Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Tidak terima penolakan


__ADS_3

...***...


Selang beberapa menit kemudian. Yasmin akhirnya keluar dari kamar mandi. Wajah wanita itu pucat pasi. Dia keluar dengan sebagian wajah basah dan memegangi perutnya. Eza langsung menyambut dan memapah, Yasmin terlihat sangat kelelahan.


"Kamu nggak apa-apa, Senja?" Eza sangat merasa khawatir.


"Emm … sepertinya aku masuk angin."


"Biar kubantu." Eza merangkul pundak wanita itu. Menahannya agar lebih stabil saat berjalan.


Yasmin menoleh pada Eza, jarak mereka sangat dekat. "Tidak usah, aku bisa jalan sendiri," tolaknya ingin mendorong tangan Eza.


Eza terlihat tidak senang. Tatapannya cemas serta sedikit marah dengan penolakan Yasmin. "Sudah seperti ini kamu masih menolak bantuan dariku? Aku tidak terima penolakan! Kamu seperti ini, gimana aku bisa diam?"


Tanpa berpikir lagi. Eza membungkukkan badannya, memposisikan tangan kiri di belakang lutut Yasmin. Sedangkan tangan kanannya telah siap menopang.


Hal itu sontak membuat Yasmin kaget. "Haahhh, kamu mau apa?"

__ADS_1


"Membawamu ke tempat tidur!" jawab Eza seraya mengangkat tubuh wanita itu. Eza menggendongnya ala bridal style.


"Ehhh ... Langit!" Yasmin reflek mengalungkan kedua tangannya ke leher Eza, dia tak dapat menolak lagi.


Perlahan tubuh Yasmin didudukannya di tempat tidur. Kemudian mengambil cangkir teh di nakas. Eza menyentuh pinggiran cangkir, teh itu sudah dingin.


"Tunggu sebentar, aku akan ambilkan teh yang baru, berbaringlah dulu," pinta Eza kemudian.


"Langit, tunggu. Pakaianmu juga basah. Kamu juga bisa masuk angin."


"Terima kasih," ucapnya lirih.


"Senja, berapa kali harus ku beritahu. Jangan ucapkan terima kasih. Kamu adalah bagian dari hidupku. Menjagamu sudah menjadi bagian dari tanggung jawabku. Setelah ini aku nggak mau dengar lagi kamu bilang terima kasih, mengerti, Senjaku." Eza membungkuk hingga wajahnya berada di depan wajah Yasmin, mereka bertatapan.


Yasmin merasa sangat gugup. "Ba–baiklah."


"Good, aku suka wanita penurut." Eza mengulas senyuman manis, lalu Yasmin membalasnya dengan senyuman tipis. Dengan santai dia keluar dari kamar. Yasmin pun kembali berbaring.

__ADS_1


Debaran jantung Yasmin tiba-tiba meningkat, wajahnya terasa sedikit panas. Dia memegang kedua pipi dan merasakannya. "Apa-apa ini? Seperti anak ABG aja!" gumam wanita itu.


Perhatian Eza membuatnya susah untuk membuat pria itu menjauh darinya. Hampir tidak mungkin. Mereka akan terus bertemu di kampus. Kecuali Yasmin pergi diam-diam dari kota itu. Tetapi, dia harus kemana lagi? Yasmin sudah terikat janji dengan profesor Ali. Dia juga sudah terlanjur membeli rumah, mengurus izin praktek, dan itu akan selesai dalam tiga hari lagi.


___


Jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Eza bolak balik menecek ponselnya. Sebelumnya dia sudah meminta izin kepada bos pemilik kafe, jika dia ingin izin lagi, akan ada teman yang menggantikan dirinya. Eza sudah meminta bantuan pada Dion untuk menggantikan jika ada hal mendesak. Sekarang dia hanya perlu mengkonfirmasi pada bos kafe dan Dion.


Disebelahnya, Yasmin telah tertidur lelap. Yasmin terkena demam, karena masuk angin. Eza tak berani meberi obat sembarangan, jadi dia hanya mengompres kening Yasmin dengan handuk kecil yang dia pinjam pada pemilik penginapan. Setiap lima menit, Eza membasahkan handuk dengan air dingin dan mengeringkannya. Lalu menempelkannya lagi pada kening Yasmin.


Hujan pun sudah berhenti dari setengah jam yang lalu. Jika mereka pulang sekarang, tidak akan sampai larut malam sampai di kota. Namun, kondisi Yasmin sekarang seperti ini. Mereka terpaksa harus menginap di sana.


Eza ikut membaringkan tubuhnya. Menopang kepalanya dengan tangan kanan dan mengahadap ke arah Yasmin. Pandangannya tak pernah lengah dari wajah cantik wanita itu. Dia mengangkat tangan kirinya dan membelai perlahan pipi Yasmin. Menyentuh rambut dan menyisir dengan jari.


"Kapan kamu akan menjadi milikku, Senja." Eza menghela napasnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2