Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Syarat


__ADS_3

...***...


Sudah dua hari waktu berlalu. Kemarahan Erna benar-benar sulit untuk diredakan. Wanita itu masih tidak mau membiarkan Eza pergi dan tidak mau berbicara juga dengannya. Adhitama sudah berusaha membujuk. Eza masih belum bisa meninggalkan rumah.


Selama dua hari ini, Eza sangat merasa gelisah. Komunikasi dengan Yasmin seolah terhenti. Pesan terakhir yang dia kirim tak ada balasan hingga sekarang. Eza pun belum memberi kabar lagi kepada Yasmin. Sampai dia mempunyai kabar baik, barulah pergi menuju Yasmin. Mendengar kabar Yasmin baik-baik saja dari Galang, itu sudah cukup.


"Senja, sabarlah, Sayang. Hari ini aku pasti akan menemuimu." Eza berkata dalam hatinya.


Hari ini Adhitama mengatakan bahwa Erna akan berbicara lagi pada Eza. Setelah dia berusaha membujuk dan memberi pengertian. Bagaimanapun juga sang putra tidak akan dia biarkan lari dari tanggung jawab. Ini yang paling Adhitama tekankan pada istrinya.


Sepasang suami istri itu turun dari lantai dua, menuju ke ruang keluarga. Eza telah menunggu mereka untuk kembali berdiskusi.


"Pa, Ma." Sambut Eza langsung berdiri saat melihat kedua orang tuanya.


"Duduklah, Za," ucap Adhitama.


Ketiganya kini duduk. Adhitama di sebelah istrinya. Eza di hadapan kedua orang tuanya, dengan tegang. Wajah Erna masih terlihat masam, dia masih belum bisa menerima. Tapi dia memikirkan ucapan sang suami yang membuatnya berpikir akan masalah ini.


"Bicaralah, Ma. Kita tidak bisa membiarkan Eza lari dari tanggung jawab." Adhitama menyentuh tangan istrinya. Dia berharap Erna tak berubah pikiran, setelah mereka berdiskusi panjang lebar.


Wajah wanita itu tegas. Menatap tajam pada Eza yang seperti telah siap mendengar keputusan darinya. "Eza, kamu tau kenapa mama memanggilmu sekarang?"


"Iya, Ma. Eza akan mendengarkan apapun permintaan mama, asalkan Eza diizinkan menikahi Yasmin." Ucapan Eza terdengar penuh keyakinan.


"Mama masih belum bisa menerima kenyataan ini. Bagaimana bisa mama membiarkan kamu menikahi wanita lebih tua, empat belas tahun?" Dia diberi tau sang suami tentang perbedaan usia tersebut setelah menanyakannya pada Eza. "Mama setuju, tapi mama punya syarat."


"Syarat apa, Ma. Asal Eza sanggup, akan Eza lakukan. Eza butuh restu dari mama dan papa."


"Mama juga tak mau anak mama satu-satunya menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Mama menyetujui pernikahan ini, bukan berarti mama menerima wanita itu sebagai menantu mama."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Ma. Jika mama sudah bertemu dengan Yasmin, mama pasti akan menyukainya."


Erna terdiam untuk beberapa saat. "Kamu boleh menikah, tapi tidak akan ada pesta apapun. Tidak akan ada kerabat yang tau. Mama dan papa juga tidak akan membiayai pernikahan kalian. Semua fasilitas yang mama kembalikan, akan ditarik kembali. Mama dan papa juga tidak akan membantu keuangan kamu, termasuk biaya kuliah. "


Eza cukup terkejut dengan syarat yang mamanya berikan. Terlebih lagi Adhitama yang tak diberitahu tentang syarat ini. Bukankah ini terlalu kejam.


"Ma, ini terlalu berlebihan. Kuliahnya bisa terhenti jika kita tidak memberi biaya," ucap Adhitama pada sang istri.


Erna langsung mengalihkan pandangan pada suaminya. "Kenapa berlebihan? Bukankah dia sudah akan menjadi seorang kepala rumah tangga. Jadi dia harus bertanggung jawab penuh pada dirinya sendiri. Kita tidak ada hak lagi ikut campur." Kata-kata Erna menekan.


"Tapi kuliah Eza masih tanggung jawab kita, Ma." Pria itu masih ingin berdebat. Eza hanya menjadi penonton dalam perdebatan keduanya.


