Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Hatinya menolak


__ADS_3

...***...


Sesampainya di ruang konsultasi serta periksa, Yasmin duduk di kursinya yang disusul oleh Eza juga duduk tepat di depannya. Keduanya saling tatap untuk beberapa detik. Yasmin mengatur napasnya untuk memulai berbicara, rasa sesak begitu menggerogoti hatinya saat ini. Keputusannya untuk menjauhi Eza dan memutuskan hubungannya seolah menjadi pilihan yang tepat.


“Senja, kenapa sejak kemarin kamu mendiamkanku? Kenapa tidak mengangkat teleponku dan malah mematikannya? Apa salahku, Senja?” Eza langsung membuka pembicaraan. Raut wajah pria itu memelas dan kasihan. Mengharapkan belas kasihan dari Yasmin, itu sangat sulit.


Mendengar penuturan Eza, Yasmin langsung menghela napas. “Aku ... Langit, aku mau tanya sesuatu.”


“Apa? Tanyalah apa pun, aku akan menjawabnya.” Eza pun mengulas senyum.


“Apa tujuan kamu menjadikanku kekasih? Maksudku ... kenapa kamu mau denganku?” Tatapan Yasmin tapak sayu, dia terlihat begitu berat mengatakan sesuatu yang sudah ada di kepalanya, padahal dia hanya ingin menyudahi hubungannya dengan Eza saat ini juga.


Eza pun meraih tangan kanan Yasmin lalu menggenggamnya erat. “Senja, entah apa yang membuatmu ragu tentang perasaanku saat ini, bukankah sebelumnya kamu sudah menanyakan hal ini? Kenapa bertanya lagi? Apa ada yang mengganjal di hati kamu? Katakanlah!” Eza menatap manik indah pada mata Yasmin. Namun, wanita itu langsung menunduk dan menghindari tatapannya.


Eza melanjutkan. “Bahkan, tanpa aku menjawab pertanyaanmu sekarang, kamu juga pasti sudah tau jawabannya, Senja. Tidak peduli apa pun, aku akan terus mencintaimu sampai kapanpun.”


“Langit, sepertinya aku tidak bisa ...."

__ADS_1


Yasmin seolah tak sanggup mengatakan hal itu pada Eza, apalagi mata lelaki itu mengungkapkan kesungguhannya. Tanpa Yasmin sadari, tiba-tiba saja matanya mengembun. Hatinya seperti menolak untuk menyampaikan tujuan awalnya.


“Tidak bisa? Apa maksudmu, Senja. Bicaralah yang jelas. Itu ... apa kamu menangis?” Dian sedikit mendekatkan wajahnya.


“Nggak apa-apa. Lupakan saja.” Yasmin sedikit menunduk dan mengerjapkan matanya.


Sebesar apa pun Yasmin ingin berpisah dengan Eza dan menjauh darinya, hal itu sepertinya mustahil dan tidak akan mampu Yasmin lakukan, wanita itu akhirnya memilih untuk mengurungkan niatnya. Mungkin lain waktu setelah hatinya siap, dia akan mengatakannya. Di bawah sana, tangan kirinya sedang meraba calon buah hati mereka.


Lelaki itu tampak mengernyitkan dahinya, alisnya menukik, bingung dengan Yasmin yang sejak tadi ingin berbicara, tetapi terus mengurungkan niat. "Senja, apa yang terjadi sebenarnya? Apa kamu sakit?”


Eza pun akhirnya menurut untuk menyudahi pembicaraan yang bahkan belum dimulai. Banyak pertanyaan yang mengganggu di kepala Eza, antara bingung dengan sikap Yasmin yang sejak kemarin berubah dan sekarang juga seperti menyembunyikan sesuatu. Namun, Eza enggan memaksa wanita itu untuk berterus terang meskipun di juga penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Eza sangat mengerti dengan jelas. Hubungan mereka ini sangat tidak mudah bagi Yasmin. Dia sadar akan kesenjangan usia mereka. Hal itu yang membuat Eza selalu takut Yasmin akan berbalik dan meninggalkan dirinya.


“Senja, tadi kamu dari mana?” tanya Eza bersikap seperti biasa. Melihat keadaan Yasmin sekarang sudah membuatnya merasa sangat lega.


“Tadi dari rumah sakit,” jawab Yasmin singkat, dia kelepasan mengatakan hal itu.

__ADS_1


“Rumah sakit? Ngapain? Kalau kamu sakit, kenapa nggak telepon aku, aku bisa antar kamu. Lain kali jangan berkendara sendiri, Senja.” Eza menyerang Yasmin dengan pertanyaan. Setiap jengkal wajah wanitanya dilihat lekat-lekat.


“Ah maksudku, aku ada urusan di rumah sakit. Bukannya aku sakit, Langit.” Yasmin berdalih, membohongi Eza.


“Baiklah kalau begitu, tapi ingat ya, apapun jika kamu butuh aku. Langsung hubungi, aku sangat suka kamu repotkan.” Dia mendekatkan tangannya membelai wajah Yasmin dengan lembut. Ingin rasanya dia merengkuh tubuh kekasihnya itu.


“Iya … langitku …," balasnya dengan sedikit manja. Dia mengenyahkan dulu ganjalan di hatinya. Lebih baik membahagiakan dirinya, dan menikmati perhatian Eza yang sangat dia sukai.


Cukup, dia tak tahan lagi. Pesona Yasmin sungguh membuat jiwanya tak bisa menahan. Dengan cepat dia bangkit dan menarik tubuh Yasmin dalam pelukannya. Kelegaan dirinya tak cukup hanya dengan tatapan mata saja. Dia butuh yang lebih dari itu.


Yasmin yang terpaksa berdiri, membelalakkan matanya. "Langit, apa apaan sih."


"Sebentar saja, lima detik," ucapnya berbisik di telinga Yasmin.


Dia pun membiarkan. Yasmin juga membutuhkan pelukan dari Eza. Setidaknya bisa membuat dirinya sedikit tenang dan berpikir jernih sekarang.


...***...

__ADS_1


__ADS_2