Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Persiapan


__ADS_3

...***...


Sekarang pikiran Eza masih terngiang dengan kejadian memalukan yang dilakukan mamanya tadi. Dia sudah mengira Yasmin pasti akan diterima dengan baik. Karena kepribadian Yasmin mampu mengambil hati siapa saja. Namun, ternyata mamanya sendiri yang menjatuhkan harga dirinya di depan calon istri. Baginya seorang pria tidak harus menuntut istri yang haus punya segalanya. Sebab dalam pernikahan, prialah yang akan memberikan segalanya pada istri.


“Sayang, soal Mama ... aku minta maaf ya. Dan akhirnya kita malah gagal membicarakan pernikahan.” Eza menunjukkan ekspresi putus asanya.


“Langit, mau berapa ratus kali kamu minta maaf? Aku kan sudah bilang kalau aku nggak masalah, aku juga nggak sakit hati sama Mama kamu, dia juga akan jadi mamaku, bukan?” Yasmin tersenyum.


“Hati kamu terbuat dari apa sih, Sayang. Pantes banyak yang menyukai kepribadianmu. Tapi, aku lebih beruntung karena pada akhirnya aku bisa memilikimu.”


“Jangan ngegombal terus, aku hampir bosan mendengarnya, Langit.”


Eza pun terus menatap lekat wanita yang ada di depannya. Yasmin duduk bersender di kursi dengan memegangi perutnya. Rencana pernikahan harus mereka pikirkan sendiri sekarang.


“Senja, aku rasa kita sebaiknya menikah secepatnya. Kalau bisa minggu depan, status kita sudah berganti suami istri. Nanti biar aku yang urus semua. Dan aku punya satu permintaan. Kali ini, aku harap kamu mau menurutiku.” Eza memulai pembicaraan yang lebih serius. Untuk masalah biaya, tentu saja dia akan menggunakan tabungannya.


“Baiklah, aku setuju, lagi pula lebih cepat lebih baik.” Yamin mengangguk. “Permintaan, apa itu?” lanjutnya.


“Setelah menikah nanti, aku mau kita tinggal serumah. Kamu tidak keberatan, kan?” tanya Eza. Dia berpikir tidak akan tenang jika tinggal terpisah dengan istrinya nanti. Wajib baginya untuk melindungi dan berbagi hidup dengan wanita yang akan menjadi ibu dari anaknya itu.


“Bukan permintaan yang sulit, lagipula siapa juga yang tidak ingin tinggal bersama suami.” Yasmin tersenyum genit. “Tapi, aku nggak mau tinggal di rumah klinik, Langit. Aku nggak mau jadi bahan gunjingan, sebaiknya nanti aku cari kontrakan lain.”


“Hem, baiklah, terserah kamu, Sayang. Apapun yang membuatmu nyaman, aku akan berusaha mewujudkan. Terima kasih sudah mau hidup bersamaku, aku pasti akan berusaha membahagiakanmu.”

__ADS_1


Eza mengantar Yasmin pulang ke rumah sebelum dia kembali ke kosnya. Namun, saat sampai di depan rumah Yasmin, ada mobil yang tengah terparkir di halaman. Eza dan Yasmin saling melempar tatapan sebelum wanita itu turun. Yasmin pun mengembuskan napas kasar saat tahu yang datang Hilman. Eza yang tak asing dengan mobil itu, dia memutuskan turun dan ikut dengan Yasmin menemui Hilman.


Hilman menjelaskan kedatangannya di rumah Yasmin malam-malam begini—untuk memastikan bahwa dia akan mendapat pekerjaan di perusahaan Yasmin lagi. Meski keberadaan Hilman tak nyaman karena ada Eza, tetapi dia tak mau mengajaknya ribut, mengingat dia harus jaga sikap di depan Yasmin. Bisa-bisa wanita itu akan menggagalkan rencananya untuk memberikan pekerjaan yang dia harapkan.


Yasmin menyuruh Hilman untuk besok kembali ke Jakarta dan menemui Pak Gito untuk masalah kerajaan barunya. Tak terbesit dalam pikirannya sama sekali untuk mendapatkan pekerjaan yang posisinya sangat berbanding terbalik dengan jabatannya sebelumnya. Akan tetapi, Yasmin juga belum mengatakan di bagian apa Hilman harus mengisi posisi.


