Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Merasa bersalah


__ADS_3

...***...


Selang beberapa menit, dia mendengar pintu diketuk. Dia terpaksa bangun, mungkin Eza yang datang. Perlahan dia berjalan ke arah pintu, lalu membukanya.


Eza terpaku begitu melihat Yasmin hanya berbalutkan handuk. Wajah wanita itu terlihat pucat, membuat Eza sangat cemas. "Senja, kamu baik-baik saja?"


"Aku sedikit pusing," jawab Yasmin lemah.


"Aku bawakan teh hangat dan hairdryer untuk mengeringkan rambutmu." Eza memperlihatkan benda yang ada di tangannya.


"Masuklah." Yasmin membiarkan Eza menutup pintu. Dia tak peduli lagi jika pria itu melihat tubuhnya yang hanya memakai handuk. Dia terlalu lemah untuk memikirkan itu.


Yasmin duduk dan bersandar pada kepala ranjang. Lalu menyelimuti kakinya yang dingin. Eza masih mengenakan pakaiannya yang basah. Yasmin memperhatikan Eza yang meletakkan barang bawaannya di meja.


"Senja, minum teh hangat dulu." Pinta Eza menyerahkan cangkir teh di tangannya.

__ADS_1


"Terima kasih." Yasmin menyesap sedikit teh hangat itu. Kemudian meletakkan kembali ke nakas, Eza membantunya.


Eza merasa sedikit bersalah. Karena dirinya mengajak Yasmin keluar, wanita itu jadi sakit seperti ini. "Kamu perlu obat, aku akan mencarinya di luar."


Wanita itu menggeleng lemah. "Nggak perlu, tidur sebentar juga akan hilang."


"Biarkan aku mengeringkan rambutmu dulu, setelah itu kamu bisa istirahat."


"Baiklah."


Saat rambut Yasmin sudah kering, Eza hendak berpamitan pada Yasmin untuk keluar kamar. Namun, dia seperti tak tega melihat Yasmin tengah meringkuk dengan selimutnya. Eza pun melangkah mendekat lagi, mengurungkan niatnya untuk membuka pintu tersebut.


“Senja, apa kamu keberatan jika aku menemanimu di sini? Aku hanya khawatir dengan kondisimu,” ucap Eza seraya mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.


“Terserah kamu saja.” Yasmin menjawab dengan singkat. Sekarang ini, dia sama sekali tak ada kesempatan untuk berpikir negatif atau apa pun itu. Dia hanya ingin tidur.

__ADS_1


“Baiklah aku akan disini, menjagamu sampai benar-benar keadaanmu membaik. Jika kamu mau sesuatu, bilang aja. Nggak usah sungkan.”


“Emm, terima kasih,” Yasmin mulai memejamkan matanya. Eza duduk bersandar di kepala ranjang sisi lain, dia terus menatap wajah Yasmin yang sedang tidur di sampingnya. Lelaki itu terus meraih tangan Yasmin untuk digenggamnya. Tangan wanita itu terasa sangat dingin, membuat Eza semakin merasa bersalah. Kalau saja dia tidak mengajaknya pergi, mungkin Yasmin tidak akan kehujanan dan menggigil seperti ini.


“Maafkan aku, Senja. Cepatlah sehat, agar aku bisa menatap wajah manjamu lagi. Aku tidak tega melihatmu lemah seperti ini.” Eza berkata lirih, tetapi tak ada sahutan dari Yasmin karena wanita itu ternyata sudah terlelap.


Hampir setengah jam kemudian, Yasmin mengerjapkan matanya. Dia langsung duduk dan segera berlari ke kamar mandi. Entah apa yang terjadi, refleks Eza pun menyusulnya. Menghampiri Yasmin yang sudah masuk ke kamar mandi tanpa mengunci pintu. Wanita itu memuntahkan isi perutnya di toilet, lambungnya serasa seperti diaduk.


“Senja, kamu kenapa?” Eza terlihat panik, dia mengelus kepala Yasmin yang tengah berjongkok.


“Keluarlah, jangan di sini. Kamu tidak lihat aku sedang muntah. Jorok sekali kamu mau melihatnya.” Yasmin yang sadar akan kehadiran Eza pun langsung mengusirnya.


“Nggak, aku akan tetap di sini. Aku akan menolongmu sebisaku.”


“Please, keluarlah!” Yasmin mendorong pelan tubuh Eza. Mau tidak mau lelaki itu keluar. Namun, dia masih menatap Yasmin dari celah pintu yang akan ditutupnya. Dia seperti tidak tega melihat Yasmin sedang menderita di dalam sana.

__ADS_1


...***...


__ADS_2