Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Bisa bahaya


__ADS_3

...***...


Kekaguman Fabian pada Yasmin sudah dimulai ketika mereka pertama kali bertemu. Kala itu, mereka bertemu di acara ulang tahun Yasmin yang ke delapan tahun. Orang tua Fabian dan orang tua Yasmin baru mulai membangun bisnis bersama. Kebetulan Fabian seumuran dengan Yasmin, mereka senang bisa membuat kedua anak-anak mereka bisa berteman.


Yasmin dulu gadis kecil pemalu dan tidak banyak bicara. Fabian secara ajaib bisa membuat Yasmin tertawa dan mereka akhirnya menjadi dekat. Namun, mereka harus berpisah karena perceraian orang tua Fabian. Anak laki-laki itu terpaksa harus ikut ibunya ke kampung halaman—Bandung.


Setelah Fabian lebih besar, dia memutuskan untuk sekolah di Jakarta dan tinggal lagi dengan ayahnya. Yasmin dan Fabian akhirnya kembali bertemu di sekolah menengah atas, satu kelas. Lambat laun, rasa kagum pada Yasmin dulunya, berubah menjadi rasa suka dan akhirnya Fabian benar-benar memantapkan hatinya bahwa dia telah jatuh cinta pada gadis itu.


Namun, dewa cinta tidak pernah berpihak padanya. Fabian tidak pernah beruntung mendapatkan kesempatan untuk mengejar Yasmin. Contohnya setelah perceraian Yasmin. Dia tidak punya waktu untuk mencari wanita itu. Karena dia sibuk mengurus perusahaan induk ayahnya. Sebagai anak tunggal, dialah yang akan memiliki perusahaan. Flash media—yang bergerak dibidang periklanan. Yang kini telah berkembang atas kerja keras Fabian.


“Kapan dia akan menikah, San? Boleh aku datang?” tanya Fabian kemudia. Dia melupakan sejenak rasa sesak di dadanya.


Kalau itu ... aku nggak berani mutusin sih. Harus tanya Yasmin dulu, tapi kalaupun aku tanya, Yasmin pasti akan bilang nggak masalah kalau kamu datang.” Santi membenarkan ucapan.


“Ya, pastilah. Yasmin memang baik, hanya saja dia tidak bisa menjadi milikku.” Wajahnya dibuat ditekuk kecewa.


“Woi, jangan terus berharap!” Santi menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Fabian yang tampak melamun, sudah bisa ditebak saat ini dia pasti membayangkan wajah Yasmin.


“Baiklah, nanti saat pernikahan tiba, aku akan mengajakmu. Tapi aku punya syarat.” Santi melanjutkan ucapannya.


Dia sangat yakin, pertemuan Fabian kembali dengan Yasmin akan ada adegan emosional yang terjadi. Terlebih Yasmin, masih merasa bersalah dengan penolakannya beberapa tahun yang lalu. Fabian memang sudah bersikap biasa saja, menyembunyikan perasaan dengan baik. Namun, persahabatan mereka yang panjang tidak akan kaku seperti baru mengenal.


“Kenapa harus pakai syarat?” Fabian mengernyitkan dahinya keheranan.


“Syaratnya, janji kamu nggak bakal bikin ulah atau apa pun itu, kamu hanya datang untuk ikut merayakan kebahagiaannya dan mengucapkan selamat. Paham?” Santi memperingatkan. Fabian biasa lengket dengan Yasmin jika bertemu, hal itu akan menimbulkan masalah dengan Eza nantinya.


“Apa kamu tidak mempercayaiku, San? Apa aku pernah berbuat aneh-aneh?” Fabian tampak lesu menghela napas kasar.


“Ya, ya aku percaya. Nanti aku kabarin kalau mau ke Jogja.”


Setelah puas mengobrol. Santi pun berpamitan pulang lebih dulu, sedangkan Fabian masih berada di restoran tersebut dengan satu gelas minuman yang menemaninya. Kesendiriannya kali ini bukanlah sesuatu yang mudah baginya, sosok lelaki yang tampan dan juga baik, dia sangat hati-hati memilih wanita yang akan menjadi pendampingnya. Terlebih, wanita sekarang banyak yang hanya menyukai harta dibanding rasa cinta, sehingga Fabian begitu malas menanggapi wanita di luaran sana. Menjadi seorang pemilih bukanlah sesuatu yang memalukan.


Yasmin, ya hanya itulah yang selama ini bernaung dalam hati kecilnya. Di saat beranjak dewasa, dia tidak berani mengungkapkan perasaannya hingga pada akhirnya Yasmin menikah dengan Hilman, dia hanya bisa ikhlas. Namun, saat dia bercerai dengan Hilman dan berusaha untuk mencari informasi tentang Yasmin pada ayahnya—Gito. Lelaki itu justru diminta untuk bersabar dan sebaiknya fokus dulu pada perusahaannya. Tetapi nasib baik tidak pernah muncul di hadapannya. Keinginan untuk memiliki Yasmin tidak pernah terwujud.

