kedua tangannya melipat ke belakang kepala, menjadikannya sebagai bantal. Tatapannya kini kosong melihat ke awang-awang.
“Senja,” Eza tersenyum layaknya pemuda yang tengah merasakan kasmaran pertama kali. Entah apa yang sedang di pikirannya saat ini, dia begitu bahagia saat mengingat wajah ayu Yasmin yang seharian ini dilihatnya.
“Kira-kira kamu lagi ngapain, Senja. Apa kau juga memikirkanku? Sepertinya aku sudah sangat tergila-gila denganmu.” Eza terkekeh, dia lantas mengambil ponsel yang tergeletak di sampingnya. Dipandangi layar tersebut yang memperlihatkan foto Yasmin saat berada di Bali—foto yang diambil Eza secara diam-diam ketika di tebing waktu itu.
“Ah, sial!” umpat Eza saat dia teringat sesuatu. “Bodoh! Kenapa tadi nggak minta nomor teleponnya. Tau gitu kan, sekarang bisa video call buat pengantar tidur.” Eza pun merutuki kebodohannya.
Ponsel di tangannya diletakkan ke atas dadanya. Eza pun mulai memejamkan mata. Membayangkan wajah cantik Yasmin saat berada di Bali, lalu membandingkan dengan yang sekarang ketika mengenakan kerudung. Eza semakin tergila-gila dibuatnya, wajah Yasmin semakin mempesona. Dia berharap malam ini Yasmin bisa kembali hadir dalam mimpinya.
___
Sementara itu, di sisi lain, Yasmin berbaring di ranjang, pikirannya saat ini juga tengah mengarah pada Eza. Meski ada kerinduan yang terbayar, tetap saja Yasmin akan semakin bingung di posisinya sekarang. Dia hanya takut hubungannya dengan Eza akan tercium di kampus.
__ADS_1
“Eza Aksa Adhitama, nama itu begitu melekat sampai sekarang. Kamu sekarang lebih dewasa dari sebelumnya, meskipun saat itu kamu mempunyai dua sisi. Tapi sekarang, aku hanya melihat Eza yang dewasa, bukan lagi Langit yang terkadang kekanak-kanakan. Ya Tuhan, bagaimana ini, apa aku harus memupuk rasa ini kembali? Atau aku harus menjauhinya? Tapi, cinta itu masih ada sampai sekarang.” Yasmin mendengus, sesekali menetralkan pikirannya.
Yasmin terus bermonolog seorang diri di kamarnya, tak ada siapa pun yang mendengar keluh kesahnya kali ini. Biasanya akan ada Santi yang menemaninya bercerita.
“Ah, menjauh pun sepertinya percuma, Eza memanglah lelaki yang nekat dan keras kepala. Dan, perlakuannya terhadapku masih sama, masih selalu saja membuat jantungku berdebar tak karuan. Tapi, apa mungkin aku akan menjalin hubungan dengan mahasiswaku sendiri, dan lagi ... umur Eza begitu jauh.”
Seberapa besar rasa cinta itu menyelimuti hatinya, tetapi Yasmin masih bisa berpikir logis dan dia hanya takut akan menimbulkan masalah baru di tempatnya yang baru.
Wanita itu terus bergelut dengan hati dan pikirannya. Antara rasa yang tersisa, antara rindu yang menggebu, dan juga antara benteng yang membatasinya—status dan umur. Hal itu menjadikan Yasmin berpikir seribu kali untuk meneruskan hubungannya dengan Eza. Meski Eza belum mengungkapkan lagi tentang perasaannya saat ini. Namun, Yasmin sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Eza selanjutnya, dia pasti akan terus mendekati Yasmin tanpa putus asa.
___
Keesokan harinya di kampus. Semua yang Yasmin pikirkan semalam tak sesuai dengan kenyataan. Hari ini terasa sangat tenang, sama sekali tak ada gangguan dari Eza. Bahkan hingga siang hari dia belum melihat batang hidung mahasiswanya itu. Semula Yasmin pikir Eza akan menyusahkannya hari ini. Tapi justru dia yang dibuat bertanya-tanya, kenapa Eza sangat anteng.
Hingga jam makan siang di kantin kampus. Tanpa sadar Yasmin mencari-cari keberadaan Eza. Mungkin dia akan melihatnya di kantin saat jam makan siang, pikirannya. Tak dipungkiri, wanita itu sedikit merasakan khawatir, kemana perginya anak itu?
__ADS_1
Yasmin makan siang bersama dua orang rekan kerjanya, karyawan bagian administrasi. Sebagai dosen pemula, Yasmin harus mulai beradaptasi dengan semua orang, termasuk dengan orang yang bekerja di bagian office.
"Mbak Yasmin, lagi nyari siapa?" tanya Helen yang sadar mata Yasmin mencari seseorang.
"Hah? Nggak nyari siapa-siapa. Aku cuma lagi lihat-lihat suasana Kantin ini. Baru hari ini aku makan siang di sini, kemarin Bu Dekan ajak makan di luar." Yasmin membuat alasan.
"Oo … Kantin di sini memang sengaja nggak misahin mahasiswa dan dosen atau karyawan lainnya. Biar semua bisa saling berinteraksi."
"Emm, kelihatan kok. Bagus juga konsepnya."
Ketika Yasmin sedang asyik menikmati makanannya. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara seorang pria menyapanya dari samping.
"Selamat siang, Bu Yasmin …."
Yasmin tersentak, pria yang dia kenali itu tersenyum dan lewat begitu saja.
__ADS_1
...***...