"Mama tidak peduli. Jika dia mau bertanggung jawab, harus lakukan sendiri. Sudah diberi restu itu juga sudah bagus! Dan mama ingatkan, jangan sekali-kali Papa membantunya, sekecil apapun. Jika mama sampai tau, Papa akan merasakan akibatnya!" ucapnya tegas.


Adhitama tak dapat lagi membantah. Kemarahan istrinya tak terkendali lagi. Tapi mengingat Eza akan hidup tanpa bantuannya lagi, dia juga sedikit tidak tega.


Dengan yakin Eza menjawab. "Eza sanggup, Ma. Eza akan terima syarat Mama. Yang terpenting Eza bisa menikahi Yasmin dengan restu mama dan papa."


"Eza, apa kamu yakin? Kamu bisa menghidupi keluarga dan membiayai kuliah sendiri?" Adhitama pun bertanya.


"Ez yakin, Pa. Papa jangan khawatir Eza pasti bisa melaluinya."


Ucapan Eza terdengar sangat meyakinkan. Namun, sebagai seorang ayah dia berharap Eza bisa dengan mudah melaluinya. Membangun sebuah rumah tangga itu bukanlah hal yang mudah. Banyak yang harus diperhatikan. Tapi jika keyakinan Eza sudah seperti ini, dia pun sangat berlapang dada.


"Papa mengerti. Papa bangga sama kamu, mau bertanggung jawab sebagai laki-laki."


"Baguslah kalau kamu sanggup. Bawa wanita itu kesini secepatnya. Kita akan membicarakan soal pernikahan." Erna pun berdiri ingin segera pergi. "Ingat, hanya membahas soal pernikahan, bukan menerima dia sebagai menantu!" Erna menekankan ucapannya, lalu pergi meninggalkan kedua pria itu.


"Iya, Ma," jawab Eza lirih. Ada sedikit kekecewaan di hatinya. Tapi kini dia sudah bisa tersenyum. Kabar gembira ini akan segera dia sampaikan kepada Yasmin.

__ADS_1


___


Sementara di sisi lain. Yasmin sedang merenung di ruang kerjanya. Setelah terakhir kali bertemu, Yasmin selalu mengingat perkataan pria itu. Yasmin merasa Eza akan menjauh darinya. Terlebih lagi Eza tak memberinya kabar seharian penuh. Yasmin mulai berpikir tidak lagi berharap pada kekasihnya itu. Namun, saat membaca pesan terakhir dari Eza, dia masih menaruh harapan terakhirnya. Tapi, harapan itu terasa melebur setelah dua hari tak ada kabar.


Hari ini Yasmin baru kembali dari melakukan pemeriksaan rutin. Sekaligus untuk memantau tentang penyakit yang selalu membuatnya was-was. Namun, setelah mendengar penjelasan Dokter Ana, dia sedikit merasa lega. Janinnya sehat, tanda-tanda penyakit itu juga tidak kelihatan. Tapi dia masih harus melakukan pemeriksaan sekali seminggu. Agar dia semakin yakin.


Di sisi lain, di meja tempat suci bekerja. Dia sedang mengobrol dengan Galang. Belum ada pasien lagi yang datang, jadi mereka bisa sedikit lebih santai.


"Galang, kamu tau soal Yasmin hamil?" tanya Suci pada Galang yang duduk di hadapannya.


Dia menduga saat Galang tidak terlihat kaget waktu Yasmin pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kehamilan. Karena Yasmin berpamitan kepada keduanya.


"Tau, Mbak Suci. Mbak Yasmin sendiri yang bilang," jawab Galang santai.


Suci menghembuskan napas berat. "Kasian Yasmin. Setelah bercerai baru tau kalau dia hamil. Sekarang mantan suaminya belum tau soal ini. Kenapa Yasmin tidak memberi tau mantan suaminya dan menanggung ini sendirian?"


Galang sangat terkejut dengan ucapan Suci. Yasmin ternyata belum menceritakan yang sebenarnya pada Suci. Pria itu hanya diam.


"Padahal Yasmin sudah punya pacar, mungkin mereka sudah putus sekarang." Dia menduga itu karena Eza tak datang lagi selama dia hari ini.


Lalu, tiba-tiba daun pintu diketuk seseorang. Galang dan mengalihkan pandangan mereka ke arah luar. Seorang pria tinggi tegap sedang berdiri di sana.


"Selamat siang, Mbak, Mas. Dokter Yasmin ada?" tanya pria itu kemudian.


"Oo ada. Kalau boleh tau, Bapak ini dari mana?" Suci bertanya.


"Saya dari Jakarta."


...***...

__ADS_1


__ADS_2