Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Wanita ideal


__ADS_3

...***...


"Jika tidak keberatan …."


Wanita itu tersenyum hambar. Eza sedikit ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Takut jika lancang ingin tau lebih jauh tentang masalah pribadi Yasmin.


"Suamiku selingkuh. Ya, setelah kupikir pernikahanku tidak akan ada masalah. Namun, dia berkhianat dan memakiku di depan selingkuhannya."


Tanpa basa basi Yasmin menceritakan. Bukan sesuatu yang harus dirahasiakan. Tapi tak semua tentunya, hanya garis besar dari akhir pernikahannya.


Eza bangun, dan memposisikan dirinya menghadap Yasmin. Wanita itu pun melakukan hal yang sama.


"Aku turut prihatin." Eza merubah raut wajahnya.


Yasmin melanjutkan. Meski sakit mengingat saat-saat itu, Yasmin terlihat lebih tenang dari sebelumnya. "Dan yang lebih menyakitkan, keluarga suamiku hanya memanfaatkan kebaikanku selama ini."


"Senja, kamu pasti sangat terluka."


"Ya."


Setiap kata yang terucap dari bibir wanita itu. Membuat Eza tersentuh, dia merasa perlu melakukan sesuatu. Terlihat jelas kesedihan saat Yasmin mengingat kejadian pahit dalam hidupnya.


"Jangan khawatir, aku akan menghilangkan kesedihanmu. Aku akan membuatku menjadi wanita paling bahagia dalam waktu satu Minggu."


"Haha … benarkah. Aku tidak mau merepotkanmu, Langit." Wanita itu kembali tergelak, sosok Eza memang menarik bagi Yasmin. Begitupun juga sebaliknya.

__ADS_1


"Tidak akan. Aku sudah berjanji sebelumnya. Kamu tidak mempercayaiku?"


"Haha, baiklah. Aku percaya." Yasmin terdiam sesaat. "Bagaimana denganmu, aku sudah menceritakan banyak tentangku, apa kamu memang tidak terbiasa berbagi cerita dengan orang asing?"


Eza tersenyum tipis. "Apa yang ingin kamu tau dariku, Senja? Tanyakan saja."


"Emm, hubungan asmara misalnya. Kamu sudah pernah berpacaran?" tanya Yasmin setelah berpikir sejenak.


"Tidak pernah, aku jomblo hingga sekarang. Sampai bertemu denganmu," jawabnya santai.


"Kenapa? Oo, aku tau, kamu terlalu pemilih … di umurmu sekarang tidak seharusnya cerewet milih pasangan, kapan akan menikah, kalau begitu?" Oceh Yasmin asal menebak.


Namun, Eza malah merasa lucu dengan cara bicara wanita itu. Mengemaskan, pikirnya. Pria itu menahan diri agar tidak tertawa. "Aku sedang menunggumu."


Pria itu mengangguk kecil, lalu tersenyum dengan sumringah. "Iya, tipe idamanku seperti dirimu, Senja."


Pipi Yasmin seketika memerah. Dia tersipu malu dengan kalimat yang diucapkan Eza. Sedetik kemudian, Yasmin justru tertawa lepas. Semua itu terdengar mengada-ada baginya. "Hahaha, jangan konyol. Aku terlalu tua untukmu."


Dirinya tidak pernah menganggap hal itu serius, melainkan hanya sekedar candaan. Bukan tanpa alasan, Yasmin memang harus berusaha menjaga dan mencegah perasaannya agar tidak terbawa arus cinta yang mengalir begitu saja. Apalagi dengan Eza yang sebenarnya dia tak tahu asal-usul lelaki itu.


"Aku memang suka yang lebih dewasa. Lagi pula jarak umur kita tidak terlalu jauh, kan?" Eza merasa sedang diejek, tapi tak masalah baginya. Dia justru senang mendapat ejekan dari Yasmin.


Tanpa sadar, Eza mengungkap wanita idealnya. Tak ada yang tau kriteria seperti apa yang ia suka, selain sahabat baiknya. Seringkali juga dia dituduh menyukai sesama jenis, karena tidak mau dekat dengan wanita manapun.


"Bagaimana kalau aku bilang, aku telah jatuh cinta padamu?"

__ADS_1


Yasmin tiba-tiba terdiam. Dia menelisik wajah pria itu. Ungkapan yang tampak serius.


"Dan aku juga telah jatuh cinta padamu," ungkap Yasmin pula dengan raut wajah yang tidak dapat diartikan.


Pria itu pun ikut terdiam, Pengakuan Yasmin membuatnya sangat terkejut.


Kemudian Yasmin menahan tawanya. "Kamu bisa bercanda sampai seperti ini? Sudahlah, aku bisa sakit perut karena ulahmu."


Kedua mata mereka saling bersitatap, entah sengatan apa yang merasuk dalam hati mereka masing-masing, yang jelas rasa itu sulit diartikan. Eza memanglah sosok hangat yang mampu membuat Yasmin merasa nyaman, walau mereka belum lama mengenal, Eza tak canggung memperlakukan Yasmin layaknya seorang ratu. Memanjakannya seperti kekasih.


Ucapan Yasmin yang terakhir, mampu membuat Eza sedikit merasa kecewa. Obrolan mereka terhenti sampai di situ, hingga matahari terbenam. Eza tak ingin lagi meneruskan kata-katanya yang mungkin wanita itu akan sangkal lagi.


Ya, dia pikir mungkin juga terlalu cepat. Sejujurnya ungkapan tadi juga keluar begitu saja dari mulutnya. Tanpa berpikir apakah itu benar-benar adalah isi hatinya atau hanya sekedar candaan.


Sisa hari ini, mereka lalui dengan menikmati keindahan senja bersama. Menghilangnya matahari saat di telan laut, memang terlihat sangat indah.


...***...


...Like dan komen karya ini jika kalian suka....


...Jangan lupa favorit dan baca bab-bab selanjutnya....


...❤️❤️❤️...


...Terima kasih ☺️...

__ADS_1


__ADS_2