Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Rasanya aneh


__ADS_3

...***...


Eza berangkat mencari sup merah sesuai permintaan Yasmin. Dia sama sekali tak kesulitan mencari lokasi penjual tersebut karena terletak di beberapa titik dari posisinya sekarang. Dia pun membeli satu porsi untuk dibungkus. Membelikan makanan untuk sang kekasih menjadi hal yang cukup menyenangkan untuk Eza karena dia merasa berguna dan dibutuhkan oleh Yasmin. Setelah selesai, Eza pun gegas kembali ke rumah Yasmin untuk mengantarkan sup tersebut.


Sesampainya di rumah Yasmin, Suci menyambut Eza di teras depan. “Loh, Mas Eza kok balik lagi, apa ada yang ketinggalan?”


“Enggak, Mbak. Ini tadi Sen ... Bu Yasmin minta tolong untuk dibelikan sup merah.” Eza selalu keceplosan saat menyebut nama Yasmin dengan panggilan Senja.


“Oalah, ya sudah masuk aja, Yasmin di dalam, Mas.” Suci tersenyum.


Eza pun melenggang masuk menemui Yasmin.


“Senja, ini aku sudah dapat supnya, cepat dimakan, nanti dingin nggak enak,” tutur Eza seraya memberikan sebungkus yang masih panas.


“Cepat sekali.” Yasmin berdiri menyambut kedatangan Eza.


“Apa perlu aku bantu menyiapkannya?”

__ADS_1


“Tidak perlu, aku bisa sendiri.” Yasmin lalu bergegas menuju dapur untuk mengambil mangkuk.


Eza menatap Yasmin yang sedang menuangkan sup tersebut ke dalam mangkuk. Kuah panas berwarna merah tampak mengepul begitu Yasmin memindahkan di mangkuk. Sup dengan sayuran wortel juga kubis terlihat begitu menggoda , ditambah lagi ayam yang dipotong kasar, membuat aroma segar sup itu semakin menggoda perut yang sedang lapar.


“Kamu hanya beli satu? Bukankah kamu juga belum makan, Langit?" Yasmin bertanya saat melihat hanya ada satu bungkus sup yang dibawa Eza, sedangkan dia mengambil dua buah mangkuk.


"Aku belum begitu lapar, Senja. Melihatmu makan saja nanti aku pasti kenyang.” Eza tertawa sedikit menggoda Yasmin. Lelaki itu memang tak begitu suka sup merah yang beli di luar.


Tak lama kemudian, Yasmin menyantap sup tersebut, Eza menopang dagu dengan tangannya, memperhatikan Yasmin yang tengah makan. Satu suapan berhasil ditelannya, tetapi setelah dua kali menyendok, Yasmin merasa aneh dengan rasa sup tersebut. Sebelumnya Yasmin memang pernah makan sup merah saat di Jakarta. Namun, rasa sup yang dia bayangkan begitu jauh dengan ekspektasinya.


“Aneh bagaimana, Senja? Kamu tidak menyukainya?”


“Rasanya seperti amis, ayamnya seperti belum terlalu matang, atau ... entahlah aku tidak tahu. yang jelas aku nggak suka sama supnya.” Yasmin sedikit merasa mual setelah mencicipinya, tapi masih bisa dia tahan.


Eza pun mencicipi sup tersebut, walau dia tidak begitu suka, tapi Eza berpikir bahwa sebenarnya tidak ada masalah, daging dan kuahnya tidak ada masalah, hanya saja tidak seenak dari yang biasa sia makan.


Setelah menyuapnya satu sendok ke mulut, Eza berkata, “Senja, tidak ada yang aneh dengan sup ini. Tapi, kalau kamu tidak menyukainya, aku bisa membelikan lagi di tempat lain.”

__ADS_1


“Apa kamu tidak keberatan?” tanya Yasmin yang merasa tidak enak karena harus menyuruh Eza untuk pergi membeli lagi.


“Mau seribu kali kamu menyuruhku, aku akan memenuhinya, Tuan Putri." Eza beranjak berdiri dan kembali mencarikan pesanan kekasih hatinya itu.


Setelah kepergian Eza ada beberapa pasien Yasmin yang datang untuk berobat. Wanita itu melayaninya dengan ramah dan penuh kasih, tak lupa tujuannya sejak awal, bahwa dia membuka klinik tersebut juga berniat untuk membantu warga sekitar, sehingga dia hanya menerima pembayaran obat dengan harga miring. Bahkan, jasanya dia gratiskan.


Tiga puluh menit kemudian, Eza datang dengan membawa sup merah yang dibeli di kedai lain. Kali ini dia begitu yakin Yasmin akan menyukainya karena sup tersebut sangat mempunyai banyak pelanggan—membuktikan bahwa sup tersebut banyak yang menyukai. Kebetulan Yasmin masih melayani satu pelanggan, sehingga Eza menunggunya di ruang tunggu pasien. Setelah tidak ada lagi pengunjung, Yasmin lalu menemui Eza dan menyuruhnya untuk masuk.


“Langit, maaf karena aku sudah sangat merepotkanmu,” ucap Yasmin sembari menerima bungkusan sup merah dari tangan Eza.


"Senja, aku tidak suka kamu selalu mengucap kata maaf dan terima kasih, apa yang aku lakukan semuanya memang sudah kewajibanku sebagai pacar. Kamu bahagia, akupun akan lebih bahagia. Cukup balas semua ini dengan senyuman manismu, maka semuanya akan lunas.” Eza tersenyum dan mengusap pelan kepala Yasmin.


Yasmin begitu bahagia mendapat perlakuan manis dari Eza. Biasanya dia akan sedikit merasa aneh jika kepalanya diusap seperti itu, dia bukan anak kecil yang imut. Hanya saja Yasmin tak menunjukkan sikap tidak sukanya. Tetapi, perasaan kali ini berbeda, dia malah sangat senang dianggap seperti anak kecil.


"Aneh." Batinnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2