
Siang itu adalah jadwal pemeriksaan kandungan Yasmin. Dia ingin memastikan janinnya akan baik-baik saja selama pernikahan. Pasalnya mereka juga harus ke Jakarta setelah acara selesai. Yasmin dan Eza tidak ingin calon anak mereka terganggu dalam perjalanan.
Eza menemani Yasmin ke dokter untuk pertama kalinya. Pengalaman pertama baginya. Melihat secara langsung bagaimana janin tumbuh dalam rahim seorang wanita. Eza sangat bahagia melihat layar monitor itu. Dia benar-benar akan menjadi seorang ayah.
"Lihatlah, Langit. Itu bayi kita."
Eza tak dapat berkata-kata. Matanya yang menatap layar monitor mengembun tiba-tiba. Jadi seperti ini rasanya? Eza sama sekali tak menyangka, di usianya yang masih muda, bisa mendapat pengalaman seperti ini. Akan menjadi seorang ayah. Sejak awal dia tau bahwa Yasmin hamil, Eza sudah mempersiapkan dirinya. Namun, sekarang dia mulai mempertanyakan akan kemampuan dirinya lagi. Apakah dia sanggup untuk menjalani tanggung jawab yang besar ini?
"Langit? Kenapa diam? Kamu mikirin apa? Kamu nggak mikir yang macam-macam kan? Kamu nggak …." Yasmin tak sanggup untuk melanjutkan perkataannya. Sisi sensitifnya mulai terlihat.
"Senja, ssttt … kamu sekarang yang mikir aneh-aneh. Aku hanya bahagia, Sayang." Eza mengulum senyumnya, membelai rambut Yasmin lembut.
Ternyata Yasmin hanya khawatir secara berlebihan. Kenapa di bisa berpikiran bodoh bahwa Eza akan berubah pikiran? Hanya karena terdiam melihat gambar bayi mereka yang masih delapan minggu. Sedangkan dia tau, Eza pasti akan bertanggung jawab penuh.
Kedua interaksi dua manusia itu sedang diperhatikan oleh dokter Ana. Satu tanda tanya besar kini hinggap dalam pikirannya. Pemuda ini suami, Yasmin? Dia pikir adik yang menemani kakaknya untuk periksa. Tapi melihat kedekatan keduanya, tak menunjukkan hubungan saudara. Apakah …?
Ahh, kenapa dia jadi ingin tau urusan pasiennya. Rasa penasaran itu pun disingkirkan dari benaknya.
Sebelum mengakhiri pemeriksaan, Dokter Ana menjelaskan tentang perkembangan janin dalam rahim Yasmin. Lalu menyerahkan foto USG kepada pemuda yang dia konfirmasi adalah ayah si bayi.
"Dok, tentang itu … bagaimana? Sudah dipastikan, kan? " Yasmin sedikit ragu untuk bertanya. Pasalnya dia belum mengatakan tentang kecemasannya pada Eza.
"Saya periksa dulu, ya?"
Sementara Eza menautkan alisnya. Percakapan yang sama sekali tidak dia pahami. "Apa yang perlu diperiksa lagi?" batin Eza. Dia memandangi Yasmin yang menghindari tatapan matanya.
Eza ingin bertanya, tapi dia menahan diri. Lebih baik membaca situasi ini terlebih dahulu. Lalu Eza teringat akan kecemasan Yasmin. Mungkinkan sedang memeriksa itu? Eza pun ikut berdebar menantikan hasilnya. Satu yang Eza tangkap raut wajah Dokter Ana, sedang berkonsentrasi. Beberapa saat kemudian terlihat lega.
__ADS_1
"Tidak ada tanda-tanda apapun Mbak. Semua baik-baik saja." Ucapan Dokter Ana membuat calon ayah dan ibu bernapas lega.
Tangan Eza dan Yasmin saling bertaut, melempar senyum kelegaan. Untuk sekarang Yasmin tak perlu khawatir dengan penyakit yang mematikan itu.
"Selalu berpikir positif, Mbak. Yakin kalau Mbak akan baik-baik saja hingga lahiran. Sebab terkadang pikiran negatif akan mempengaruhi kesehatan," tutur Dokter Ana menambahkan.
Yasmin mengangguk dan tersenyum. Tentu dia tau akan hal itu. Nasehat seperti itu juga sering dia katakan kepada pasiennya. Hanya saja sebagai orang yang mengalaminya sendiri, akan terasa berbeda bukan?
