
...***...
Eza telah berhasil membuat hubungannya dengan Yasmin selangkah lebih maju. Kini tiba-tiba dia kembali diacuhkan oleh wanita itu. Tak ada angin tak ada hujan, Yasmin tak lagi membalas pesannya seperti biasa. Hal ini membuat pikiran Eza menjadi kacau. Sampai pagi ini, matanya masih terbuka, dia tak bisa tidur semalaman. Pikirannya hanya berputar-putar tentang sikap Yasmin yang berubah.
Dion yang akan berangkat ke kampus, belum melihat Eza keluar dari kamar. Biasanya dia sudah bersiap pada jam begini. Dion pun menghampiri Eza ke kamarnya. Sahabatnya itu masih duduk termenung di tempat tidur. Dengan wajah kusut dan mengantuk.
"Za, Lo nggak ke kampus? Jam segini masih melongo." Dion pun mendekat. "Lo nggak tidur semalam?"
"Gue nggak bisa tidur, Yasmin nggak ngangkat telepon gue dari kemarin. Aaarrgg! Dia kenapa sih!" Eza mengusap wajahnya kasar.
"Lo cari aja ntar di kampus. Hari ini ada praktek, Lo nggak bisa absen, Lo bisa nggak lulus semester ini." Dion mengingatkan.
Sebagai seorang mahasiswa kedokteran yang mempunyai jadwal begitu banyak. Membuat mereka harus mengurangkan waktu istirahat. Terlebih lagi bagi yang harus terpaksa hidup mandiri seperti mereka. Bekerja paruh waktu dan pulang menjelang tengah malam. Begitu pulang harus menyelesaikan tugas kampus, kadang harus mengulang materi pelajaran. Begitupun dengan Eza dan Dion. Mereka kadang hanya bisa tidur selama tiga hingga empat jam sehari.
"Udah Lo siap-siap sana. Gue berangkat duluan, ada urusan soalnya."
"Emm," jawab Eza malas.
Eza kemudian mencari ponselnya yang terselip di bawah bantal. Lalu memeriksa lagi apakah Yasmin sudah membekas pesannya atau belum. Eza hanya bisa menghela napas berat. Dia hanya mendapat balasan pendek dari Yasmin.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja."
Sungguh membuat Eza kecewa saat membacanya. Di pun segera bangkit dan bersiap untuk ke kampus. Setidaknya dia bisa melihat Yasmin, walau akan sangat sulit untuk mendekatinya di area kampus. Jika ada kesempatan, hari ini dia akan mengajak Yasmin berbicara empat mata. Tentang perubahan Yasmin yang tiba-tiba membuat dirinya bertanya-tanya.
___
Hingga siang harinya, Eza kembali menelan kekecewaan. Yasmin ternyata tak ada di kampus. Hari ini bukan jadwal mengajarnya. Eza bahkan tidak di beritahu bahwa ada perubahan jadwal Yasmin dengan Prof. Arga. Entah Yasmin lupa atau sengaja, yang pasti Eza telah dibuatnya semakin kebingungan. Eza memutuskan untuk mendatangi Yasmin di rumahnya. Jadwal kuliahnya siang ini sudah selesai.
Eza memarkirkan motornya di depan rumah Yasmin. Dia bergegas menuju pintu masuk yang terbuka lebar. Dia melihat Suci sedang duduk di meja pendaftaran.
"Selamat siang, Mbak." Eza menyapa.
"Iya, Mbak. Bu Yasmin ada?"
"Bu dokter tadi keluar, Mas. Kira-kira udah satu jam."
"Kalau boleh saya tau, Bu Yasmin kemana, Mbak?"
"Wah, saya kurang tau, Mas. Bu dokter nggak bilang apa-apa. Tadi cuma titip pesan. Kalau ada yang berobat, disuruh datang jam tiga." Suci menjelaskan.
__ADS_1
Sebenarnya dia dilarang untuk memberi tahu Eza. Yasmin sudah memperkirakan, Eza pasti akan mencarinya di rumah. Wanita itu sedang berada di rumah sakit saat ini. Dia pergi untuk memeriksakan kandungannya.
"Mas Eza ada urusan apa ya, cari Bu dokter? Kenapa Mas Eza nggak telpon aja."
"Emm … ada tugas kuliah yang harus saya tanyakan Mbak. Penting soalnya. Tadi udah telpon, tapi nggak diangkat," jawab Eza berbohong.
Suci tau bukan itu tujuan Eza datang. Dia tidak akan bersikap yang berlebihan. Walau dia tau Eza adalah kekasihnya Yasmin. Yang jadi pertanyaan suci sekarang. Tentang anak yang Yasmin kandung, apakah anak Eza atau anak mantan suaminya. Tapi terakhir kali Yasmin mengatakan akan mengakhiri hubungannya dengan Eza. Berarti, anak itu adalah anak mantan suaminya Yasmin. Suci hanya bisa menebak seperti itu.
"Kalau gitu, Mas Eza tunggu aja di dalam."
"Ya udah, permisi Mbak."
Eza pun masuk ke dalam rumah, dia memutuskan untuk menunggu. Suci memperhatikan Eza dari atas kepala hingga ujung kaki. Lelaki itu memang terlihat sangat gagah. Tinggi, wajah yang tampan dan juga sopan. Pantas saja Yasmin menjadi tertarik pada pria itu. Dia kelihatan juga sangat baik. Jangankan Yasmin, Suci sendiri juga sangat kagum melihat Eza.
Suci menggelengkan kepala, baru saja dia terpesona pada pacar orang lain. "Yasmin beruntung bisa mendapatkan pria seperti Mas Eza. Tapi sayang, mereka akan segera putus. Padahal hubungan mereka masih baru," gumam Suci dengan suara pelan.
Ada rasa prihatin di dirinya, begitu mengingat nasib percintaan Yasmin. Sakit hati karena dikhianati sang suami. Setelah mendapatkan gantinya, kini malah harus kembali kepada mantan suami karena hamil. Setelah menghela napas sejenak, Suci pun menyampaikan kabar kedatangan Eza kepada Yasmin melalui pesan.
...***...
__ADS_1