
...***...
Yasmin telah menunduk, Eza pun tau apa yang sedang dipikirkan oleh kekasihnya itu. Dia tersenyum gemas.
“Apa ... Senjaku sedang cemburu?” Eza mencolek manja hidung Yasmin sembari menunduk memperhatikan wajah Yasmin, mereka hampir tak berjarak.
“Dih, siapa juga yang cemburu!” Yasmin mencebikkan bibirnya dan melirik ke arah lain.
“Kamu sangat menggemaskan!” Eza tertawa melihat semburat merah di wajah Yasmin. Apalagi dia tahu bahwa saat ini kekasihnya itu tengah cemburu. Yasmin pun terlihat gengsi untuk mengakuinya.
“Ayo keluar!” ajak Yasmin. Dia sudah berjalan meninggalkan Eza.
“Hanya ini saja?” tanya Eza yang berdiri terpaku di belakang Yasmin yang telah mencapai pintu.
Wanita itu menghentikan langkahnya. Mendengar pertanyaan Eza, dia pun berbalik badan dan mengernyitkan dahinya—tidak mengerti dengan maksud Eza. “Apa?”
“Apa kamu tidak mau mendapat vitamin penyemangat dari kekasihmu ini? Kamu nggak lupa, kan, kalau sekarang kita sepasang kekasih?” Eza berjalan mendekati Yasmin dan menarik tangan wanita itu. Dia tampak resah dengan perlakuan Eza, tubuhnya semakin dekat mengimpit Yasmin ke belakang pintu.
“Langit, berhenti. Di luar banyak orang, jangan macam-macam!”
“Jadi, maksudnya ... kamu akan mau bermesraan jika sepi? Baiklah, besok kita atur waktu.” Eza terkekeh melihat ekspresi Yasmin. Wanita itu merasa dirinya sudah salah bicara kali ini.
“Ah, maksudku ... lepaskan aku dan kita keluar sekarang!”
__ADS_1
“Sebentar saja, satu detik, aku ingin menciummu.”
Tanpa menunggu persetujuan, Eza langsung mengecup bibir Yasmin dan keluar begitu saja. Meninggalkan Yasmin yang terpaku akibat ulangnya. Wanita itu mengerjapkan mata, darahnya sempat berdesir karena kecupan Eza yang tiba-tiba. Sesaat kemudian dia menyadarkan dirinya. Napas yang sempat tertahan dia hembuskan perlahan.
Sementara itu di sisi lain, Lisa tengah menggerutu tak karuan pada kedua sahabatnya. Dia terus memperhatikan ruangan Yasmin dari kejauhan, menunggu Eza keluar dari sana.
"Kenapa sih, Lis. Gelisah amat?" tanya Nita yang duduk di sebelahnya.
"Eza kok lama ya? Mereka ngapain? Aku mau liat ke dalam." Lisa langsung berdiri.
Dion yang sadar pergerakan Lisa, juga ikut berdiri dan langsung meraih tangan wanita itu. "Lis, tunggu aja disini!" perintahnya tegas.
Lisa yang sedikit kaget berbalik badan. "Dion, ihhh … lepas!" Lalu wajahnya ditekuk.
Tak lama Eza pun keluar dan menghampiri mereka. Saat pria itu baru mencapai pintu depan, Lisa telah menyongsongnya.
Sikap dingin Eza tak pernah berubah saat berhadapan dengan Lisa. Namun, wanita itu masih belum belum sadar, kalau Eza telah menolaknya berkali-kali. Walaupun terkadang mereka bertemu di kafe dan kampus, Eza hanya meladeni pernyataan Lisa seadanya.
Hari pun sudah semakin sore, kediaman Yasmin semakin sepi dari tamu. Para pekerja katering sudah mulai membereskan barang-barang mereka. Suci membantu Yasmin membawa peralatan klinik masuk lagi ke dalam. Beberapa orang warga membuka tenda dan mengumpulkan kursi-kursi. Eza dan Dion pun ikut membantu. Sedangkan tiga orang mahasiswi tadi, masih menunggu.
Yasmin melihat ke arah mereka. Tiga orang itu masih duduk di teras rumah Yasmin, dia membiarkan. Eza yang menyadari tatapan mata Yasmin, menghampiri Dion.
"Yon, Lo suruh pulang deh mereka. Ngapain diam di situ tapi nggak ngapa-ngapain," ucap Eza setengah berbisik. Raut wajahnya sedikit tidak suka.
__ADS_1
Dion pun menoleh kebelakang, melihat pada tiga wanita itu. Mereka tengah asyik mengobrol dan tertawa di sana. Orang-orang sedang sibuk bekerja, mereka malah berbuat sesukanya. Dion pun menghampiri mereka. Awalnya mereka menolak untuk pergi, terutama si Lisa, dia minta diantarkan Eza pulang. Dion akhirnya memaksa dengan berbagai cara. Entah apa yang Dion katakan, mereka pun pulang setelah berpamitan dengan Yasmin.
Tiga puluh menit kemudian, pekerjaan pun akhirnya selesai. Catering sudah dibayar, para warga yang membantu pun telah diberi upah. Sekarang hanya tinggal Yasmin, Suci, Eza dan Dion di sana.
"Eza, pulang jam berapa, nih? Gue masih ada kerjaan, Lo juga harus ke kafe, kan?"
"Bentar lagi, gue masih mau liat pacar gue." Ekor mata Eza melihat Yasmin dan Suci masuk ke dalam rumah. Dia pun pergi meninggalkan Dion begitu saja.
"Ya ampun, ni anak!" Dion menepuk dahinya. Melihat Eza gila karena cinta, membuatnya geleng-geleng kepala.
Yasmin sedang memberi arahan pada Suci, apa saja yang perlu dia kerjakan besok pagi. Namun, mata Suci terus memperhatikan wajah Yasmin.
"Yasmin, kamu kelihatan pucat, baik-baik aja, kan?" tanya Suci.
Yasmin langsung memegangi wajahnya. Dia memang merasa tidak enak setelah acara berakhir. "Masa sih, Mbak? Kepalaku memang agak pusing, sih." Yasmin memijat keningnya.
Tak berapa lama Eza pun datang. Di saat yang bersamaan, Yasmin berlari ke arah belakang.
"Yasmin!" teriak Suci yang membuat Eza mempercepat langkahnya.
"Kenapa Mbak?" tanya Eza, matanya mengekori langkah Yasmin.
"Nggak tau, Mas. Sepertinya Yasmin mau muntah, tadi terlihat mual,"
__ADS_1
Tanpa bertanya lagi, Eza langsung berlari ke belakang, diikuti oleh Suci.
...***...