Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Calon menantu


__ADS_3

...***...


Seketika Eza membelalakkan matanya, dia juga ikut terkejut karena selama ini juga tidak pernah tahu siapa Yasmin sebenarnya. Dia hanya meyakini apa yang dia tau selama ini. Yasmin janda yang baru bercerai karena pengkhianatan mantan suami. Ketika di Bali hanya itu yang dia tau. Saat mengobrol pun hanya membahas tentang hal umum dan tempat yang mereka kunjungi. Setelah dari Bali Eza tau lebih banyak, itupun tidak termasuk identitas asli Yasmin. Sedikit kecewa karena wanita itu tidak menceritakan semuanya.


Artikel tersebut berisi tentang kabar perceraian seorang pemilik perusahaan Kimia Hesa, yang kini berada di tangan Yasmin sebagai pemilik resmi—dia adalah anak seorang pendiri perusahaan tersebut—yang berkembang pesat sejak dulu sebelum orang tuanya meninggal. Yasmin sang penerus tunggal memberhentikan mantan suami saat sidang perceraiannya.


Setelah Eza memastikan dan bertanya kebenarannya pada Yasmin, wanita itu pun mengangguk pelan mengiyakan.


“Senja, aku nggak nyangka, ternyata kamu ... kenapa nggak pernah cerita sebelumnya?”


“Nanti aku jelasin, Langit.” Yasmin melirik ke arah Eza sebentar, lalu dia melanjutkan bicaranya pada Erna yang masih tercengang.


Wanita itu dia terpaku dengan pandangan kosong, dia tidak menyangka jika Yasmin yang baru saja direndahkannya, ternyata adalah pemilik perusahaan besar yang berdiri di Jakarta dan cukup terkenal di Indonesia. Erna cukup tau, karena artikel yang ditunjukkan termasuk dalam berita bisnis. Pencapaian perusahan serta kehebatan Yasmin di tulis di sana. Walau perusahaan yang memproduksi obat itu tak dikelola langsung oleh Yasmin. Namun, segala kontrak penting tetap harus melalui persetujuannya.


Yasmin langsung berpamitan pada orang tua Eza. “Karena perjanjian sudah saya tandatangani, kedepannya saya tidak akan merepotkan. Kalau begitu, saya pamit dulu, Om, Tante. Terima kasih.”


Adhitama pun mengangguk dan sempat mengucapkan permintaan maafnya atas perilaku istrinya yang tidak sopan. Yasmin dan Eza pun bergegas pergi, sedangkan Erna yang masih berdiri mematung pun terkesiap saat Adhitama menepuk lengannya.


“Ma, kenapa bengong, sih?” tanya Adhitama.


“Eh, Pa! Mana tadi mereka?” pandangan Erna mengitari sekitar seolah pingsan beberapa saat, walaupun sebenarnya dia dalam keadaan sadar, tetapi tidak tahu kapan Eza dan Yasmin pergi.

__ADS_1


“Loh, Mama ini gimana, to? Kan, mereka baru aja pamit.”


“Pa, kok dibiarin pergi, sih? Padahal, Mama mau menanyakan sesuatu.” Erna pun langsung menjatuhkan dirinya kasar di sofa panjang.


"Mau tanya apa, Ma? Belum cukup Mama memperlakukan itu di depan Yasmin? Lain kali jaga sikap Mama dengan siapa pun, paham?”


“Jadi, gimana nanti pernikahan mereka, Pa? Kan, tadi kita belum membahasnya.”


“Semuanya berantakan gara-gara Mama. Sudahlah, Papa pusing. Mama pikirin aja sendiri.” Adhitama pun gegas ke kamar, meninggalkan istrinya yang masih bingung dan termenung memikirkan semuanya. Sebelum pergi, dia sempat menyambar majalah yang tadi diributkan oleh Erna. Setelah identitas Yasmin terungkap, dia pun ingin tau lebih banyak tentang calon menantunya itu.


Erna kini masih terdiam lama di ruang tamu setelah mengetahui status asli Yasmin. Entah bagaimana dia harus bersikap selanjutnya. Dia terus menimbang-nimbang kekayaannya yang ternyata lebih kaya Yasmin dibanding dirinya. Ada sedikit rasa menyesal dan tidak enak karena sudah memakinya habis-habisan.


