Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Pacarin aja


__ADS_3

***


Hari berganti begitu cepat. Satu hari lagi, Yasmin akan melaksanakan pernikahannya dengan Eza. Hal itu membuat sahabatnya turut bahagia dan tidak sabar ingin segera mendatangi Yasmin. Dia sudah menyiapkan kado istimewa yang sudah dibungkus rapi untuk Yasmin.


Pagi belum memunculkan cahayanya, Santi masih mencoba menghubungi Fabian. Mereka harus segera berangkat setelah mengatur janji kemarin lusa. Namun, Fabian sangat sulit dihubungi. Padahal, kemarin pria itu yang paling semangat untuk ikut.


“Ah! Si Bian mana sih, susah banget di telepon,” gerutu Santi seraya terus mencoba panggilan telepon beberapa kali.


“Nih kalau sampai jam enam belum juga sampai ke sini, aku tinggal!” Santi terus mengomel seorang diri di depan rumah. Koper kecil yang sudah disiapkan pun bahkan menjadi sasaran tendangan karena kesal terhadap Fabian.


Tiga puluh menit telah berlalu dari waktu yang ditentukan. Tiba-tiba suara klakson mendadak membuatnya terkejut. Tanpa rasa bersalah, Fabian keluar dari mobilnya dan mengajak Santi untuk berangkat.


“Yuk, kita berangkat! Nanti ketinggalan pesawat.”


“Yang ada harusnya gue yang bilang gitu.” Santi berjalan menghentakkan langkahnya sambil menyeret koper mininya. “Ke mana aja sih lo, udah jam berapa nih. Lelet banget.”


Santi langsung mengunci pagarnya, sedangkan Fabian membukakan pintu mobil untuk Santi.


“Gue bukan ratu, bisa buka sendiri.” Rasa kesalnya masih menjalar hingga ke ubun-ubun karena keterlambatan Fabian.


“Udah dong, San, marah-marahnya. Lagian nikahnya kan, masih besok, kenapa harus buru-buru. Sumpah jelek banget lo kalau manyun.”


“Biarin!”


Mobil yang dikendarai oleh Fabian pun melaju dengan kecepatan sedang. Waktu pagi hari, jalanan cukup lenggang sehingga tidak ada kemacetan yang melanda. Selama perjalanan, santi bahkan memejamkan matanya karena masih mengantuk akibat bangun terlalu pagi.


Delapan jam sudah mereka lewati. Mobil hitam itu kini sudah tak berada di Jakarta. Rasa lelah Fabian mulai terasa, biasanya dia akan lebih suka naik pesawat sebagai transportasi jika perjalanan cukup jauh dan memakan waktu yang lama, tetapi keinginan Santilah yang membuatnya harus terpaksa menyetir hingga ke Jogja.

__ADS_1


Jam menunjukkan pukul dua siang. Mata Santi terbuka lebar saat sudah tiba di kota Jogja, ia begitu menikmati pemandangan jalan. Dia mulai membuka akses maps untuk menuju klinik Yasmin saat sudah dekat. Meskipun dia sudah pernah ke Jogja sebelumnya. Namun, dia memang tak begitu ingat di sebelah mana rumah Yasmin berada.


Selang beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di klinik. Santi dan Fabian turun dari mobil. Keduanya begitu lega, meregangkan tubuhnya sejenak saat menutup pintu mobil.


“Akhirnya sampai juga, capek banget.” Santi menghirup udara segar yang terempas dari pepohonan yang rimbun di depan rumah Yasmin. Tak henti-hentinya dia memuji suasana asri yang begitu dia sukai.


“Capek? Ngapain capek, duduk doang. Aku yang nyetir aja nggak ngeluh.” Fabian mengeluarkan koper yang berada di bagasinya. Meskipun hanya menginap dua atau tiga hari, bagi mereka memang wajib membawa baju ganti yang banyak. apalagi mereka juga berniat akan menghabiskan waktu menjelajahi wisata Jogja.


“Bisa diem nggak, Fab!”


Perdebatan kecil antara keduanya memang sudah biasa terjadi sejak dulu. Suci yang melihat ada mobil datang, dia buru-buru keluar untuk menyambut. Entah siapa pun yang tamunya, dia selalu bersikap ramah.


“Assalamualaikum.” Santi berjalan mendekat pada Suci yang sudah berdiri di ambang pintu.


