Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Sangat intim


__ADS_3

...***...


Satu Jam kemudian.


Yasmin masih terdiam duduk di pinggiran ranjang. Lama dia berpikir. Apakah hal tadi terlalu berlebihan?


Ada sedikit rasa penyesalan. Tidak seharusnya dia mengusir Eza keluar begitu saja. Yasmin pun berpikir untuk mencari keberadaan Eza. Dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar pria itu. Namun, tak ada jawaban. Lalu dia memutuskan untuk turun ke restoran hotel itu. Mungkin saja Eza sedang sarapan bersama teman-temannya.


Yasmin ingin memberi pria itu kesempatan. Dia juga terlalu berlebihan menanggapi kejadian satu jam lalu.


Sampai di restoran lantai satu. Tebakan Yasmin benar, Eza ada di sana. Dia pun menjadi ragu, akan terlihat aneh jika dia tiba-tiba mendekat. Yasmin pun berbelok ke arah deretan prasmanan, lalu mengambil sarapan. Perutnya juga perlu diisi. Eza tak menyadari kedatangan Yasmin, pria itu duduk membelakanginya.


Meja kecil serta dua kursi menjadi pilihan Yasmin untuk duduk. Posisinya yang menghadap laut dan sedikit jauh dari tempat Eza berada. Yasmin sengaja duduk menyamping agar Eza menyadari dia ada di sana. Dan benar saja, belum lima menit dia duduk, Eza sudah datang menghampirinya.


"Senja, kamu di sini?"

__ADS_1


Yasmin menoleh ke samping kanan, Eza berdiri tepat di sebelahnya. "Langit, iya tentu saja, aku juga perlu sarapan."


"Kamu masih marah? Boleh aku duduk?"


"Silakan," ucap Yasmin tersenyum.


Pria itu pun duduk. "Aku sungguh minta maaf soal yang tadi. Aku benar-benar nggak bermaksud."


"Aku tau, tadi juga sedikit berlebihan. Aku sengaja ke sini untuk minta maaf juga." Yasmin masih mengulas senyuman manis, tangannya ia sibukkan dengan memotong pancake.


"Benarkah? Kita—"


"Kak Eza … kenapa di sini? Ini siapa?" ucap seorang gadis berparas cantik, sikapnya terlihat sangat manja.


“Ah, Tania ... kamu?” Eza terenyak, begitu menoleh ke belakang. Sosok wanita yang tak asing saat dia melihatnya.

__ADS_1


Posisi Eza yang tengah duduk, serta pelukan Tania yang sangat intim. Membuat siapa saja yang melihat pasti akan berpikiran sama.


Mendapati hal tersebut, Yasmin memilih untuk menghindar dan meninggalkan mereka. Siapa pun gadis itu, tak seharusnya Yasmin berada di antara mereka.


“Senja!” teriak Eza begitu menyadari Yasmin telah berjalan menjauh tanpa berpamitan.


“Kak Eza, dia siapa, sih?” tanya gadis itu dengan wajah penasaran. “Kak Eza kenapa disini? Meja kita kan di sana.” Tania menunjuk meja asal mereka, sebelum dia pamit untuk pergi ke toilet.


“Tania! Ncekk … aku harus kejar dia dulu, nanti kita bahas,” tutur Eza seraya melepas pelukan gadis tersebut dan menatap Yasmin yang sudah mulai jauh.


Yasmin menajamkan matanya. Entah apa yang ada dalam hatinya saat ini, sembilu begitu menusuk relung hatinya. Namun, dia hanya memilih pergi untuk menetralkan pikirannya. Menghindar mungkin akan lebih baik, daripada jika harus melihat kemesraan pasangan kekasih.


“Ayolah Yasmin, sadarlah. Dia bukan siapa pun. Dia tidak berpengaruh apapun di hidupmu, buat apa kamu bersedih, buat apa kamu harus sakit hati, kamu tidak punya hak untuk itu. Semua hanya akan sia-sia,” Yasmin bermonolog dalam hatinya. Saat ini, hanya dirinya sendirilah yang mampu menenangkan pikiran dan hatinya.


Yasmin melangkah dengan tergesa-gesa, dia memutuskan untuk kembali lagi ke kamarnya. Sementara Eza, sia terus berlari mengejar Yasmin, berharap wanita itu akan berhenti dan mau mendengar penjelasannya.

__ADS_1


Meski Eza tak tahu apa yang dirasakan Yasmin saat ini. Namun, dia sudah bisa menebak jika Yasmin memang tengah tak enak hati sebab melihat pemandangan mengganggu antara dirinya dan Tania.


...***...


__ADS_2