Sementara itu, Eza dan Yasmin meninggalkan rumah tersebut dengan senyuman lega. Setidaknya beban yang mereka harus hadapi, kini sedikit berkurang, walaupun belum jelas kapan pernikahan itu akan dilaksanakan. Mereka pulang menaiki taksi online karena Eza harus meninggalkan semua fasilitas yang sebelumnya diberikan, termasuk motor yang pada saat itu dibelikan oleh papanya.


“Senja, apa kamu bisa ceritakan yang tadi? Aku benar-benar ingin tahu, aku hanya penasaran dan tidak mengerti kenapa aku menyembunyikan identitas kamu yang sebenarnya, bahkan dari kekasihmu sendiri,” tanya Eza saat sudah berada di dalam taksi.


Yasmin pun menghela napas panjang, bukan tak ingin menjawab. Namun, dia seperti tidak ada tenaga untuk mengatakannya.


“Kenapa tidak menjawabku, Sayang? Apa kamu marah dengan sikap Mama tadi? Aku minta maaf, seharusnya memang kamu tidak mendapat perlakuan seperti itu. Mama memang kelewatan.”


“Langit, aku tidak marah. Jadi, kamu tidak perlu minta maaf. Aku sudah sangat terbiasa menghadapi orang seperti Mamamu, bukan masalah besar.”

__ADS_1


“Lalu kenapa diam? Katakanlah apa yang membebani pikiranmu, Sayang? Atau ... kamu sudah lapar?”


“Hem, sepertinya kamu mulai bisa membaca pikiranku, Langit. Kau tahu, sejak tadi aku sudah menahan lapar. Energi buat bicara aja sudah menipis,” ucap Yasmin yang direspons sebuah senyuman dan usapan lembut Eza di kepala Yasmin.


“Tentu saja aku sangat mengerti, Sayang. Sekarang, aku juga memikirkan bayi kita. Aku masih tidak menyangka, sebentar lagi aku akan jadi seorang ayah.” Eza tersenyum pada wanita di sampingnya sambil menggenggam tangan lembut itu


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sebuah restoran sederhana yang menjual makanan yang Yasmin inginkan. Kali ini, ingin sekali makan bebek goreng bumbu hitam, entah kenapa, sejak hamil Yasmin ingin mencicipi semua makanan yang bahkan belum pernah dia makan sebelumnya.


Setelah pesanan datang, wanita itu pun menikmati makanannya dengan lahap, porsi nasinya juga lebih banyak dari Eza. Lelaki itu hanya tersenyum melihat Yasmin makan banyak. Setidaknya, wanita itu tidak lagi merasakan mual dan muntah seperti beberapa minggu yang lalu. Obat penghilang rasa mual yang dokter Ana berikan selalu rutin dia minum. Itu karena dia juga harus melakukan pekerjaan dengan nyaman.


“Mau nambah lagi?” tanya Eza menatap Yasmin yang tengah mengunyah makanannya.


“Nggak. Apa kamu sengaja menawariku nasi lagi biar aku gendut?”


Eza pun tertawa. “Senja, walaupun kamu gendut, aku tidak akan berpaling. Bagiku, berada di dekatmu sekarang aja, aku sudah sangat bersyukur. Kedepannya, kita akan lalui hari-hari bersama. Jadi, aku akan terus memberimu banyak makan, biar kamu dan anak kita sehat.”


“Bukan seperti itu konsepnya, Langit, kamu pikir mengandung dalam keadaan gendut tidak akan berbahaya? Hish, sebaiknya kamu yang banyak makan, biar kamu kuat melindungiku.” Yasmin pun menggerutu dengan manja.


Setelah menyelesaikan makan malam mereka, Eza dan Yasmin pun berbincang tentang hal tadi. Yasmin begitu sabar menjelaskan bahwa dirinya hanya ingin hidup sederhana agar terhindar dari mantan suaminya itu. Namun, nyatanya kini Hilman sudah menemukannya. Yasmin juga berharap, ke depannya Eza akan bersikap sewajarnya jika ada Hilman. Selama lelaki itu tidak membahayakan nyawanya juga perusahaan peninggalan ayahnya, Yasmin akan bersikap waspada meskipun Hilman selalu dalam pantauan.


Eza pun mengerti dan sangat paham dengan penjelasan Yasmin, sebagai lelaki dan calon suaminya, Eza tetap akan memberikan perlindungan penuh pada Yasmin jika sewaktu-waktu lelaki itu akan datang, walaupun Yasmin berkata

__ADS_1


Hilman tidak akan berani macam-macam. Nyatanya Eza tidak akan pernah mempercayai hal itu setelah dia mengetahui cerita sebenarnya.


...***...


__ADS_2