Keesokan harinya, Eza dan Yasmin menjalani rutinitasnya seperti biasa. Di kampus layaknya dosen dan mahasiswa, sedangkan di luar, mereka tampak mesra meski harus sembunyi-sembunyi. Akan tetapi, mereka sangat menikmati hal itu. Bagai suatu hubungan dengan berbagai tantangan.


Eza selalu rutin menghubungi papanya untuk berbicara soal pernikahan. Lelaki itu mau pernikahan tersebut dipercepat. Dia juga sempat pulang untuk meminta tanda tangan kedua orang tuanya sebagai surat izin menikah.


Erna yang merasa tidak enak dengan Eza pun hanya mengikuti permintaan anaknya yang tengah meminta izin darinya. Sudah dipastikan dia akan merestui hubungannya dengan Yasmin kalau tau Yasmin adalah seorang wanita hebat. Namun, dia gengsi untuk mengakui persetujuannya karena sudah terlanjur menunjukkan sikap tidak suka di awal.


“Pa, Ma … pernikahan Eza akan diadakan hari Jum’at depan. Jika Papa dan Mama bersedia datang, Eza sangat bersyukur. Pernikahan diadakan dengan sederhana aja kok. Eza tidak mampu mengadakan pesta apapun, tabungan eza tidak cukup. Lagipula, jika ada pesta, Mama pasti tidak akan setuju.”


“Terserah kamu aja. Yang penting jangan ada yang tau soal pernikahan ini. Belum saatnya.” Erna masih dengan sikap arogannya.


Eza hanya menjawab seadanya ucapan Erna. Dia tak ingin lagi berdebat. Melihat sikap Erna, Eza sudah cukup mengerti kalau pernikahannya belum bisa diungkapkan ke orang banyak untuk waktu yang lama. Walau identitas Yasmin telah terungkap dan mamanya sudah bisa menerima.


___


Tiga hari setelahnya.


Yasmin dan Eza telah menemukan rumah kontrakan untuk mereka tempati setelah menikah nanti. Sedangkan rumah kliniknya, Yasmin meminta Galang uang pindah kesana. Setelah ini dia akan menyerahkan klinik pada Galang.

__ADS_1


Yasmin juga sudah mengabarkan hal ini kepada Santi, dan dia sangat mengharapkan sahabatnya itu bisa datang. Satu orang lagi yang akan Yasmin beri tau adalah Pak Gito, sekaligus akan menjadi saksi dalam pernikahannya. Setidaknya ada satu orang dari wakil dari perusahaan yang tau akan pernikahannya.


Pernikahan mereka hanya akan dihadiri segelintir orang saja. Sahabat terdekat Eza dan Yasmin yang tau tentang hubungan mereka. Tidak ada pesta, hanya syukuran kecil-kecilan. Tapi satu masalah ini yang masih jadi pertimbangan mereka.


"Kita nggak mungkin ngadain syukuran di rumahku atau di rumahmu, Langit. Jadi terima saja tawaranku." Yasmin masih mencoba membujuk Eza atas permintaannya.


"Tapi kalau di hotel bintang lima, aku juga nggak sanggup, Senja." Eza


"Aku yang akan membayarnya. Ayolah, terima ya?" renggek Yasmin manja.


"Tapi aku sudah janji akan mengurus semua soal pernikahan. Masa harus minta kamu yang bayar?" Eza merasa lebaran harus menggunakan uang Yasmin untuk hal ini.


"Langit, kamu nggak minta. Aku sendiri yang mau. Lagipula pernikahan ini untuk kita berdua, aku juga harus turut andil dalam hal ini. Kamu udah keluar tabungan untuk rumah kita tinggal. Aku tau kamu ingin bertanggung jawab penuh. Tapi, please jangan tolak aku kali ini. Anggap saja sebagai rasa terima kasih pada orang-orang yang telah mendukung kita selama ini."


Mendengar perkataan Yasmin, Eza berpikir lama. "Baiklah, kalau kamu maunya gitu."


Yasmin benar, Eza juga merasa mereka harus berterima kasih pada semua orang. Akhirnya mereka mencapai kesepakatan.


"Terima kasih, Langitku." Yasmi mengecup pipi Eza dengan cepat.


"Sama-sama, Senjaku." Eza membalasnya dengan kecupan di kening.


...***...

__ADS_1


__ADS_2