Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Demi kebaikan


__ADS_3

...***...


Hawa dingin mulai terasa saat fajar terlihat di ufuk timur. Udara menembus pori-pori makhluk yang tengah meringkuk di atas ranjang karena kedinginan. Melihat Eza yang tampak pulas, dia tidak mungkin tega membangunkannya. Dia hanya puas memandangi wajah Eza yang tengah terpejam dan menggeliat, kemudian menyelimutinya kembali. Yasmin bangun lebih awal pagi ini, dia berniat menyiapkan sarapan untuk kekasihnya itu.


Setelah hampir satu jam Yasmin berkutat di dapur, makanan sudah siap dihidangkan di meja dengan beberapa menu. Tiba-tiba saja, ada seseorang yang datang mengetuk pintu rumah Yasmin. Dia tampak terkejut dan penasaran siapa tamu yang datang sepagi ini, dia berpikir jika tamu tersebut adalah pasiennya yang mungkin saja dalam keadaan darurat.


Yasmin membuka pintu tersebut dan mendapati lelaki yang tak asing baginya, ternyata dia adalah Pak Hasan—sopir di perusahaan Yasmin. Lelaki itu datang untuk mengantar mobil Yasmin atas perintahnya. Mengingat, dia memang akan membutuhkan armada tersebut karena kehamilannya akan semakin membesar dan tidak mungkin dia akan terus menaiki motor ke sana ke mari, terlalu berbahaya. Di samping itu, Yasmin juga ada maksud lain, dia akan membicarakannya dengan Eza mengenai hal ini.


"Ehh, Pak Hasan udah datang? Silahkan masuk dulu, Pak."


Yasmin mempersilakan Pak Hasan masuk untuk dibuatkan minuman terlebih dahulu dan istirahat sejenak karena perjalanan panjang, tetapi lelaki paruh baya itu menolaknya.


"Kanapa langsung pulang, Pak. Istirahat dulu, Pak Hasan pasti capek."


"Terima kasih, Non. Nggak usah, sore ini saya harus ke kantor."


Dia memilih untuk langsung pergi ke Jakarta karena dia harus mengantarkan berkas penting atas perintah Pak Gito. Lagi pula, dia juga sudah memesan tiket kereta api keberangkatan pagi ini.


Pak Hasan dulunya adalah supir pribadinya. Begitu Yasmin pindah ke Jogja, Pak Hasan dipindahkan ke perusahaan.


Setelah Pak Hasan menyerahkan kunci dan surat-surat mobil Yasmin, dia berpamitan untuk pergi. Wanita itu pun langsung menuju ke atas untuk membangunkan Eza.

__ADS_1


“Langit, bangun. Sudah hampir siang lo.” Yasmin berdiri di samping ranjang, mengelus pelan pucuk rambut Eza. Sesekali membelai pipi lelaki itu dengan lembut.


Eza yang mulai tersadar perlakuan lembut Yasmin, dia langsung terbangun dan mengerjapkan matanya. “Pagi, Sayang,” sapa Eza yang langsung disahut Yasmin. “Aku semakin tidak sabar ingin segera menikah denganmu, Senja. Setiap pagi saat membuka mata, aku akan melihat wajah cantikmu itu. Pasti aku akan semakin bersemangat.”


Yasmin terkekeh, dia mengulas senyuman manisnya, kemudian duduk di tepi ranjang. Wanita itu lalu dengan cepat mencium pipi Eza. “Cepat bangun, nanti Dion sama Galang keburu ke sini.”


Eza yang menerima ciuman Yasmin pun mulai terlena, dia langsung menerkam Yasmin dan membawa ke dekapannya sangat erat.


“Langit, lepasin! Bukannya bangun malah seperti ini. Nanti mereka datang kita nggak tau.” Yasmin berusaha mengurai pelukan Eza.


Semalam, saat Yasmin hendak tidur, dia tak lupa memberi kabar Galang. Memberitahu bahwa Eza ada di rumahnya, Yasmin juga menyuruh Galang dan Dion untuk ke klinik pagi-pagi, agar Dion bisa membawa motornya yang dipinjam Eza.


“Langit, mobilku baru aja datang. Rencananya, aku mau kamu memakainya untuk kuliah dan menjemputku. Apa kamu setuju? Kamu tidak keberatan, kan?”


“Senja, jika orang tau. Apa kata mereka? Ya, memang hanya beberapa orang terdekat kita saja yang tau hubungan ini, tapi aku hanya tidak enak jika mereka berpikir aku memanfaatkanmu di situasi seperti ini.”


