
...***...
Malam pun semakin larut, Setelah cukup puas menikmati keindahan malam di taman kota. Eza berniat akan mengantar Yasmin pulang. Ada yang berubah dari raut wajah Yasmin setelah melalui pohon beringin tadi. Eza pun tak mengerti, kenapa Yasmin tiba-tiba murung.
Tak banyak lagi pembicaraan antara mereka. Eza ingin bertanya, tetapi dia khawatir akan membuat Yasmin semakin diam. Sesampainya di parkiran motor, Eza memberanikan diri bertanya. Apa dia telah berbuat salah? Kenapa Yasmin seperti ini?
"Senja, kamu baik-baik saja?" tanya Eza sedikit membungkukkan tubuhnya, Yasmin yang berdiri di depannya, reflek memundurkan tubuhnya.
Wanita itu menatap mata Eza. "Emm, aku baik-baik saja, Langit." Sedetik kemudian dia berpaling dari Eza.
Eza pun kembali berdiri tegak. "Lalu kenapa kamu tiba-tiba murung. Ada yang salah dengan ucapanku?" tanyanya bingung.
"Tidak."
"Apa karena aku memaksa kamu untuk melewati pohon itu?"
Yasmin tersenyum tipis, terkesan lebih memaksa. "Langit, ini tidak ada hubungannya dengan pohon itu, ataupun dirimu." Dia mengambil helm yang tergantung di setir motor itu. "Aku hanya sedikit lelah, bisakah kita pulang sekarang?" Lalu memiringkan kepalanya.
__ADS_1
Eza menghela napasnya sesaat. "Baiklah, kita pulang. Tapi, jika kamu ada masalah, kamu bisa cerita, Senja. Aku tidak keberatan, jadi Bank Curhat kamu," ucap Eza bersiap naik ke atas motor.
"Bank Curhat?" tanyanya bingung. Lagi-lagi Eza membuatnya bingung dengan istilah anehnya.
Pria itu pun berbalik. Dengan wajah serius dia menjelaskan maksud perkataannya. "Iya, kamu boleh menabung seberapa banyak pun. Ceritakan semua, nggak ada batas limit kalau kamu menabung padaku." Eza membuat gerakan jari telunjuk menyilang.
Hal itu membuat Yasmin tergelak. "Konyol … bisa-bisanya kamu." Tanpa dia tau, senyumannya membuat Eza pun tersenyum.
Lalu tiba-tiba, Eza mencubit hidung Yasmin dengan gemas. "Nah, gitu dong … senyum, kan cantik. Kalau kamu cemberut terus, aku takut bentar lagi akan hujan."
Yasmin meringis sesaat. "Ada-ada aja. Sudahlah, aku mau naik. Pinjam tanganmu," katanya menghindari interaksi selanjutnya. Jujur, dia merasa sangat suka dengan perlakuan Eza. Sejak di Bali, perkenalan pertama mereka.
Eza ingin mengungkapkan perasaannya. Tetapi dia takut akan ditolak lagi jika terlalu buru-buru. Yasmin jelas tau apa maksud Eza mendekatinya. Namun, hatinya tak ingin menjauh dari pria itu. Sedangkan mereka berasal dari dua generasi yang berbeda. Bagaimana Yasmin harus menjelaskannya nanti, jika Eza kembali memintanya untuk menjadi kekasih. Tak mungkin dia lari lagi, kan.
Seberapa banyak pun Yasmin memikirkan. Hubungan mereka sangat sulit. Itu tidak akan mungkin. Biarlah kebahagiaan itu tak pernah ada.
Yasmin membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia memejamkan mata mencoba untuk terlelap. Tubuhnya memang lelah, tetapi lebih lelah lagi hatinya yang semakin tak kuat memendam perasaan. Helaan napas panjang kembali terdengar untuk yang kesekian kalinya.
__ADS_1
Notifikasi pesan ponselnya tiba-tiba berbunyi. Yasmin pun membaca pesan yang dia sudah tau dari siapa.
"Selamat istirahat, Senja. Semoga lelahmu bisa hilang di esok hari. Aku tidak berharap kamu akan memimpikan aku. Tapi yang pasti aku akan memimpikan kamu, Senjaku."
Setelah membaca pesan itu, Yasmin terlihat sedih. Lalu pesan kedua masuk.
"Selamat malam, Senja."
Kali ini Yasmin membalasnya.
"Malam."
Yasmin menggenggam ponselnya di dada. Cairan bening yang telah membendung di pelupuk matanya, mengalir dari sudut matanya. Dia teringat akan sesuatu sewaktu di taman tadi. Sebuah keinginan yang hanya diucapkan dengan asal-asalan. Namun, dia jadi berpikir setelah melihat Eza saat membuka penutup matanya. Apakah mitos itu benar? Dia sangat ingin menyangkal hal itu.
"Apakah aku akan bahagia dan memiliki keluarga yang utuh?"
Gumam Yasmin sebelum memejamkan mata. Keinginan yang tadi diucapkan sebelum melintasi dua pohon beringin itu.
__ADS_1
...***...