
...***...
Sebuah kenyataan yang mengejutkan tentunya. Siapa yang bisa menebak dengan tepat melihat penampilan seperti Yasmin. Wanita ini terlihat sangat muda, wajahnya jauh dari perkiraan usia yang sebenarnya. Termasuk Eza yang salah menebak. Dia memang kaget, tapi hal itu sama sekali tak mengubah perasaannya.
“Kamu pasti berubah pikiran, Langit. Sejak awal seharusnya kita tak perlu saling mengenal. Sudah benar kita berpisah waktu itu. Tapi kenapa kita dipertemukan lagi sekarang. Kamu seharusnya melupakan aku.” Yasmin tertunduk, dia sudah akan menangis.
Penuturan Yasmin membuat Eza menyipitkan matanya. Sedikit marah dengan perkataan yang terakhir. Mana mungkin dia melupakan seorang wanita yang membuatnya jatuh cinta. Eza meraih tangan Yasmin dan membawanya duduk.
Eza mengangkat wajah Yasmin yang tertunduk dengan mencubitnya. Lalu menelisik wajah wanita itu dari kiri ke kanan, atas dan bawah. Eza tampak serius, dan Yasmin kebingungan. Entah apa yang dilakukan Eza saat ini.
Yasmin menepis tangan Eza begitu saja. “Kamu sedang melihat seberapa tua aku?”
“Aku tidak melihat ada yang tua dari wajahmu,” ucap Eza santai.
“Aku sudah tua! Aku memang pantas jadi tante-tante,” tutur Yasmin menunjukan wajah tidak senangnya.
__ADS_1
“Maksud kamu apa, Senja? Kenapa kamu bisa berkata seperti itu? Kau tahu, bagiku umur bukan masalah besar. Jika aku sudah mencintai seseorang, dan itu kamu, maka satu pun tidak akan mengubah perasaanku padamu. Jadi jangan pernah sekali pun berpikir aku akan berubah hanya karena hal kecil seperti ini. Paham?” Eza melipat tangannya di dada, sedikit mendengus.
Yasmin sedikit heran dengan reaksi Eza. Dia tidak berpikir Eza akan berkata seperti itu. Sebuah perbedaan yang mungkin akan menjadi permasalah bagi masyarakat ramai.
Yasmin menatap tajam mata Eza. Pria itu tersenyum tipis padanya. “Hal kecil? Menurut kamu ini hal kecil? Langit, jika ini hanya hal kecil. Kenapa raut wajahmu tadi langsung berubah saat aku mengatakannya. Kamu tidak bisa membohongiku!” Seru Yasmin
“Hei, jangan sok tau, Senja. Jangan menyimpulkan semuanya sendiri!” Eza terkekeh dan mencubit hidung Yasmin.
Wanita itu malah mendengus. “Hisss.” Lalu mengusap hidungnya. Bukan karena marah. Tapi aksi Eza selalu membuatnya kaget.
“Jangan menghinaku!” Yasmin pun melirik sinis, menyunggingkan alis juga mengerucutkan bibirnya.
Wajah gemas itu mampu menarik perhatian Eza. Lelaki itu kemudian refleks memeluk tubuh Yasmin tanpa permisi sambil mengulas senyumannya. Rasa lega karena telah mengungkapkan perasaannya pada Yasmin terlihat jelas di wajah Eza. Sebelum dia memantapkan jawaban Yasmin, dia sudah sangat bisa membaca apa yang dirasakan Yasmin. Apalagi wanita itu juga sudah jujur jika saat di Bali, dia mempunyai perasaan yang sama. Hal itu membuat Eza begitu bahagia, ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Pelukan itu diterima Yasmin, tak peduli saat ini dimana mereka berada. Tetapi yang jelas pergerakan mereka tidak terlihat dari umum karena gerai tersebut tertutup jejeran lukisan yang memenuhi tempat itu.
__ADS_1
"Langit, lepas. Nanti ada orang yang lihat, nggak enak." Sesaat setelah merasakan pelukan hangat Eza, Yasmin mendorong tubuh mereka menjauh.
"Senja, aku sangat bahagia sekarang. Ternyata kamu juga menyukaiku, terima kasih." Eza meraih tangan Yasmin, lalu mengecupnya.
“kamu nggak risih? mencium wanita tua?” tanya Yasmin tiba-tiba.
Eza mengerutkan keningnya. “Risih? Kita bahkan baru saja berciuman di bibir. Kamu juga menikmatinya.” Senyum pria itu, dia menantikan reaksi Yasmin.
“Kapan kita berciuman?” tanya Yasmin bingung.
“Di penginapan kemarin. Kamu yang memulai duluan,” jawab Eza santai. Dia tau Yasmin pasti tidak mengingat kejadian itu.
“Yang benar saja!” Yasmin terkejut menutup mulutnya. “Jadi itu bukan mimpi?” Tanya Yasmin dalam hati.
Yasmin tidak menyangka. Demamnya tempo hari bisa membuatnya berhalusinasi. Sekarang dia penasaran, apa mereka juga mereka melakukan lebih daripada itu?
__ADS_1
***