“Waalaikumsalam. Mari silakan, Mbak dan Mas ini mau cari siapa? Dan ada keperluan apa, ya?”


“Oh, temannya Mbak Yasmin, mari-mari silakan masuk. Tapi Yasminnya sedang keluar, mungkin bentar lagi juga pulang.”


Suci mengajak Santi dan Fabian masuk ke dalam klinik. Hari ini, meski kurang satu hari lagi pernikahan Yasmin, tetapi klinik masih buka seperti biasa. Yasmin hanya akan menutup klinik itu sehari besok, agar para pasien yang datang tidak terlalu lama menunggu klinik itu buka. Apalagi jika keadaan darurat, dia pasti akan sangat merasa kasihan dan tidak tega jika ada orang kampung di sana yang membutuhkan pertolongannya.


Santi, Suci, dan juga Fabian saling mengobrol di ruang tengah seraya menunggu Yasmin pulang. Sementara Galang, sejak tadi dia sibuk di ruangannya karena kebetulan tengah ada pasien. Setelah selesai dengan pekerjaan, Galang kemudian masuk ke ruang tengah. Ikut bergabung dengan ketiga orang tersebut.


“Galang, Mbak mau bikinin minuman dulu, kamu temenin mereka dulu, ya. Mbak Santi dan Mas Fabian ini datang dari Jakarta.”


“Oh iya, Mbak.” Galang pun duduk, tanpa sengaja, dia menatap Santi yang tengah tersenyum ramah terhadapnya. Galang pun dengan refleks membalas senyumannya wanita itu dan mengulurkan tangan untuk berkenalan.


“Santi.”

__ADS_1


“Galang,” ucap Galang, kemudian dia juga menyalami Fabian.


Galang tak berhenti memperhatikan Santi, tatapnya bahkan sangat bisa terbaca oleh wanita itu. Santi mulai risi, sesaat kemudian dia langsung membalas tatapan Galang dengan sinis lalu berkata dalam hatinya. “Dasar mata keranjang! Nggak sopan banget lihatinnya. Perasaan bajuku juga nggak seksi, kenapa dia menatapku seperti itu?”


Santi lalu berdehem. “Kenapa, Mas?” tanya Santi sedikit tegas.


“San, jangan cari ribut di rumah orang.” Fabian menyenggol lengan Santi dan membisikinya. Dia tahu bahwa teman wanitanya itu sama sekali tidak suka basa basi, bahkan dengan orang asing sekali pun.


“Ah, maaf. Sepertinya saya memang kelewatan.” Sadar akan teguran Santi, Galang lalu meminta maaf. “Maaf ya, Mas, kalau saya lancang melihat pacarnya.”


Galang tersenyum merasa bersalah dan tidak enak. Tampaknya dia telah terpesona dengan aura Santi yang baginya begitu menarik.


“Mas dia bukan pacar saya kok, kita teman aja. Teman sejak SMA dulu. Pacarin aja, dia belum ada pasangan kok.” Fabian menjelaskan dengan sedikit candaan, Santi pun langsung menatap tajam Fabian karena berceloteh asal.


“Fabian, resek banget sih!”


“Ya, ya sorry.”


Galang yang mendengar hal tersebut seolah mendapat angin segar karena mendapat kesempatan untuk mendekatinya. Dia mulai tertarik dengan Santi sejak dia pertama melihatnya, penampilannya yang biasa dengan kecantikannya natural membuat jantung lelaki itu bergetar. Namun, dia tidak mau tergesa-gesa, sepertinya Santi memang wanita yang keras dan tegas, tidak seperti Yasmin yang lemah lembut.


“Oh, sedang sendiri, sudah berapa lama, Mbak?”


“Bukan urusan Anda,” jawab Santi ketus. Akan tetapi, hal itu sangat menarik untuk Galang, semakin membuatnya penasaran.


Selama ini, memang tak sedikit lelaki yang menyukai Santi. Namun, wanita itu tidak melayaninya, dia memilih untuk sendiri karena dia belum menemukan lelaki yang bisa menerimanya apa adanya. Terlebih dengan sifat tegasnya sebagai perempuan yang bahkan jarang mau mengalah.


“Sepertinya menarik, baiklah. Selama di sini, aku akan meninggalkan kesan yang tidak mungkin kamu bisa lupakan.” Galang berbicara dalam hatinya.

__ADS_1


***


__ADS_2