"Benar kata Dokter, Senja. Jangan cemas, aku akan selalu ada untuk menemani kamu." Eza menambahkan.
Yasmin tak hentinya tersenyum. Beruntung dia memiliki Eza dalam hidupnya. Yasmin tak punya keluarga lagi. Hanya orang terdekat yang peduli padanya yang bisa membuat Yasmin tenang meneruskan langkahnya.
"Terima kasih, Langit."
***
Setelah melakukan pemeriksaan, Yasmin dan Eza langsung kembali ke klinik. Saat memasuki halaman, mata keduanya tertuju pada mobil yang terparkir. Eza melirik Yasmin seakan bertanya dari tatapan matanya. Yasmin mengedikkan bahu dan menggeleng.
"Tapi plat mobilnya kayak dari luar kota, Jakarta ya?"
Yasmin pun mengangguk. "Ya, tapi siapa?" Yasmin tak kenal mobil itu. Om Gito baru akan datang malam ini, tapi dengan pesawat. Santi juga malam ini.
Mereka pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam. Dari luar terdengar obrolan beberapa orang. Salah satu suara wanita itu Yasin kenal. Senyuman pun tersungging dari bibirnya. Yasmin berlari kecil, hingga langkahnya terhenti di ruang tengah. Eza yang mengikutinya dari belakang pun ikut berhenti. Pandangan pria itu sama-sama terarak pada tiga orang yang sedang mengobrol.
"Fabian!" Teriak Yasmin nyaring.
Seketika pria yang namanya Yasmin panggil berdiri dan menghampirinya. Kami Yasmin kembali melangkah, langsung berhamburan memeluk pria itu. Sementara Eza terdiam kaget melihat pemandangan itu.
__ADS_1
"Siapa lagi ini?" guman Eza. Wajahnya telah merah padam melihat calon istri langsung memeluk pria lain, di depan matanya.
Santi ikut memeluk Yasmin dan Fabian. Seperti mereka kembali ke masa lalu.
"Kamu kemana aja, sih? Kenapa tiba-tiba nongol di sini?" tanya Yasmin setelah mereka melepaskan pelukan.
"Santi yang paksa aku datang, padahal aku sibuk banget," ucap Fabian asal.
Santi langsung memberikan pukulan di lengan Fabian atas tuduhan itu. "Idihhh, fitnah aja lo. Lo sendiri yang minta ikut." Mata Santi nyaris keluar dari tempatnya.
"Hehehe, iya. Abis aku kangen si judes Yasmin. Udah lama juga nggak dengar omelannya." Fabian pun merangkul Yasmin tanpa izin.
"Yeeaa, cuma itu aja yang Lo ingat." Santi sudah terlihat kesal.
Yasmin hanya terkekeh melihat interaksi kedua sahabatnya itu. Sudah lama sekali dia tidak merasakan kelucuan seperti ini. Fabian selalu membuat Santi heran dan merasa sering adu mulut. Namun, itu merupakan cara mereka untuk menjalin pertemanan. Hingga kehangatan itu masih terasa sampai sekarang.
Sementara di belakang mereka. Wajah pria yang datang bersama Yasmin tampak menahan emosi. Tangannya telah mengepal merasa diabaikan keberadaannya. Eza membiarkan, dia mencoba bersabar. Dia sadar Yasmin tampak senang dengan kehadiran Santi dan Fabian. Tapi rangkulan itu, Eza tak kuasa menahan diri.
"Errmmm …." Eza menginterupsi pertemuan sahabat baik itu.
Pandangan mereka lantas berbalik ke belakang. Yasmin nampak bertingkat begitu melihat ekspresi wajah Eza. Rangkulan tangan Fabian dia turunkan perlahan, karena tatapan tajam dari Eza. Yasmin merasa bersalah.
"Langit." Yasmin melangkah, meraih tangan Eza dan menuntunnya maju. "Kenalin ini, Santi dan ini Fabian. Sahabat aku dari Jakarta," ucap Yasmin langsung memperkenalkan mereka.
Eza menyalami keduanya dengan wajah datar. Dia sudah tau Santi sebelumnya, tapi Fabian? Yasmin juga punya sahabat laki-laki?
"Sejak kapan kamu punya adik angkat, Yas?"
__ADS_1
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Fabian. Pria itu kembali merangkul Yasmin. Wajah Eza tampak berubah suram. Yasmin langsung merasakan atmosfer ruangan itu berubah gelap.
***