Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Mencintaimu sejak awal


__ADS_3

...*** ...


“Senja, kamu mau makan apa? Biar aku pesankan.” Eza memulai pembicaraan.


“Apa aja,” jawabnya singkat.


“Baiklah, aku akan memesan sesuatu yang spesial, aku yakin kamu akan menyukainya.” Eza tersenyum, dia tahu apa yang harus dilakukannya agar wanita di sampingnya itu tidak marah lagi. Dia lantas menghubungi bagian food and beverage service untuk memesan makanan, tentu saja akan ada kejutan kecil yang Eza buat saat terbesit di pikirannya.


Marah, mungkin lebih tepatnya rasa cemburulah yang bergejolak di hati Yasmin. Dia tidak tahu bagaimana harus bersikap pada Eza saat ini. Jika dipikir-pikir, tidak ada gunanya juga dia mengabaikan Eza dan bersikap cuek karena pada akhirnya Eza pasti akan semakin penasaran dengan sikap Yasmin yang dingin terhadapnya karena seorang wanita.


“Senja, sampai kapan kamu akan diam?” tanya Eza, tangan menumpu dagunya sembari menatap Yasmin lekat-lekat, sehingga membuat wanita itu salah tingkah.


“Aku tidak berniat mendiamkanmu, Langit. Buat apa?”


“Lalu, kenapa sejak tadi kamu seperti marah padaku?” Eza terus mengulik pertanyaan yang membuat Yasmin risih, karena dia pun tak tahu harus bagaimana menjawabnya.


”Look, aku mau sedikit bercerita. Jadi, aku mempunyai adik sepupu, dia begitu manja dan centil, namanya Tania. Aku sangat tidak nyaman berada di dekatnya.”

__ADS_1


“Terus? Apa hubungannya denganku?” tanya Yasmin seolah tak peduli dengan cerita Eza. Suasana hatinya memang tidak enak pagi ini, sehingga apa pun yang dilakukan Eza akan selalu salah di mata Yasmin.


“Tentu saja ada hubungannya, karena dialah yang udah buat kamu meninggalkanku tadi,” terang Eza sambil tersenyum. Dia tidak sabar melihat ekspresi Yasmin saat menjelaskan tentang Tania.


“Maksudnya?” Yasmin belum mengerti apa maksud Eza. Wanita itu mengernyitkan dahinya sambil menatap Eza penuh tanda tanya.


“Ya ... cewek yang tadi itu sepupuku. Dia selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Kalau diizinkan, biarkan aku di sini, setidaknya sampai sepupuku itu pergi,” terang Eza.


Yasmin yang mendengar penjelasan Eza pun langsung tersipu malu, pipinya memerah. Dia tak menyangka akan salah paham terhadap lelaki itu. Sekarang, Yasmin pun bingung apa yang harus dikatakannya untuk menghilangkan rasa malunya itu. Beruntung dia dapat menutupi rasa cemburunya tadi dengan sangat sempurna.


“Hem, benarkah itu sepupumu?” tanya Yasmin meyakinkan.


“Tentu saja aku jujur, nggak ada gunanya juga aku bohong. Tapi, kalau kamu tidak percaya, aku bisa menelepon salah satu temanku untuk memberi keterangan.” Eza mengeluarkan ponselnya dan berniat menghubungi salah satu temannya untuk menjelaskan siapa Tania sebenarnya.


“Hei, tidak perlu seperti itu. Aku percaya.” Yasmin lalu tersenyum.


Sebuah kelegaan baginya bisa mengetahui bahwa gadis yang bersamanya tadi hanyalah sepupunya.

__ADS_1


“Nah, gitu dong, senyum. Kan, manis. Tuan Putri kalau marah memang menyeramkan.” Eza menggoda Yasmin. Wanita itu lalu memukul manja paha Eza yang berada di dekatnya.


“Aku lapar, tadi kamu memesan apa?”


“Ada beberapa makanan, nanti kamu bisa pilih sendiri.”


“Harusnya jangan banyak-banyak, kamu yakin akan menghabiskannya?”


“Tenang saja.”


Eza terus memandangi wajah Yasmin, semburat merah di pipi wanita itu membuat Eza menyimpulkan sesuatu. Dia begitu yakin akan kecemburuan Yasmin beberapa saat yang lalu. Dia bisa membaca ekspresinya ketika Eza menjelaskan tentang Tania.


“Jangan terus menatapku seperti itu, nanti jatuh cinta!” Canda Yasmin seraya mengulas senyuman termanisnya yang berhasil membuat Eza meledakkan tawanya.


Lelaki itu menjawabnya dalam hati. “Tentu saja aku sudah mencintaimu sejak awal kita bertemu, Senja.”


...***...

__ADS_1


__ADS_2