“Langit, buang jauh-jauh prasangka burukmu itu, aku sangat mengerti. Tidak mungkin mereka berpikiran negatif ke kamu.”


Setelah memikirkan beberapa pertimbangan dan melewati perdebatan kecil, pada akhirnya Eza mau menuruti permintaan Yasmin. Meskipun, awalnya lelaki itu enggan karena merasa tidak enak hati.


Selang beberapa saat keduanya tengah menikmati sarapan. Tak lama kemudian, Dion dan Galang tiba di rumah Yasmin dengan menaiki taksi online. Yasmin menyuruhnya masuk dan mengajaknya untuk makan bersama. Wanita itu lanjut memberitahu yang Eza akan membawa mobilnya, sementara Galang diminta untuk memakai motornya. Lagi pula, sebentar lagi setelah mereka menikah, Galang akan pindah ke rumah ini.

__ADS_1


Tiga puluh menit berlalu, tepat pukul delapan Suci meninggalkan rumahnya karena anak-anaknya sudah berangkat ke sekolah. Dia langsung menuju ke klinik untuk bekerja. Biasanya di jam ini Suci sudah berada di klinik. Namun, ada pekerjaan rumah yang belum selesai, serta dia harus menyiapkan makan siang dan makan malam untuk anak-anaknya.


Saat di jalan, ada seorang wanita yang memberhentikan langkahnya, dia adalah tetangga yang rumahnya berdekatan dengan Yasmin. Wanita yang tengah membawa barang belanjaan sayur itu tampak ingin tahu kehidupan Yasmin.


Wanita itu tanpa basa-basi menanyakan soal Yasmin. Dia penasaran karena selama ini sering sekali melihat dokter tersebut didatangi oleh lelaki, dokter yang dipekerjakannya pun juga lelaki. Entah sebenarnya yang mana kekasih, mana teman atau siapa pun itu, dia merasa ingin sekali mendapat jawaban yang pasti. Padahal, tidak seharusnya hal privasi menjadi konsumsi umum. Namun, sudah menjadi tradisi jika di kampung memang selalu ingin tahu urusan orang lain.


"Maaf ya, Mbak Suci. Saya bukan bermaksud mengorek informasi. Secara Mbak Suci yang paling dekat sama Bu Dokter Yasmin." Si ibu tukang gosip berlagak seolah-olah tidak enakan.


Suci pun merasa geram karena wanita itu mulai berpikiran negatif soal Yasmin,. Sebagai orang terdekat, dia merasa tidak terima dan berhak membela. Akan tetapi, Suci menjaga sikapnya dan menjelaskan bahwa sebenarnya Yasmin memang hendak rujuk dengan mantan suaminya. Maka dari itu, tak jarang dia didatangi lelaki. Meski wanita itu tak begitu paham yang mana lelaki tersebut, tetapi dia cukup puas dengan jawaban Suci, setidaknya wanita paruh baya itu memperoleh informasi untuk menyebarkan gosip tersebut ke tetangga lainnya.


"Oo, jadi begitu ya Mbak. Kalau begini kan jelas. Saya jadi nggak mikir aneh-aneh."


"Iya, Buk. Kalau begitu saya permisi." Suci memutar bola matanya saat berbalik.


Suci memilih membohongi wanita tersebut karena risih mendengar pembicaraan para tetangga yang terus menyudutkan Yasmin. Jika Suci sudah mengatakan hal itu, maka dipastikan tidak ada lagi berita buruk tentang Yasmin di kampung itu.


Setelah sampai di rumah Yasmin, Suci masih melihat si Ibu Dokter masih belum berangkat. Mungkin hari ini agar siangan, dia lalu menceritakan semuanya pada Yasmin. Mendengar hal tersebut, Galang, Eza serta Yasmin justru malah tertawa dan menganggapnya hal lucu dan menggelitik.


"Eh, tapi makasih loh, Mbak. Saya jadi nggak pusing mikirin alasan mau pindah nanti," ucap Yasmin pada Suci yang dibenarkan Eza.


"Benar juga, aku juga nggak keberatan, Senja. Kamu di bilang rujuk sama si kunyuk itu, asal nama baik kamu masih terjaga di sini." Tambah Eza.

__ADS_1


Mereka pun tersenyum. Satu masalah telah selesai. Mereka bisa sedikit bernapas lega. Walaupun terpaksa harus berbohong demi menutupi segala hal. Ini demi kebaikan mereka bersama.


...***...


__ADS_2