Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Merasa tak dianggap


__ADS_3

...***...


Hari berikutnya di kampus ….


Pagi-pagi sekali Eza telah datang. Hari ini jadwal kuliah pagi adalah mata pelajaran Pak Arga. Eza tentu saja senang, sebentar lagi bisa melihat Yasmin di kelas. Tapi dia lupa, kalau Yasmin belum bekerja sepenuhnya di universitas itu. Hari ini malah Pak Arga sendiri yang datang mengajar. Eza pun merasa sangat kecewa, kenapa dia tak diberitahu kalau Yasmin ambil cuti. Padahal semalam mereka bertemu.


Eza merasa tak dianggap. Dia merasa Yasmin sama sekali tidak peduli padanya. Eza sudah mengirim pesan menanyakan kenapa Yasmin tak masuk hari ini. Namun, dia tak mendapat balasan apapun. Tetapi, tentu saja dia tidak menyerah. Membuat Yasmin kembali menyukainya, adalah tujuan Eza yang harus tercapai. Cepat atau lambat Yasmin harus menjadi miliknya. Yang dia butuhkan hanya usaha dan tetap sabar.


"Za, Napa muka Lo hari ini nyebelin banget sih?" tanya Dion yang seharian merasa diabaikan.


"Senja gue nggak dateng." jawab Eza malas.


"Mungkin lagi ada keperluan, Lo tunggu aja besok." Dion menepuk bahu sahabatnya itu. "Oya, hari ini Lo ke kafe kan? Gue mau mampir."


"Iya, kemarin udah ambil libur, gaji gue bisa dipotong banyak kalau libur lagi."


"Ck, ck, ck … yang rela nggak kerja demi nemenin ayang."

__ADS_1


"Hisss, udah, gue mau balik." Eza memberi satu jitakan di kening Dion sebelum pergi, yang membuat sahabatnya itu berdecak.


Keesokan harinya ….


Eza bisa bernapas lega, Yasmin akhirnya datang ke kampus. Dia bahkan datang mengajar di kelas Pak Arga. Eza mencoba mencuri pandang, memfokuskan perhatian pada Yasmin yang sedang serius menerangkan pelajaran. Dia mengeluarkan ponsel dari kantongnya.


"Senja, hari ini kamu pulang jam berapa?"


Tapi pesan itu tak di balas. Eza pun menunggu hingga Yasmin selesai bekerja.


Tampaknya dia bernasib baik hari ini. Setelah jam makan siang Yasmin izin pulang lebih cepat. Eza selalu mengawasi, jadi dia tau dengan cepat.


Lagi-lagi, Yasmin dikejutkan dengan kemunculan Eza secara tiba-tiba. Memaksanya untuk mengantarnya pulang. Eza kini menyejajari Yasmin yang tengah berjalan. Beberapa hari ini, Yasmin memang sengaja memilih naik ojek online karena lebih nyaman dan aman. Jalanan yang cukup ramai membuat Yasmin sedikit ngeri, sehingga jika dia terburu-buru, tidak terlalu gugup di perjalanan saat dibonceng oleh driver ojek.


"Senja, ayo naik!" ajak Eza seraya menghentikan motornya tanpa mematikan mesin.


"Nggak, aku udah pesen ojek online," jawab Yasmin yang masih terus melangkah ke tepi jalan raya.

__ADS_1


"Cancel aja, ayo ikut aku! Aku mau ajak kamu ke suatu tempat." Eza lantas mematikan mesinnya dan turun dari motor, mendekati Yasmin.


Yasmin sedikit mengabaikan Eza, berpura-pura acuh tak peduli. Padahal, saat ini dia begitu penasaran ke mana Eza akan mengajaknya. Di lain sisi, Yasmin kini sudah berdiri di tempat teduh dan tengah menunggunya ojek online pesanannya tiba. Mau tidak mau, dia harus menolak ajakan Eza.


"Lain kali saja, aku harus pulang," jawabnya singkat.


"Yah, jangn gitu dong! Nanti nyesel loh kalau kamu nggak mau ikut." Eza masih berusaha memaksa dan tak pantang menyerah, seberapa sering Yasmin menolak, maka dirinya akan semakin tertantang untuk memaksanya.


"Kalau nggak mau nurut, aku gendong, ya!" Ancaman Eza seketika membuat Yasmin membelalakkan matanya. Namun, sejurus kemudian ojek pesanan Yasmin datang menghampiri.


"Maaf, atas nama Bu Yasmin?" tanya seorang driver.


"Iya betul, Pak." Yasmin pun tersenyum mengejek pada Eza karena dia berhasil menggagalkan aksi nekatnya yang mau menggendong, menaikkan ke atas motor seperti waktu itu.


Yasmin pun tengah bersiap memakai helm yang diberikan driver tersebut, tetapi dengan cepat Eza merebut helm tersebut dan memberikannya kepada driver.


"Pak, maaf. Cancel aja pesanannya. Sudah ada pacarnya yang mau anter," tutur Eza serata memberikan lembaran uang merah kepada bapak tersebut. Matanya melirik ke arah Yasmin yang sedang mengerucutkan bibirnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Driver tersebut pun hanya menurut dan mengiyakan, sesaat kemudian pergi meninggalkan dua insan di sana.


...***...


__ADS_2