Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Berita mengemparkan


__ADS_3

...***...


Malam itu setelah mengantar kepergian Eza dan Galang ke depan pintu. Yasmin langsung menghampiri Suci yang sedang membersihkan ruangan tunggu pasien. Suci, wanita yang sudah dianggap seperti kakak, seperti sangat mengerti dengan keadaannya. Rahasia tentang hubungannya dengan Eza benar-benar dijaga sangat baik oleh Suci. Ketika ada warga yang memulai gosip, Suci akan langsung turun tangan untuk membantah.


“Udah, Mbak … nggak usah terlalu berlebihan bersihinnya. Mbak Suci udah capek seharian,” ucap Yasmin setelah melihat Suci yang mengelap meja dengan semangat.


“Nanggung, Yas. Ini tadi ada tumpahan es di atas meja. Kalau nggak dibersihin bener-bener bisa lengket besoknya.” Suci melanjutkan pekerjaanya.


“Ya udah … Nanti kalau udah selesai, Mbak langsung pulang aja. Nggak usah ngerjain yang lain lagi, kasian loh anak-anak Mbak nungguin di rumah.”


“Oke,” jawab Suci singkat dengan isyarat tangannya.


“Oya, seperti biasa ya Mbak, makanan di dapur Mbak boleh bawa pulang. Yang punyaku udah disimpan di kulkas.”


Suci mengangguk mengerti. Beberapa hari ini, Eza selalu datang membawa banyak makanan untuknya. Yasmin tidak sanggup jika harus menghabiskan sendiri. Setiap hari selalu ada dua atau tiga menu yang berbeda. Daripada harus dibuang, kan sayang. Makanan itu bisa jadi sarapan anak-anak Suci besoknya. 


Ketika Yasmin akan berlalu untuk naik ke kamarnya. Langkahnya terhenti dengan panggilan suci yang tiba-tiba. Yasmin berbalik melihat ke arahnya wanita itu. Suci mendekat padanya.


“Ada apa Mbak?” tanya Yasmin lembut.


“Begini, Yas. Untuk bayaran Mbak minggu depan … Mbak boleh minta dimuka nggak?”


Yasmin berpikir sejenak. Sepertinya  Suci sedang dalam masalah keuangan. Padahal dua hari lalu dia sudah menerima Gaji, Mungkin untuk keperluan sekolah anaknya masih kurang. Mungkin juga karena mantan suaminya tidak memberi uang cukup untuk kedua anaknya. Yasmin memang memberi bayaran sekali seminggu untuk Suci, karena memertimbangkan hal ini.


“Mbak Suci lagi butuh uang?” tanyanya kemudian dijawab anggukan kepala ringan. 


“I–Iya, Yas. Untuk biaya sekolah anak-anak. Bapak mereka tidak memberi uang sama sekali dua bulan ini.” 


Benar saja, Mbak Suci pasti sangat kesulitan. Ternyata mantan suaminya mengingkari tanggung jawab untuk menafkahi anak mereka. 


Suci melanjutkan ucapannya. “Maaf, Yasmin. Mbak malah minta hal seperti ini di saat kamu sedang banyak pengeluaran untuk pernikahan. Tapi Mbak juga nggak tau harus gimana lagi.” Suci tertunduk dengan wajah kasian.  

__ADS_1


Yasmin bisa melihat bagaimana kesulitannya seorang ibu tunggal membesarkan dua orang anak. Terlebih lagi melihat wajah Suci dengan rasa bersalah meminta gaji lebih awal darinya. Suci tidak tau jika uang tidak akan masalah baginya, wanita itu belum tau seberapa kayanya Yasmin. 


“Nggak apa-apa, Mbak … nggak usah sungkan begitu. Mbak Suci, ikut aku ke atas yuk?” Ajak Yasmin.


Suci pun mengikuti langkah Yasmin naik ke lantai dua. Raut wajahnya terlihat sedikit berseri karena Yasmin mau membayar gajinya di awal.


Yasmin keluar dari kamar menghampiri Suci yang duduk menunggunya di sofa. Dengan sebuah amplop di tangan kanan dan menenteng satu kantong plastik di tangan kirinya. 


Yasmin menyerahkan keduanya pada Suci. Amplop itu cukup tebal, entah berapa uang yang ada didalamnya. 


"Kenapa rasanya tebal banget, Yas? Dan ini apa?" Suci tanpa ragu bertanya. Dia merasa aneh karena amplop yang diterima jauh lebih tebal dari biasanya. 


"Aku cuma lebihin sedikit Mbak, buat anak-anak Mbak Suci." 


Suci membuka amplop tersebut. "Yasmin, ini terlalu banyak, nanti uang kamu habis buat aku aja," ucap Suci setelah menghitung ada tiga puluh lembar uang seratus ribuan. Biasanya bayarannya hanya sejuta tiap Minggu. Itu juga Suci merasa Yasmin sudah banyak memberinya. Tapi kini Yasmin memberinya tiga kali lipat. Suci malah berpikir Yasmin bisa bangkrut karenanya. 