__ADS_1


Kini, dia kembali menjadi sosok lelaki yang menyedihkan, hilang sudah kesempatan untuk memiliki Yasmin. Asa hanyalah angan, dia hanya berusaha ikhlas menerima takdir yang sudah digariskan.


"Fabian, dasar pria menyedihkan." Gumamnya dalam hati, lalu tertawa sumbang sendiri.


***


"Za, lo udah mau nikah sama Bu Yasmin. Kenapa masih kerja di sini?"


Eza mendongak setelah Aldo menyentuh bahunya. Tidak banyak pelanggan datang malam itu, jadi dia bisa santai dan chatting dengan calon istrinya. Eza tak pernah absen menanyakan kabar Yasmin dan calon bayi mereka. Setiap waktu setiap ada kesempatan. Bentuk perhatian kecil yang bisa dia berikan kepada orang terkasih.


"Memangnya kenapa? Gue masih punya banyak kebutuhan." Eza kembali fokus pada layar ponselnya.


"Tapi Bu Yasmin tajir loh. Bisa aja lo minta penuhi semua kebutuhan dari Bu Yasmin." Aldo berseloroh. Dia sengaja menggoda sahabatnya itu.


Eza melempar kain lap yang terselip di kantong apron-nya "Lo pikir gue apaan? Brondong yang suka menguras harga tante-tante? Gue cowok jadi gue yang harus nafkahin dia, bukan sebaliknya. Lagian gue bentar lagi mau jadi suaminya. Gue semakin nggak berhak meminta apa yang dia punya," ucap Eza sedikit kesal.


Aldo terkekeh dibuatnya. Eza bukan bukan tipe yang seperti itu, semua sahabatnya tau itu. "Waahh, salut gue sama lo. Kirain dapat janda kaya udah enak hidup lo."


"Jadi lo udah siap nih, jadi suami dan jadi ayah?"


"Siap lah."


"Yakin lo, Za? Tanggung jawabnya besar loh?"


"Gue tau tanggung jawabnya besar. Gue harus hadapi seberat apapun itu. Kalau lo cowok baik, lo pasti ngerti lah."


"Kepedean amat sih lo, ngaku cowok baik."


"Lah, emang gue baik. Kenapa? Mau membantah?" Eza sedikit melotot. "Bilang aja lo iri, bentar lagi gue bakal ngeduluin lo." Eza tertawa puas.


"Diiihh, siapa juga yang iri. Gue masih mau menikmati masa muda gue. Nggak mikirin nikah dulu."


Ketika mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba suara seorang perempuan menyapa.

__ADS_1


"Haii, guys … siapa yang nikah?"


Eza dan Aldo terlonjak kaget. Lisa yang entah datang dari mana, bertanya seperti itu. Apakah gadis itu mendengar percakapan mereka? Eza dan Aldo saling pandang. Lisa sangat susah ditangani. Jika masalah Eza sampai ketahuan oleh Lisa. Bisa bahaya, satu kampus bakalan gempar.


"Kenapa bengong? Kalian lagi ngobrolin apaan sih?"


Eza memberi isyarat pada Aldo. Buat Lisa diam jika obrolan mereka sampai ketahuan. Eza malas meladeni makhluk yang satu itu.


"Eehh, Lis. Kapan Li datang? Lo dengar apa aja, Lis?"


"Baru aja. Gue denger Lo bilang nikah, Do. Siapa yang mau nikah?" Lisa mengulangi pertanyaannya.


Wajah kedua pria itu terlihat lega. Untung saja Lisa tidak mendengar.


"Ya gue lah … tapi nanti, kalau gue udah sukses." Aldo menjawab.


"Oo." Hanya jawaban singkat yang gadis itu berikan, lalu beralih pada Eza. "Za, temenin gue nongkrong yuk!" Gadis itu selalu kecentilan.


Eza yang cuek seperti biasa tak mempedulikan. "Gue lagi kerja."


"Tapi kafe kan lagi sepi, temenin gue bentar aja. Gue suntuk nik sendirian." Lisa merengek.


"Gue nggak bisa." Eza langsung bangkit hendak meninggalkan gadis itu.


Lisa yang sudah kesal selalu diabaikan pun marah. "Za, kenapa sih Lo selalu cuekin gue. Lo nggak pernah mau gue ajak jalan. Padahal lo tau kan, gue suka sama Lo?"


Eza sudah bosan selalu menghindar. Ujung-ujungnya pasti Lisa tak pernah kapok untuk mengejarnya. "Trus kalau Lo suka ke gue. Gue juga harus suka lo juga gitu? Gue harus jalan sama Lo juga gitu?" tanya Ez agak peduli.


"Jalan ama Bu Yasmin aja Lo mau. Kenapa sama gue nggak mau?"


Eza tersentak. Lisa tau sesuatu?


...***...

__ADS_1


__ADS_2