Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Perasaan telah menyatu


__ADS_3

...***...


Tangan Yasmin diraihnya, lalu memberi kecupan manis. Perlahan dia mengelus punggung tangan wanita itu, lalu mengecupnya sekali lagi. Eza tersenyum, dia sadar telah mencuri kesempatan disaat seperti ini.


"Senja, aku ingin memanjakan dirimu setiap hari. Melindungi dirimu, melakukan apapun yang kamu mau. Sampai sekarang kamu masih ingin menjaga jarak dariku. Jika aku tidak gigih dan sedikit memaksa, kita tidak akan sedekat ini. Kamu tau, Cinta yang aku rasakan bukan mainan. Seperti orang-orang yang mudah menyukai, bila bosan anak ditinggalkan. Aku tidak sepeti itu. Cintaku tulus, sejak aku menyadari bahwa kamu sangat berarti. Tak akan ada kata bosan untukku jika itu adalah dirimu. Aku akan memperjuangkan dirimu, Senja. Apapun yang akan terjadi. Apa kamu mau menerimaku?"


Eza mengungkapkan isi hatinya, walau Yasmin tak bisa mendengar ucapannya. Tangan wanita itu telah di kecup berkali-kali. Hal itu tak hanya sampai disitu. Eza mengiginkan lebih, dia ingin mencuri di bagian yang lain.


Pria itu kini belalih menopang badannya dengan siku. Perlahan dia mendekatkan wajah, mengarahkan bibirnya pada bibir Yasmin. Kecupan ringan dia berikan dibibir wanita itu, cukup sekali saja. Bibir Yasmin sedikit terasa panas. Dia tak ingin menganggu istirahat kekasih hatinya.


Ketika Eza hendak menjauh, tiba-tiba kedua tangan Yasmin terangkat dan melingkar di lehernya. Eza terkejut, dia lihat Yasmin masih memejamkan mata.


"Senja, kamu—"


Eza tak diberi kesempatan untuk meneruskan ucapannya. Kepala Yasmin sedikit terangkat, tangannya menekan leher Eza. Pria itu tak bisa menghindar, Yasmin membuat bibir mereka kembali bersentuhan. Kali ini bukan kecupan biasa. Yasmin membuka mulut, bergerak di atas bibir Eza secara alami. Seolah meminta sesuatu yang lebih setelah merasakan kecupan yang Eza berikan. Pria itu pun tak tinggal diam, dia membalas gerakan bibir Yasmin dengan mengerakkan bibirnya juga.


Mungkin karena demamnya, Yasmin tanpa sadar melakukan hal itu. Eza pun tak dapat menahan diri. Matanya telah terpejam menikmati sentuhan dari Yasmin. Penyatuan kedua bibir mereka pun berlangsung hingga beberapa menit. Hingga Yasmin melengguh karena sentuhan tangan Eza di dadanya. Barulah mata pria itu terbuka, dan sadar akan tindakan mereka. Eza lantas melepaskan tautan bibir mereka.

__ADS_1


"Senja, maaf … kamu sedang demam." Namun, tak ada respon dari Yasmin, dia malam kembali tidur dengan tenang.


"Ternyata kamu tidak bangun." Eza sedikit merasa kecewa. Yasmin tidak melakukan itu dengan sadar.


Akan tetapi, dia sedikit senang. Eza menyimpulkan bahwa Yasmin tidak benar-benar mengabaikannya. Perasaan mereka telah menyatu sepenuhnya. Sekarang Eza yakin akan mengungkap perasaanya sekali lagi.


Eza kemudian mengecup kening Yasmin dengan lembut. "Kenapa kamu harus membuatku susah," ucapnya seraya tersenyum. Lalu Eza bangun dan masuk ke kamar mandi.


___


Beberapa jam kemudian. Yasmin akhirnya terbangun. Dia mengerjapkan matanya, menetralisir cahaya yang masuk. Saat dia membuka mata, Eza ada disampingnya. Dan dia tidur di atas lengan pria itu. Tangan Eza melingkar di pinggangnya, begitupun sebaliknya. Yasmin tidur dalam dekapan Eza yang hangat.


"Senja, kamu bangun?"


Yasmin menoleh kebelakang, Eza tersenyum padanya. Tanpa menjawab pertanyaan, Yasmin menghindari tatapan mata pria itu.


Kemudia Eza pun bangkit, dia menempelkan telapak tangannya di kening Yasmin. "Demam kamu sudah turun."

__ADS_1


"Jam berapa sekarang?" tanya Yasmin kemudian, dia merasa gugup.


Eza meraih ponsel yang dia letakkan di samping bantal. "Jam dua belas."


Yasmin menghembuskan napas kasar. "Apa kamu bisa mengantarku pulang sekarang?"


"Tapi ini ini sudah malam, Senja. Kenapa tidak tunggu besok pagi saja?" tanyanya bingung.


"Justru karena ini sudah malam, bisa sedikit aman. Kalau aku pulang besok pagi, orang-orang akan mudah berpikir yang tidak-tidak padaku." Yasmin memberi pengertian.


"Kamu benar juga. Tapi, bagaimana denganmu? Kamu sudah baikan?"


"Aku baik-baik saja."


"Baiklah, kita pulang."


Mereka pun segera bangun dan bersiap-siap. Sepuluh menit kemudian mereka sudah meninggalkan penginapan itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2