Yasmin terkekeh mendengar penuturan Suci. "Nggak lah, Mbak … Mbak Suci jangan khawatir soal keuanganku."


"Kamu kaya ya?" tanya Suci polos.


"Loh, kok malah ketawa. Pertanyaan Mbak lucu?"


"Bukan Mbak … maaf, aku seharusnya kasih tau dari awal. Aku bukan bermaksud sombong, Mbak. Sebenarnya aku punya usaha yang lumayan besar di Jakarta. Mbak Suci tau, kan, kenapa aku pindah kesini. Itu semua karena mantan suamiku. Usaha di Jakarta aku serahkan ke orang kepercayaan."


Suci manggut-manggut mendengar penjelasan Yasmin. Entah karena dia paham atau hanya sekedar mengangguk saja. Yang jelas Suci sangat mengerti Yasmin buka orang yang sombong. 


"Ternyata, selain cantik, baik, pintar, kamu juga kaya raya!" Suci kembali berseru. "Tapi, aku merasa nggak pantas menerima uang sebanyak ini, apalagi kita baru sebulan lebih kenal."


"Mbak Suci pantas, kok. Yang satu juta bayaran Mbak Suci minggu depan. Sisanya buat anak-anak, murni hanya untuk membantu."


"Makasih banyak, Yasmin. Mbak sangat bersyukur bisa kenal sama kamu."

__ADS_1


"Sama-sama Mbak. Jangan ragu buat minta bantuan apapun, jika aku bisa pasti akan ku bantu. Oya, ini aku punya beberapa pakaian, jika Mbak Suci nggak keberatan makai bekas aku, tapi ini masih bagus banget. Aku udah nggak bisa pakai, bentar lagi perutku buncit kayak balon." Kelakar Yasmin membuat mereka tertawa.


Sekali lagi Suci mengucapkan terima kasih. Kebaikan Yasmin akan diingat Suci sampai kapanpun. 


___


Hari pernikahan semakin dekat, Yasmin dan Eza sibuk mempersiapkan segalanya. Masalah surat-surat, baju pengantin, makanan, serta tempat acara kecil-kecilan untuk teman-teman mereka. Pernikahan ini memang hanya sederhana, tapi Yasmin ingin membuatnya sangat berkesan.


Tanpa sepengetahuan Eza, Yasmin berencana akan membooking kamar hotel untuk malam pertama mereka setelah pernikahan. Yasmin tak ingin melewati hal ini, walau Eza sudah mengatakan kalau mereka tidak perlu berbulan madu untuk waktu sekarang. Yasmin mengerti, Eza ingin memberinya bulan madu dengan usaha sendiri. Namun, dia juga ingin melakukan sesuatu untuk menyenangkan kekasih yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


Yasmin membaringkan tubuhnya di atas kasur setelah seharian melakukan kegiatannya. Perutnya yang masih datar diraba serta senyuman manis. Dia bergumam sendiri, mengajak calon buah hatinya mengobrol, wajah wanita itu terlihat sangat bahagia. Mengingat sebentar lagi akan menikah untuk kedua kalinya, serta akan menjadi seorang ibu. Yasmin merasa hidupnya mulai sempurna. Dia jauh merasa lebih bahagia daripada saat menikah dengan Hilman dulu.


Ketika dirinya tengah asyik dengan pikiran sendiri, tiba-tiba ponselnya berdering. Yasmin mencari keberadaan benda pipih itu, kemudian mengangkat panggilan dari Santi—sahabatnya.


"Halo, San!"


"Yasmin! Gila … kamu kenapa nggak bilang kalau Hilman abis datangin kamu!" 


Santi terdengar berteriak, Yasmin sampai menjauhkan jarak ponsel dari telinganya.


"Memangnya kenapa, San?"


"Hilman tiba-tiba kasih tau media massa kalau dia lagi proses rujuk sama kamu. Alasannya karena kamu lagi hamil anaknya. Dan sekarang wartawan lagi nyari kamu kerumahku. Nanyain alamat kamu, karena rumah lama kamu kosong!"


Yasmin langsung terduduk setelah mendengar penuturan Santi. Kenapa Hilman bisa sampai mengatakan hal itu pada wartawan? Yasmin langsung terdiam tanpa kata. Dia berpikir keras tentang berita ini.


"Yas! Yasmin! Kamu dengar nggak?"


"Iya, San. Aku dengar."


"Kenapa kamu nggak ngasih tau? Sekarang orang-orang taunya kamu hamil anak Hilman, mereka pasti buat berita ini heboh. Bagaimana kalau Eza tau, dan orang tuanya juga?" 

__ADS_1


Semua itu bisa saja terjadi. Dia akan kembali masuk berita karena posisinya di perusahaan. Wartawan tentu saja akan senang mendapatkan berita yang mengejutkan ini. Setelah perceraiannya yang menghebohkan, berita rujuk akan lebih menggemparkan. 


...***...


__ADS_2